Menulis Opini yang Disukai Editor Media Online: Strategi Penting agar Tulisan Dimuat
Pendidikan dan Literasi | 2026-01-15 17:16:45Menulis opini tidak cukup hanya dengan memiliki pendapat. Banyak naskah yang ditolak bukan karena idenya lemah, tetapi karena tidak relevan, tidak terstruktur, atau gagal meyakinkan editor. Agar opini dapat dimuat di media online, penulis perlu memahami bahwa tulisan opini adalah perpaduan antara ketajaman gagasan, kekuatan argumen, dan strategi penyajian
Langkah pertama adalah memilih isu yang aktual dan berdampak luas. Media cenderung mengutamakan topik yang sedang hangat dibicarakan publik atau memiliki relevansi sosial yang kuat. Opini yang tidak berhubungan dengan konteks kekinian akan mudah terpinggirkan, sebaik apa pun cara penulisannya.
Selain isu, sudut pandang menjadi kunci utama. Editor tidak mencari kumpulan gagasan yang sudah banyak ditulis orang lain. Opini yang menarik adalah yang menghadirkan perspektif baru, kritik yang beralasan, atau solusi konkret. Sudut pandang yang tajam membuat tulisan memiliki identitas dan daya tarik tersendiri.
Paragraf pembuka harus kuat dan langsung pada inti permasalahan. Pembukaan yang bertele-tele sering membuat editor kehilangan minat sejak awal. Fakta singkat, data relevan, atau pertanyaan kritis dapat menjadi “kail” yang efektif untuk menarik perhatian pembaca.
Argumen yang disampaikan perlu ditopang oleh data dan referensi yang kredibel. Opini tanpa dasar fakta cenderung dianggap subjektif dan lemah. Data bukan untuk mendominasi tulisan, melainkan untuk memperkuat logika dan meningkatkan kepercayaan terhadap gagasan penulis.
Struktur tulisan juga menentukan kelayakan naskah. Artikel opini idealnya disusun secara runtut: pemaparan masalah, analisis, lalu penegasan sikap atau solusi. Alur yang jelas memudahkan editor dan pembaca memahami arah pemikiran penulis.
Bagian penutup harus meninggalkan kesan. Kesimpulan yang kuat tidak hanya merangkum isi tulisan, tetapi juga menegaskan posisi penulis atau mengajak pembaca berpikir lebih jauh. Penutup yang lemah sering membuat keseluruhan tulisan terasa datar.
Tak kalah pentingnya, penulis perlu memahami karakter media yang dituju. Setiap media memiliki gaya bahasa, panjang tulisan, dan segmentasi pembaca yang berbeda. Menyesuaikan gaya penulisan dengan media menunjukkan keseriusan dan profesionalisme penulis di mata editor.
Terakhir, jaga keaslian dan kerapian naskah. Plagiasi, kesalahan teknis, dan bahasa yang tidak efektif menjadi alasan umum persetujuan. Menulis opini adalah proses belajar yang berkelanjutan; konsistensi dan evaluasi dari setiap penolakan justru akan mempertajam kualitas tulisan.
Ringkasnya, opini yang disukai editor adalah opini yang relevan, tajam, berdasarkan data, terstruktur, dan orisinal.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
