Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mohammad Fatih Shaleh

Romantisme 'Konservatif' The Adams

Curhat | 2026-01-22 13:35:25

Mendengarkan lagu Konservatif dari The Adams rasanya seperti memutar ulang kaset pita lama di sore hari yang cerah. Ada nuansa hangat yang langsung menyergap telinga, membawa kita kembali ke masa-masa di mana jatuh cinta itu rasanya murni sekali. Lagu ini bukan sekedar soundtrack wajib anak indie atau pengiring film Janji Joni semata, tapi lebih mirip surat cinta buat kita yang kadang lelah dengan rumitnya hubungan masa kini.

Judulnya memang terdengar berat, tapi maknanya justru sangat manis dan sederhana. Di sini, kata konservatif tidak ada kesamaan politik atau aturan yang kaku. The Adams justru memakai kata itu untuk menggambarkan gaya bercinta yang old school alias kuno dalam artian terbaik. "Bayangkan seseorang yang mendekatimu tanpa trik, tanpa kode-kode membingungkan di media sosial, dan tanpa permainan tarik-ulur yang bikin pusing. Dia cuma seseorang yang berdiri tegak menawarkan hatinya apa adanya, dengan gaya yang mungkin dianggap kaku tapi penuh ketulusan".

Liriknya mencerminkan keberanian yang lugas. Saat Ario menyanyikan baris tentang gayanya yang konservatif, dia sebenarnya sedang mengakui kebenaran. Di era di mana orang sering takut berkomitmen atau sekadar bilang sayang, lagu ini dengan entengnya bilang kencanlah denganku, jadi pacarku . Permintaan itu terdengar begitu to the point, polos, dan justru itulah yang membuat hati meleleh. Rasanya seperti diajak pacaran gaya lama, di mana kepastian itu lebih penting daripada sekadar tebar pesona.

Secara musik, The Adams membungkus perasaan ini dengan distorsi gitar yang renyah dan harmoni vokal yang membuat merinding. Nadanya ceria tapi menyimpan sedikit rasa rindu yang nyelip di dada. Mendengarnya membuat kita merasa muda lagi, seolah sedang naksir seseorang diam-diam di koridor sekolah. Musik mereka berhasil menangkap momen deg-degan itu, momen di mana dunia rasanya hanya milik berdua dan masalah terbesar kita hanyalah bingung mau ngajak jalan ke mana malam Minggu nanti.

Pada akhirnya, lagu ini selalu relevan karena jauh di lubuk hati, kita semua sebenarnya merindukan cinta yang konservatif. Kita rindu hubungan yang tidak neko-neko, yang lurus, setia, dan sederhana. Adams mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang semakin berisi dan serba cepat ini, punya seseorang yang mencintai kita dengan cara yang tenang dan klasik adalah kemewahan yang sesungguhnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image