Gen Z tidak Malas, Mereka Hanya tidak Mau Dieksploitasi
Info Terkini | 2026-01-09 18:26:20
Label “generasi malas” kerap disematkan kepada Generasi Z. Mereka dianggap terlalu sering mengeluh, tidak tahan tekanan, dan kurang loyal terhadap pekerjaan. Namun, benarkah Gen Z malas bekerja? Atau justru mereka sedang menolak sistem kerja yang tidak adil dan cenderung eksploitatif?
Generasi Z tumbuh di tengah akses informasi yang sangat luas. Mereka melihat langsung bagaimana generasi sebelumnya bekerja keras, lembur tanpa batas, namun tetap kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Dari pengalaman itu, Gen Z belajar satu hal penting: kerja keras saja tidak selalu menjamin kesejahteraan. Maka, wajar jika mereka lebih kritis dalam memilih pekerjaan dan mempertanyakan sistem yang merugikan pekerja.
Salah satu bentuk yang sering disalahartikan sebagai kemalasan adalah sikap Gen Z yang menolak lembur tanpa bayaran, menuntut kejelasan job desk, serta berani keluar dari lingkungan kerja yang toksik. Padahal, tuntutan tersebut bukanlah hal berlebihan, melainkan bagian dari hak dasar pekerja. Menolak dieksploitasi bukan berarti tidak mau bekerja, melainkan ingin bekerja secara adil dan manusiawi.
Selain itu, Gen Z justru dikenal adaptif dan kreatif. Banyak dari mereka memilih jalur karier non-konvensional seperti menjadi content creator, freelancer, atau membangun usaha kecil secara online. Mereka tidak terpaku pada konsep “kerja kantoran dari jam 9 sampai 5” sebagai satu-satunya definisi produktif. Produktivitas bagi Gen Z tidak selalu diukur dari lamanya waktu bekerja, tetapi dari hasil dan keseimbangan hidup yang diperoleh.
Namun, realitas di lapangan sering kali belum ramah bagi generasi muda. Upah rendah, kontrak kerja tidak jelas, beban kerja tinggi, serta minimnya jaminan kesejahteraan masih menjadi persoalan utama. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika Gen Z lebih selektif dan enggan bertahan di pekerjaan yang tidak memberi kepastian masa depan. Jika sistem kerja masih timpang, menyalahkan pekerja muda justru mengaburkan akar masalah yang sebenarnya.
Stigma malas terhadap Gen Z juga sering muncul karena perbedaan nilai antar generasi. Jika generasi sebelumnya menganggap bertahan di satu pekerjaan selama puluhan tahun sebagai bentuk loyalitas, Gen Z memandang fleksibilitas dan kesehatan mental sebagai prioritas. Perbedaan ini seharusnya dipahami sebagai perubahan zaman, bukan sebagai kemunduran etos kerja.
Pada akhirnya, Gen Z bukan generasi yang anti-kerja, melainkan generasi yang pro-keadilan. Mereka ingin dihargai, dilibatkan, dan diperlakukan secara layak. Mereka mau bekerja keras, asalkan kerja keras itu tidak dimanfaatkan oleh sistem yang tidak berpihak pada pekerja.
Mungkin yang perlu dipertanyakan bukanlah “mengapa Gen Z tidak mau bertahan?”, tetapi “mengapa banyak tempat kerja belum layak untuk dipertahankan?”. Selama eksploitasi masih dianggap wajar, selama upah tidak sebanding dengan beban kerja, dan selama kesejahteraan pekerja belum menjadi prioritas, maka kritik dari Gen Z seharusnya dilihat sebagai peringatan, bukan sebagai tanda kemalasan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
