Hari Ini, Bukan Nanti
Khazanah | 2026-01-14 10:15:17
Salah satu kegelisahan manusia modern adalah kecenderungan menunda hidup. Banyak orang merasa aman dengan keyakinan bahwa masih ada waktu esok hari untuk memperbaiki diri, berbuat baik, atau menata ulang makna hidup. Padahal, waktu tidak pernah benar-benar bisa dijanjikan. Kita hidup di tengah paradoks: hari ini tersedia sepenuhnya, tetapi justru sering diabaikan demi bayangan masa depan yang belum tentu datang.
Dalam tradisi Islam, kegelisahan ini telah lama mendapat perhatian serius. Nabi Muhammad SAW mengingatkan manusia agar memandang dunia layaknya seorang musafir, bukan pemilik tetap. Pesan tersebut bukan ajakan untuk menjauhi dunia, melainkan seruan agar manusia tidak terperangkap dalam ilusi panjangnya usia. Hidup tidak diukur dari berapa lama rencana disusun, tetapi dari sejauh mana hari ini dimaknai dan diisi dengan kebaikan.
Realitas sosial menunjukkan bahwa budaya menunda telah menjadi kebiasaan yang nyaris dianggap wajar. Amal saleh ditangguhkan dengan alasan kesiapan materi, ibadah dilonggarkan dengan dalih kesibukan, bahkan perbaikan diri kerap menunggu momen yang dianggap “lebih tepat”. Padahal, penundaan yang berulang perlahan membentuk karakter lalai. Yang tampak sepele hari ini, bisa berubah menjadi penyesalan yang berat di kemudian hari.
Pesan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang masyhur—agar tidak menunggu pagi ketika sore dan tidak menunggu sore ketika pagi—mengandung filosofi hidup yang sangat relevan. Hidup tidak berada di masa lalu yang telah berlalu, juga bukan di masa depan yang belum tentu ada. Hidup sepenuhnya berlangsung hari ini. Kesadaran ini mengubah cara seseorang memandang waktu, amal, dan tanggung jawab diri.
Jika hari ini dipahami sebagai satu-satunya kepemilikan manusia, maka kualitas hidup pun mengalami pergeseran. Ibadah tidak lagi ditunaikan sekadar rutinitas, melainkan menjadi persembahan terbaik karena bisa jadi itulah yang terakhir. Shalat diupayakan khusyuk, bacaan Al-Qur’an dihayati dengan tadabbur, dan dzikir tidak sekadar diucapkan, tetapi diresapi. Kesalehan tidak diproyeksikan ke masa depan, melainkan dihadirkan di saat ini.
Lebih jauh, kesadaran hidup hari ini juga berdampak pada relasi sosial. Ketika waktu dipahami sebagai sesuatu yang sangat berharga, maka menunda kebaikan kepada sesama menjadi hal yang sulit diterima oleh nurani. Mengulurkan bantuan, menyapa dengan akhlak yang baik, atau sekadar menunjukkan empati tidak lagi menunggu kesempatan ideal. Sebab, kesempatan terbaik selalu bernama hari ini.
Islam bahkan memberi peringatan keras tentang bahaya menunda amal. Hadis Nabi yang diriwayatkan Muslim menggambarkan bagaimana fitnah dan ujian dapat datang tiba-tiba, mengubah keyakinan seseorang dalam waktu singkat. Pesan ini menegaskan bahwa kesempatan berbuat baik tidak selalu tersedia dalam kondisi yang sama. Menunda amal bukan hanya soal kehilangan waktu, tetapi juga mempertaruhkan keselamatan iman.
Dalam kehidupan praktis, penundaan sering disamarkan dengan alasan rasional. Seseorang menunggu lebih sehat untuk beribadah lebih baik, menunggu lebih lapang untuk bersedekah, atau menunggu lebih tenang untuk berubah. Namun, sakit, sempit, dan gelisah justru sering datang tanpa permisi. Kematian sendiri tidak pernah bernegosiasi dengan rencana manusia. Ia datang tepat waktu menurut ketetapan-Nya, bukan menurut kesiapan manusia.
Karena itu, gagasan “saya hanya hidup hari ini” bukanlah pesimisme, melainkan strategi spiritual. Dengan cara pandang ini, manusia terdorong membagi waktunya dengan lebih bijak. Setiap jam menjadi ladang amal, setiap menit menjadi peluang perbaikan, dan setiap detik bernilai untuk mendekat kepada Allah. Hidup tidak lagi dipenuhi beban masa lalu atau kecemasan masa depan, tetapi kesadaran penuh akan saat ini.
Kesadaran tersebut juga membantu manusia membersihkan batin. Sifat-sifat yang merusak seperti riya, ujub, takabur, dan prasangka buruk tidak diberi ruang untuk tumbuh, karena energi diarahkan pada perbaikan diri hari ini. Demikian pula, nilai-nilai keutamaan ditanamkan secara sadar melalui tindakan nyata, bukan sekadar niat yang terus tertunda.
Pada akhirnya, hidup hari ini adalah kunci kebahagiaan yang sering terabaikan. Ia mengajarkan syukur atas rezeki yang diterima sekarang, kesabaran atas ujian yang sedang dihadapi, dan kesungguhan dalam amal yang bisa dilakukan saat ini. Ketika manusia berhenti menunda kebaikan dan mulai menghidupi hari ini sepenuhnya, di situlah hidup menemukan maknanya yang paling jujur.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
