Ketika Media Sosial Kehilangan Empati: Refleksi Komunikasi Digital
Eduaksi | 2026-01-13 12:48:19Media sosial kini menjadi ruang utama komunikasi digital dengan interaksi yang berlangsung sangat cepat melalui komentar, pesan singkat, dan berbagai bentuk respons daring. Namun, di balik intensitas tersebut, tidak sedikit pengguna mengalami salah paham hingga kelelahan emosional. Keterbatasan komunikasi berbasis teks—tanpa intonasi suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh—membuat pesan mudah ditafsirkan secara keliru. Kondisi ini diperparah oleh budaya komunikasi instan yang mendorong respons cepat tanpa refleksi yang memadai.
Fenomena tersebut dapat dipahami melalui Teori Komunikasi Hati yang menekankan bahwa komunikasi berawal dari olah pikir dan olah rasa. Cara seseorang mengelola emosi akan memengaruhi bagaimana pesan disampaikan dan diterima oleh orang lain. Komunikasi yang tidak disertai kesadaran emosional cenderung bersifat defensif dan memicu konflik, sedangkan komunikasi yang dilandasi empati berpotensi menciptakan interaksi yang lebih sehat. Dengan meningkatkan kesadaran emosional dalam berinteraksi, media sosial dapat menjadi ruang komunikasi yang tidak hanya aktif, tetapi juga lebih manusiawi dan bermakna.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
