Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Diana Rahayu

Paradoks Demokrasi: Ruang Kritik Kreator Digital yang Kian Menyempit

Curhat | 2026-01-13 09:39:11

Aneh, di atmosfer demokrasi yang kabarnya menjamin kebebasan, nyatanya ia tak lagi aman bagi kebebasan para kreator digital, tatkala menyapa pemerintah melalui konten kritiknya. Kabar tentang teror dan intimidasi beberapa content creator dan influencer yang kritis terhadap kebijakan penguasa hari ini, membuka paradoks tentang demokrasi.

Para content creator diteror dalam berbagai bentuk teror yang mengerikan. Mulai dari ancaman fisik, vandalisme, doxing, peretasan digital, bom molotov, kiriman bangkai ayam, hingga intimidasi yang menyasar keluarga korban. Sebut saja DJ Donny yang rumahnya dilempar bom molotov oleh 2 orang tak dikenal dinihari. Beruntung, api bom molotov yang dilempar dan mendarat tepat di bawah mobilnya padam. Andai api bom molotov tersebut masih menyala, maka bisa dibayangkan akan terjadi ledakan dan kebakaran, yang bisa jadi akan membahayakan seluruh rumah warga disekitarnya. (www.bbc.com 1/1/2026). Teror lain juga menimpa influencer cantik dan cerdas Sherly Annavita. Ia mengalami vandalisme dengan coretan di mobil pribadinya serta lemparan telor di depan rumah. (mediaindonesia.com 31/12/2026).

Spekulasi Pembungkaman Ruang Kritik Rakyat

Aksi teror dan intimidasi yang dialami banyak aktivis dan influencer kritis, terutama pasca mereka bicara tentang lambannya penanganan bencana Sumatera, kini bergulir menjadi sebuah spekulasi pembungkaman ruang kritik oleh penguasa. Benarkah demikian? Logikanya, jika setiap laporan teror tak kunjung mendapat kejelasan penangkapan pelaku, tentu framing akan mengerucut pada klonklusi telah terjadi kekerasan negara untuk membungkam suara rakyat.

Pada faktanya, teror adalah upaya untuk menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan (KBBI). Jika teror selalu terjadi pada rakyat (content creator, influencer maupun aktivis) setelah ia menyampaikan kritik terhadap kebijakan penguasa, maka rakyat akan mudah menyimpulkan bahwa rezim yang berkuasa anti kritik dan melakukan pembungkaman.

Sebuah sistem yang berjalan bersama penguasa anti kritik, menunjukan bahwa sistem tersebut adalah sistem otoriter, yaitu sistem yang memaksakan kehendak, tanpa mau menerima nasihat dari rakyat. Meskipun pada realitasnya hari ini, gejala anti kritik disinyalir terjadi pada sistem demokrasi, hal tersebut makin menjadi bukti bahwa yang sistem yang dijalankan adalah demokrasi otoriter.

Penguasa Islam Tak Alergi Kritik

Seharusnya, seorang pemimpin adalah pelindung dan pengayom siapa saja yang dipimpinnya. Ibarat penggembala, tak masuk akal jika ia melakukan hal-hal yang membuat hewan gembalaannya ketakutan. Sebaliknya, penggembala akan melindungi hewan peliharaannya dari teror dan kengerian biantang buas di sekitarnya. Ia akan selalu menjaga dan melindungi keselamatan seluruh gembalaannya.

Demikianlah gambaran penguasa dalam Islam. Ia adalah junnah (pelindung) rakyat, bukan peneror dan pengancam rakyat. Ia hadir menjadi tempat rakyat bersandar dari lelah dan gelisahnya, menyolusi setiap problemnya dan mewujudkan kebaikan serta kesejahteraan untuk semua rakyatnya.

Hubungan penguasa dan rakyat bukan sebagai pesaing, bukan pula penjual dan pembeli apalagi atasan dan bawahan. Dalam syariat Islam, penguasa wajib menjalankan peran ra'in (melayani/memelihara) sekaligus junnah, sedangkan rakyat memiliki kewajiban nasihat atas berjalannya pemerintahan (muhasabah lil hukam) yang dilakukan penguasa. Jika penguasa berjalan menyimpang dari apa yang disyariatkan Islam, maka rakyat wajib menasihatinya, sehingga kembali pada ketetapan Islam.

Hal itu nampak di kehidupan para Khalifah yang memimpin umat Islam selama empat belas abad. Mereka sangat menghargai kritik dari warganya. Tidak mudah marah, tidak tersinggung bahkan tak pernah ada sikap teror dari Khalifah terhadap rakyatnya. Begitu banyak bertaburan kisah mulia, tentang keteladanan penguasa muslim dalam sistem Islam yang menunjukkan kebesarannya sebagai pemimpin.

Salah satunya adalah kisah seorang amirul mukminin Umar bin Khattab ra. yang begitu kharismatik dan bijaksana karena keteguhan imannya. Beliau tidak marah saat seseorang menanyakan mengapa baju yang dikenakannya lebih panjang dari pembagian kain yang diberikan merata pada semua rakyat. Maka Umar ra. kemudian hanya meminta Abdullah putranya untuk menjelaskan, bahwa kain jatahnya telah diberikan kepada ayahnya.

Sungguh potret penguasa dalam balutan iman dan Islam membuat kita makin rindu sosok pemimpin yang sejati. Pemimpin yang hanya akan terlahir dalam sistem ilahi.

Wallahu’alam bshowwab

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image