FOMO: Ketika Media Sosial Menentukan Rasa Cukup Kita
Gaya Hidup | 2026-01-12 11:35:18Di era media sosial, kita hidup dalam dunia yang penuh perbandingan. Setiap hari kita melihat unggahan tentang liburan, pencapaian, hubungan romantis dan gaya hidup yang terlihat sempurna. Dari sinilah muncul sebuah perasaan yang semakin umum FOMO (Fear of Missing Out) yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman atau keberhasilan orang lain. FOMO membuat kita merasa seolah-olah hidup kita kurang berarti hanya karena tidak sejalan dengan apa yang kita lihat di layar.
FOMO bukan sekadar masalah kepercayaan diri, melainkan juga hasil dari lingkungan komunikasi yang kita masuki setiap hari. Media sosial tidak menampilkan kehidupan apa adanya, melainkan potongan terbaik yang dipilih untuk dibagikan. Namun, karena kita terus-menerus terpapar oleh potongan-potongan itu, kita mulai menganggapnya sebagai gambaran kehidupan yang normal.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Teori Kultivasi (Cultivation Theory) yang dikembangkan oleh George Gerbner, Teori ini menyatakan bahwa paparan media dalam jangka panjang dapat membentuk cara seseorang memandang realitas sosial. Media tidak hanya memberi informasi, tetapi secara perlahan menanamkan nilai, standar, dan gambaran tentang bagaimana dunia “seharusnya” terlihat.
Dalam konteks media sosial, teori kultivasi bekerja sangat kuat. Ketika seseorang setiap hari melihat orang-orang yang tampak bahagia, produktif dan sukses. ia akan mulai percaya bahwa itulah standar kehidupan yang wajar, Kehidupan yang biasa, penuh jeda, kegagalan atau kebingungan menjadi terasa tidak cukup. Dari sinilah FOMO muncul bukan karena kita benar-benar tertinggal, tetapi karena kita merasa tertinggal dari realitas yang telah dibentuk oleh media.
Masalahnya, realitas yang dikonstruksi media sosial sangat tidak seimbang. Kita melihat hasil, tetapi tidak melihat proses. Kita melihat senyum, tetapi tidak melihat kelelahan. Kita melihat pencapaian, tetapi tidak melihat kegagalan yang mendahuluinya. Namun, otak kita tetap membandingkan hidup kita yang utuh dengan kehidupan orang lain yang telah dikurasi.
Akibatnya, FOMO menjadi tekanan psikologis. Kita merasa harus selalu produktif, selalu mengikuti tren, selalu punya cerita menarik untuk dibagikan. Ketika tidak bisa mencapainya, kita merasa tertinggal dan tidak relevan. Padahal, kehidupan manusia tidak pernah berjalan lurus dan sempurna seperti yang ditampilkan di media.
Dengan memahami FOMO melalui Teori Kultivasi, kita bisa melihat bahwa rasa takut itu bukan semata-mata kelemahan pribadi. Ia adalah hasil dari paparan media yang terus-menerus membentuk cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Kesadaran ini penting agar kita tidak terlalu keras pada diri sendiri.
Pada akhirnya, melawan FOMO bukan berarti berhenti menggunakan media sosial, melainkan belajar melihatnya dengan lebih kritis. Kita perlu mengingat bahwa apa yang kita lihat di layar bukanlah keseluruhan cerita. Hidup kita tidak perlu terlihat spektakuler untuk menjadi bermakna. Dengan menyadari bahwa realitas media adalah realitas yang dikultivasi, kita bisa kembali membangun standar hidup berdasarkan nilai dan kebutuhan kita sendiri, bukan berdasarkan apa yang sedang tren.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
