Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Andika Prtm

Sejarah Click Bait Sampai Jadi Rage Bait

Culture | 2026-02-19 21:48:37
https://corp.oup.com/news/the-oxford-word-of-the-year-2025-is-rage-bait/

Ada hal yang cukup meresahkan ketika scrolling di sosial media, yaitu melihat suatu informasi, atau berita, namun cara penyampaiannya cenderung memberi kesan emosi negatif terhadap sesuatu. Media sosial saat ini dipenuhi dengan berbagai ragam konten yang dirancang khusus untuk memancing emosi. Biasanya konten-konten pancingan ini berawal dari kejadian baik itu isu politik, isu sosial, ekonomi dll. Apabila ditelisik lebih jauh,pernahkah terpikir jika kemarahan ini merupakan hasil desain sistematis yang disengaja oleh ekosistem digital?. Dan motif dibaliknya hanya upaya dalam meningkatkan traffic respons dalam memaksimalkan nilai komersial

Strategi memikat perhatian pembaca telah lama diterapkan oleh para penerbit berita di seluruh dunia. Pada era digital masa kini strategi tersebut berevolusi menjadi click bait (istilah untuk judul sensasional yang sengaja memancing klik pengguna). Namun click bait ini sejatinya dapat diklasifikasikan secara spesifik menjadi dua jenis utama yaitu umpan informasi dan umpan kemarahan/ rage bait. Keduanya memiliki karakteristik bawaan dan efek penyampaian pesan yang sangat bertolak belakang antara satu dengan lainnya.

Taktik umpan informasi bekerja dengan cara menyembunyikan detail paling penting dari sebuah peristiwa. Metode ini secara psikologis mengandalkan celah keingintahuan yang terbentuk pada benak pembaca. Jika sebuah judul berita berhasil memicu rasa ingin tahu yang kuat maka pembaca akan terdorong secara otomatis untuk mengeklik tautan tersebut demi mencari jawaban.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa strategi pemotongan informasi ini justru terbukti menurunkan tingkat interaksi audiens di berbagai media sosial. Hal ini terjadi karena topik berita formal yang berat sering kali gagal memicu rasa penasaran yang cukup tinggi untuk menghasilkan komentar atau tindakan membagikan ulang konten tersebut. Itu sebabnya, pemilik kanal mempertimbangkan cara yang lebih efektif, yaitu taktik rage bait, dengan memanfaatkan emosi negatif yang sulit dikendalikan.

Pertama-tama, kata Rage Bait itu sendiri masuk dalam nominasi The Oxford Word of the Year tahun 2025 melalui seleksi voting lebih dari 30.000 suara pemantauan rutin aktivitas percakapan online. Rage Bait dirancang secara tajam untuk memicu emosi negatif secara instan. Kemarahan merupakan sebuah emosi tingkat tinggi yang memicu motivasi biologis manusia untuk segera mengambil suatu tindakan perlawanan. Oleh sebab itu para pengguna media sosial yang telanjur merasa marah cenderung lebih aktif merespons melalui rentetan komentar dan penyebaran konten secara masif. Taktik manipulatif ini pada akhirnya mengeksploitasi rasa marah untuk menawan perhatian publik sekaligus mengamankan peringkat tertinggi pada daftar rekomendasi algoritma platform.

Pada kasus belakangan ini ada ancaman penculikan ketua BEM UGM setelah merespons kasus bunuh diri seorang anak SD di NTT kerap menimbulkan banyak kegaduhan di linimasa kita, banyak sekali judul pemberitaan yang mengarah kepada tindak kriminalisasi disertai framing negatif terhadap pemerintah meski belum diketahui fakta yang sebenarnya. Ancaman doxing sampai pembunuhan, diolah sedemikian rupa menciptakan efek dramatis dengan mengangkat urgensi nilai-nilai demokrasi. Dengan demikian, respons yang timbul adalah amarah yang tak terbendung kepada institusi berwajib yang tidak mengambil tindakan cepat mengatasi kekerasan siber ini. Itu hanya gambaran sederhana dari sekian banyaknya kasus yang kita temui. Pada akhirnya kita tidak pernah tahu siapa dalang di balik tindakan kejahatan siber tersebut.

Kemarahan Sebagai Komoditas Utama

Interaksi pengguna selalu diukur secara teliti oleh sistem platform digital setiap detiknya. Pada deretan teratas headline, atau komentar sekalipun, terdapat semacam reaksi yang memuat rage bait yang pada awalnya dipandang sebagai tanda frustrasi pengguna terhadap suatu persoalan. Namun ironisnya, bentuk frustrasi dan kemarahan publik tersebut justru diterjemahkan sebagai sinyal kuat bahwa sebuah konten sangat sukses mengikat perhatian. Jika sebuah konten amarah mampu menahan retensi pengguna lebih lama di depan layar maka pendapatan iklan platform juga dipastikan akan melonjak secara drastis.

Mesin algoritma media sosial dibangun dengan tujuan utama untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna tanpa henti. Sistem canggih ini secara terus-menerus menguji berbagai macam elemen antarmuka untuk memastikan konten mana yang paling sukses menahan perhatian manusia. Karena faktor keterlibatan kemarahan yang intens selalu memicu lebih banyak respons klik maka algoritma tersebut secara alami akan mendistribusikan konten provokatif ke jangkauan yang lebih luas.

Oleh karena itu konten berbasis umpan kemarahan dinilai sebagai komoditas yang paling sesuai dengan target optimalisasi laba mesin digital ini. Konsep propaganda masa kini telah mengalami pergeseran fungsi yang sangat radikal. Pada masa lalu media massa beroperasi dengan tujuan utama memproduksi konsensus yang seragam bagi seluruh lapisan masyarakat. Namun saat ini industri media daring justru secara sengaja memproduksi dan memperluas polarisasi di tengah ketegangan antara 2 kutub pro dan kontra. Sementara developer platform, santai duduk menyaksikan keributan tanpa ada tindakan lanjutan.

Pola Penggunaan Taktik Provokasi Sosial Media

Penerapan taktik umpan klik sangat bervariasi di antara berbagai jenis organisasi media. Media cetak konvensional yang berekspansi ke ranah digital ternyata terbukti mengadopsi taktik umpan informasi dengan frekuensi yang setara dengan media yang murni terlahir di dunia maya. Fakta ini muncul karena media tradisional terus-menerus merasakan tekanan pasar yang kejam untuk beradaptasi dengan tren metrik digital agar perusahaan mereka tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu judul berita menggantung yang diakhiri dengan tanda tanya sering diandalkan untuk meringkas suatu isu yang sangat rumit.

Paham orientasi politik sebuah perusahaan media juga turut menentukan strategi penyusunan judul berita mereka. Saluran media yang memiliki haluan politik konservatif terbukti secara presisi lebih sering mengeksploitasi taktik umpan kemarahan dibandingkan dengan kelompok media berhaluan liberal. Kelompok penonton konservatif cenderung memiliki minat yang lebih rendah terhadap pemrosesan pikiran yang mendalam sehingga respons emosional berupa amarah akan terpicu secara lebih cepat.

Pemanfaatan sisi kemarahan ini tentu membawa dampak destruktif bagi ketahanan tatanan sosial masyarakat. Seluruh penjuru ruang digital kini berubah menjadi arena perang dingin online yang terus menyala. Karena setiap kontroversi sekecil apa pun dipastikan memicu puluhan ribu interaksi maya maka ujaran kebencian, makian pun jadi ikut dimodifikasi menjadi nilai tukar yang berharga. Apabila racun emosional ini terus dibiarkan mengalir bebas maka pilar kepercayaan masyarakat akan segera hancur lebur dan jurang polarisasi antarkelompok akan semakin tidak tertembus.

Kanal berita atau sekedar info populer sebagai wadah pertikaian senantiasa beroperasi setiap detiknya di balik layar gawai kita. Tumpahan kemarahan publik tidak disadari telah diubah menjadi bahan bakar bagi mesin pencetak uang milik platform. Oleh sebab itu penegakan intervensi regulasi hukum dalam membatasi trik-trik penggaet kemarahan publik di banyak akun yang beredar. Meski kesannya terlalu subjektif karena dapat memicu sentimen yang tinggi di tengah publik, ini upaya yang penting untuk dilakukan demi terciptanya kecerdasan kolektif dan kenetralan dalam mengamati suatu keadaan secara objektif, tentunya dibarengi dengan sosialisasi, edukasi, dan literasi kritis yang lebih termonitor untuk berselancar dengan sehat di dunia maya.

Referensi

Ayolov, P. (2025). Rage-baiting and Anger-clicking The Dissent Factory of Online Media. SSRN Electronic Journal.

Shin, J., DeFelice, C., & Kim, S. (2025). Emotion Sells Rage Bait vs. Information Bait in Clickbait News Headlines on Social Media. Digital Journalism, 1-35. https//doi.org/10.1080/21670811.2025.2505566

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image