Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Majelis Pustaka Informasi PCM Wiradesa

Ramadhan, Ekonomi Keluarga, dan Pelajaran dari Pengajian Ahad Pagi

Khazanah | 2026-01-11 10:59:06

Ahad Pagi di masjid selalu menghadirkan ruang jeda. Di saat sebagian orang masih terlelap, masjid justru menjadi tempat bertemunya ikhtiar spiritual dan refleksi kehidupan. Bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang bagaimana seorang Muslim menata keluarga, termasuk urusan ekonomi, agar tetap sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Suasana semacam itu terasa dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wiradesa yang digelar di Masjid Al Muhajirin, Mayangan Wiradesa, Ahad (11/1/2026). Kegiatan ini menghadirkan Dr. Usamah bin Said, S.E., M.Si., Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pekalongan, dengan tema “Persiapan Ramadhan dalam Aspek Ekonomi Keluarga.”

Tema tersebut terasa relevan di tengah realitas masyarakat yang kerap menyambut Ramadhan dengan dua wajah sekaligus: meningkatnya semangat ibadah dan, pada saat yang sama, meningkatnya aktivitas konsumsi. Dalam paparannya, Dr. Usamah menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan keberkahan dalam arti yang luas, termasuk dalam dimensi ekonomi. Data ekonomi menunjukkan bahwa sektor ritel modern seperti supermarket serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) justru mencatat peningkatan pemasukan tertinggi pada periode Ramadhan hingga Idul Fitri.

Fakta ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukanlah bulan yang mematikan ekonomi. Sebaliknya, ia menghadirkan dinamika ekonomi yang hidup. Namun, dinamika tersebut memerlukan sikap bijak agar tidak bergeser menjadi budaya konsumtif yang menjauh dari ruh puasa. Dalam perspektif Islam, keberkahan tidak diukur dari banyaknya konsumsi, melainkan dari ketepatan pengelolaan dan kemanfaatannya.

Al-Qur’an mengingatkan:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

(QS. Al-A’raf [7]: 31)

Ayat ini menjadi landasan penting dalam menyikapi fenomena konsumsi berlebih yang kerap muncul selama Ramadhan. Dr. Usamah menekankan bahwa keluarga perlu merancang keuangan dan kebutuhan Ramadhan sejak awal, agar ibadah dapat dijalani dengan maksimal tanpa terbebani oleh pengeluaran yang tidak perlu.

Dalam tradisi fikih muamalah dikenal kaidah:

Kesederhanaan dalam pengeluaran adalah separuh dari kecukupan hidup.

Kaidah ini sejalan dengan semangat wasathiyah—jalan tengah—yang menjadi karakter dakwah Muhammadiyah. Wasathiyah mengajarkan keseimbangan antara memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga kesederhanaan, antara aktivitas ekonomi dan pengendalian diri.

Lebih jauh, Dr. Usamah mengingatkan bahaya israf yang sering kali terjadi dalam praktik sehari-hari, terutama dalam penyediaan makanan berbuka dan sahur. Tidak sedikit makanan disiapkan secara berlebihan, lalu terbuang percuma. Padahal, Al-Qur’an memberikan peringatan tegas:

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”

(QS. Al-Isra’ [17]: 27)

Dalam konteks ini, Ramadhan seharusnya menjadi momentum tajdid—pembaruan cara berpikir dan bertindak—dalam mengelola ekonomi keluarga. Tajdid tidak selalu berarti hal besar, tetapi bisa dimulai dari kebiasaan sederhana: menyusun anggaran Ramadhan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mengarahkan sebagian rezeki untuk zakat, infak, dan sedekah.

Sebagai gerakan Islam modern, Muhammadiyah sejak awal menempatkan ekonomi sebagai bagian penting dari amal usaha dan dakwah sosial. Penguatan UMKM, pengelolaan zakat melalui lembaga resmi, serta pembinaan keluarga adalah ikhtiar konkret agar keberkahan Ramadhan tidak berhenti pada ritual, tetapi terasa dalam kehidupan nyata.

Pengajian yang berlangsung sejak pukul 05.15 hingga 06.15 WIB ini diikuti jamaah dari berbagai kalangan dan terbuka untuk umum. Bagi PCM Wiradesa, pengajian Ahad pagi bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang pembentukan kesadaran kolektif bahwa ibadah, keluarga, dan ekonomi adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dari masjid, pada pagi yang tenang, Ramadhan kembali dipersiapkan—bukan hanya untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi untuk melatih kebijaksanaan dalam mengelola nikmat Allah, demi keluarga yang lebih kuat dan masyarakat yang lebih berkeadaban.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image