Literasi Gen Z di Tengah Kemajuan Globalisasi dan Teknologi
Sastra | 2026-01-08 10:21:37Kemajuan teknologi digital telah secara mendasar memengaruhi kehidupan anaksekaolah hingga perkuliahan. Generasi yang dilahirkan dan dibesarkan dalam dua puluh tahun terakhir tidak lagi mengetahui dunia tanpa perangkat, internet, dan platform media sosial. Layar kini sudah menjadi cara utama mereka untuk memahami berbagai hal, sementara pergerakan jari menggantikan membaca buku. Dalam konteks ini, terdapat ironi besar yang sering kali tidak disadari dengan jujur: walaupun akses informasi semakin meluas, kemampuan membaca malah menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Literasi yang dimaksud bukan hanya kemampuan untuk membaca huruf atau menuliskan sebuah kata, melainkan juga kemampuan dalam memahami, menafsirkan, mengolah, dan menganalisis informasi. Literasi merupakan dasar berpikir. Tanpa adanya literasi yang baik, teknologi tidak akan menciptakan generasi yang cerdas, tetapi generasi yang hanya cepat, reaktif, dan mudah terpengaruh oleh perkembangan dan berbagai informasi yang ada. Namun kenyataan saat ini memperlihatkan bahwa banyak generasi yang mahir dalam menggunakan teknologi, tetapi kesulitan dalam memahami bahasa.
Salah satu ciri penting dari zaman digital adalah kehadiran konten instan yang mendominasi. Generasi saat ini mengkonsumsi video pendek, teks ringkas, meme, dan informasi singkat setiap hari. Platform digital dibuat untuk menarik perhatian dengan cepat, alih-alih mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam. Hal ini membuat anak-anak terbiasa dengan informasi yang cepat, dangkal, dan tidak memerlukan pemikiran yang mendalam.
Perilaku ini memiliki pengaruh langsung terhadap kemampuan membaca. Anak-anak semakin kesulitan fokus pada teks yang panjang, kurang berminat membaca secara keseluruhan, dan cepat merasa jenuh ketika dihadapkan dengan buku atau artikel yang membutuhkan kesabaran. Membaca tidak lagi dianggap sebagai proses berpikir, tetapi lebih sebagai aktivitas yang terasa "melelahkan". Dalam situasi ini, pengertian literasi berubah. Seseorang dianggap literasi jika bisa mencari informasi, bukan jika bisa memahami apa yang dikatakan. Namun, keterampilangmenggulir layar tidak sama dengan kemampuan untuk berpikir secara kritis.
Kemampuan literasi erat kaitannya dengan penggunaan bahasa. Bahasa Indonesia, yang menjadi fondasi utama dalam pendidikan, menghadapi tantangan signifikan di era digital ini. Sering kali, generasi saat ini menggunakan bahasa yang menyimpang jauh dari standar yang tepat saat membaca dan menulis, misalnya penggunaan singkatan yang berlebihan, kalimat yang tidak lengkap, campuran bahasa asing, dan kurangnya perhatian pada tanda baca.
Mungkin dampaknya tidak langsung terasa saat ini. Akan tetapi, kebiasaan ini dapat memengaruhi pola pikir mereka di masa depan. Penggunaan bahasa yang amburadul dapat membentuk pemikiran yang sama. Jika anak-anak tidak terlatih menyusun kalimat secara logis, mereka akan kesulitan dalam menyampaikan pendapat, membuat tulisan, atau mengkomunikasikan gagasan dengan efektif. Pemahaman tentang literasi digital seringkali masih dangkal, anak-anak belajar mengoperasikan aplikasi tapi jarang benar-benar mengerti makna dari konten yang ditampilkan, serta kurangnya kemampuan untuk memeriksa keakuratan informasi tersebut sebagai hasilnya mereka berkembang menjadi konsumen informasi yang pasif, rentan terhadap berita palsu, penipuan bahasa dan pola pikir yang keliru.
Media digital dan toko publik memiliki dampak signifikan terhadap kebiasaan membaca anak. Konten yang dipopuler seringkali tidak menggunakan bahasa yang baik kurang, terstruktur, dan dangkal dalam makna hal ini menjadi sulit untuk mengharapkan generasi memiliki tingkat literasi yang tinggi literasi tidak akan berkembang dalam lingkungan yang toleran terhadap ketidakpedulian terhadap bahasa. Kemajuan dalam teknologi seharusnya digunakan untuk memperkuat kebiasaan literasi. Terdapat banyak buku elektronik, perpustakaan online, dan platform pembelajaran yang tersedia. Namun tanpa adanya kebijakan yang mendukung literasi dan kesadaran bersama, semua itu akan menjadi potensi yang sia-sia.
Teknologi bukanlah masalah, yang menjadi isu adalah bagaimana kita memanfaatkannya jika kita terus mengabaikan literasi, kita akan menghasilkan generasi yang pandai dengan informasi namun tidak mampu memahami maknanya. Sebaiknya jika literasi dijadikan sebagai fondasi, teknologi bisa menjadi sarana untuk memperdalam wawasan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
