Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhamad Firdaus Permana Putra

Kepedulian terhadap Lingkungan sebagai Imperatif Intelektual dan Tanggung Jawab Publik

Eduaksi | 2026-01-07 09:12:51

Dalam diskursus publik kontemporer, isu lingkungan kerap diperlakukan sebagai tema pelengkap, bukan sebagai persoalan struktural yang menentukan arah peradaban. Padahal, bagi kalangan akademisi, intelektual, dan jurnalis yang berpijak pada nalar kritis, lingkungan harus ditempatkan sebagai variabel utama dalam analisis sosial, ekonomi, dan politik. Kepedulian terhadap lingkungan bukanlah sikap emosional atau romantisme ekologis, melainkan imperatif rasional yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan tanggung jawab publik.Secara epistemologis, lingkungan merupakan sistem penopang kehidupan yang bekerja melalui relasi sebab-akibat yang terukur. Kerusakan ekosistem tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan sebagai akumulasi dari kebijakan pembangunan, pola produksi, dan perilaku konsumsi yang mengabaikan daya dukung alam. Dalam kerangka ilmiah, degradasi lingkungan dapat dibaca sebagai kegagalan manusia dalam mengintegrasikan pengetahuan ekologis ke dalam pengambilan keputusan. Dengan kata lain, ketidakpedulian lingkungan bukan persoalan kurangnya data, melainkan lemahnya komitmen untuk tunduk pada rasionalitas ilmiah.Dari perspektif etika sosial, kepedulian lingkungan berkelindan erat dengan konsep keadilan, baik intra maupun antargenerasi. Ketika generasi hari ini menguras sumber daya alam tanpa perhitungan jangka panjang, sesungguhnya sedang memindahkan beban ekologis kepada generasi yang belum memiliki suara politik. Dalam pandangan ini, krisis lingkungan bukan sekadar krisis alam, tetapi krisis etika dan kepemimpinan moral. Seorang intelektual yang mengabaikan dimensi ini kehilangan relevansinya dalam membela kepentingan publik.Lebih jauh, argumentasi ekonomi yang sering digunakan untuk menjustifikasi eksploitasi lingkungan perlu dibaca secara kritis. Pertumbuhan ekonomi yang dicapai dengan merusak ekosistem pada hakikatnya adalah pertumbuhan semu. Biaya ekologis yang ditunda akan muncul dalam bentuk bencana, krisis kesehatan, dan ketimpangan sosial yang semakin dalam. Pendekatan pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan justru mencerminkan rasionalitas ekonomi yang matang, karena memperhitungkan risiko jangka panjang dan stabilitas sistemik.Dalam konteks ini, peran akademisi, aktivis, dan jurnalis menjadi krusial. Akademisi bertanggung jawab menjaga objektivitas pengetahuan dan menyuarakan temuan ilmiah secara jujur. Aktivis berperan mengartikulasikan kepentingan ekologis ke dalam ruang advokasi publik. Sementara jurnalis memiliki mandat etis untuk menyajikan fakta lingkungan secara kritis, berimbang, dan bebas dari sensasionalisme. Ketiganya, jika berjalan selaras, dapat membangun kesadaran kolektif yang berbasis nalar, bukan ketakutan.Pada akhirnya, kepedulian terhadap lingkungan adalah refleksi dari kedewasaan intelektual suatu masyarakat. menandai sejauh mana manusia mampu menahan eksploitatifnya dan menggantinya dengan kebijaksanaan. Tanpa kepedulian ekologis, kemajuan hanya akan menjadi ilusi yang rapuh. Sebaliknya, dengan menjadikan lingkungan sebagai pijakan utama, peradaban dapat bergerak menuju masa depan yang lebih adil, berkelanjutan, dan bermartabat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image