Tadabbur Malam (028) Tentang Cukup yang Sulit Dipelajari
Khazanah | 2026-02-10 18:37:55Manusia tidak pernah benar-benar miskin karena sedikit harta, melainkan karena merasa tidak cukup. Perasaan kekurangan sering kali bukan lahir dari dompet yang tipis, tetapi dari hati yang terus membandingkan diri dengan orang lain. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya kepemilikan, melainkan lapangnya jiwa.
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Al-Qur’an mengajarkan agar manusia tidak terlalu larut pada apa yang luput darinya, dan tidak berlebihan pada apa yang diberikan.
“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
(QS. Al-Hadid: 23)
Ayat ini bukan perintah untuk mematikan ambisi atau melemahkan ikhtiar. Ia justru menjaga agar hati tidak menjadi tawanan dunia—bekerja sungguh-sungguh tanpa menggantungkan bahagia pada hasil semata.
Rasa cukup adalah pelajaran panjang. Ia tidak hadir tiba-tiba ketika harta bertambah, tetapi perlahan tumbuh saat keinginan yang tak perlu mulai dikurangi. Hati yang merasa cukup mampu bekerja keras tanpa rakus, bersyukur tanpa pamer, dan berbagi tanpa dihantui ketakutan akan kekurangan.
Sering kali yang melelahkan bukanlah hidup itu sendiri, melainkan keinginan untuk terus mengejar apa yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Kita menumpuk demi terlihat berhasil, bukan demi ketenangan batin. Padahal, banyak kegelisahan lahir dari keinginan yang dibiarkan liar.
Cukup bukan berarti berhenti melangkah, tetapi tahu kapan harus berhenti mengejar. Ia adalah kemampuan membedakan antara kebutuhan yang menenangkan dan keinginan yang hanya melelahkan.
Tadabbur malam menuntun kita memahami bahwa cukup bukanlah tanda kekalahan, melainkan bentuk kebijaksanaan. Dalam hening, kita belajar bahwa hidup tidak selalu perlu ditambah—kadang justru perlu disederhanakan.
Malam mengajarkan satu rahasia: cukup adalah kebebasan yang mahal, dan hanya bisa dibayar dengan kejujuran hati.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
