Menjaga Nadi Ekonomi Umat di Tengah Tekanan Daya Beli
Eduaksi | 2026-01-05 22:25:51Lanskap ekonomi Indonesia di awal 2026 menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Di satu sisi, indikator makro ekonomi menunjukkan stabilitas, namun di akar rumput, kita menyaksikan fenomena "pengetatan ikat pinggang" yang dilakukan oleh kelas menengah. Penurunan daya beli yang mulai terasa sejak akhir tahun lalu kini menjadi perbincangan hangat di ruang-ruang publik. Jika tidak dimitigasi dengan kebijakan yang berpihak pada keadilan ekonomi, fenomena ini dikhawatirkan akan menggerus fondasi ekonomi kerakyatan kita.
Urgensi masalah ini terletak pada pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kian berhati-hati. Kenaikan biaya hidup yang tidak dibarengi dengan pertumbuhan pendapatan yang signifikan memaksa banyak keluarga Muslim untuk menata ulang prioritas mereka. Dalam perspektif ekonomi syariah, kondisi ini menuntut kita untuk kembali pada prinsip at-ta’awun (tolong-menolong) dan penguatan sektor riil sebagai bantalan ekonomi nasional.
Ada tiga strategi krusial yang perlu diakselerasi agar ekonomi umat tetap resilien di masa sulit ini.
· Pertama, Digitalisasi Filantropi Islam sebagai Jaring Pengaman. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) tidak boleh lagi dikelola secara konvensional. Di tahun 2026, integrasi teknologi blockchain dan AI dalam lembaga amil zakat harus mampu memetakan mustahik secara presisi. Penyaluran dana Ziswaf yang bersifat produktif bukan sekadar konsumtif akan membantu UMKM yang kesulitan modal akibat pengetatan kredit perbankan, sehingga roda ekonomi di tingkat bawah tetap berputar.
· Kedua, Penguatan Ekosistem Halal yang Inklusif. Industri halal bukan hanya soal label, melainkan efisiensi rantai pasok. Dengan menekan biaya logistik melalui digitalisasi, harga produk halal lokal bisa lebih kompetitif dibandingkan produk impor. Hal ini penting untuk memastikan masyarakat tetap bisa mengakses konsumsi berkualitas dengan harga terjangkau, sekaligus melindungi produsen lokal dari gempuran barang murah luar negeri yang seringkali tidak terjamin kehalalannya.
· Ketiga, Edukasi Literasi Keuangan Syariah yang Membumi. Di tengah maraknya jeratan pinjaman online ilegal yang memanfaatkan kesulitan ekonomi masyarakat, edukasi mengenai manajemen keuangan berbasis syariah menjadi sangat mendesak. Umat perlu didorong untuk menghindari pola hidup konsumtif yang berbasis utang riba dan beralih pada investasi produktif di sektor pertanian atau industri kreatif yang berbasis bagi hasil.
Pemerintah dan pemangku kepentingan harus menyadari bahwa kekuatan ekonomi Indonesia terletak pada konsumsi domestiknya. Ketika daya beli kelas menengah terganggu, maka seluruh struktur ekonomi akan ikut goyang. Oleh karena itu, kebijakan fiskal yang pro-umat seperti insentif bagi pelaku usaha kecil dan kestabilan harga pangan adalah mandat konstitusional yang selaras dengan nilai-nilai keadilan sosial.
Inayah Suryono
Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
