Generasi yang Dipaksa Selalu Hadir, Bahkan Saat Tak Ingin Bicara
Teknologi | 2026-01-04 22:05:22
Kita hidup di ruang yang menuntut kehadiran terus-menerus. Setiap hari, layar menyala sejak bangun tidur hingga sebelum mata terpejam, menghadirkan arus informasi yang nyaris tak memberi jeda. Kita membaca, menggulir, menyimak, lalu merasa perlu merespons. Kehadiran di ruang digital perlahan bergeser maknanya: bukan lagi soal keterlibatan yang sadar, melainkan sekadar tanda bahwa kita masih ada. Diam sering dianggap sebagai sikap, bahkan kesalahan, padahal bagi sebagian orang diam justru menjadi bentuk perlindungan diri dari kelelahan yang tak kasatmata.
Di ruang digital hari ini, kehadiran jarang lahir dari keinginan murni. Ia lebih sering muncul dari rasa takut tertinggal, takut dianggap tidak peduli, takut disalahpahami. Setiap isu datang dengan tuntutan sikap, seolah semua orang harus selalu siap berpendapat kapan pun diminta. Padahal, tidak semua pikiran bisa lahir secara instan. Tidak semua keresahan bisa dirumuskan dalam satu unggahan singkat. Namun ruang digital tidak memberi waktu untuk itu. Ia bergerak cepat, menekan perlahan, dan meninggalkan mereka yang memilih diam di posisi yang serba salah.
Tekanan untuk selalu hadir ini sering kali tidak terasa sebagai paksaan karena dibungkus dengan narasi partisipasi. Kita diajak terlibat, diminta bersuara, didorong untuk ikut arus diskusi. Namun di balik ajakan itu, ada ekspektasi yang tak pernah diucapkan secara langsung: selalu tanggap, selalu bereaksi, selalu tersedia. Kehadiran menjadi semacam kewajiban sosial, bukan lagi pilihan personal. Dalam kondisi seperti ini, kelelahan tidak datang tiba-tiba, melainkan menumpuk pelan-pelan, hingga akhirnya menjadi rasa jenuh yang sulit dijelaskan.
Bagi generasi muda, terutama mahasiswa dan kelompok usia produktif, situasi ini terasa semakin berat. Mereka berada di persimpangan antara keinginan untuk terlibat dan kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental. Di satu sisi, mereka tumbuh dalam budaya digital yang menjunjung tinggi suara, opini, dan ekspresi diri. Di sisi lain, mereka juga menghadapi tuntutan akademik, sosial, dan ekonomi yang tidak ringan. Ketika ruang digital tidak lagi memberi ruang bernapas, kehadiran justru berubah menjadi beban yang terus dipikul tanpa disadari.
Masalahnya bukan pada teknologi itu sendiri. Media sosial, platform digital, dan ruang daring pada dasarnya adalah alat. Ia bisa memperluas akses informasi, membuka ruang diskusi, dan memungkinkan partisipasi yang sebelumnya sulit dilakukan. Namun ketika kehadiran di ruang tersebut diukur dari seberapa sering seseorang bersuara, seberapa cepat ia bereaksi, dan seberapa konsisten ia tampil, maka partisipasi berubah menjadi rutinitas yang melelahkan. Di titik ini, kehadiran kehilangan maknanya sebagai pilihan sadar dan bergeser menjadi tuntutan yang tak pernah selesai.
Di sinilah demokrasi digital mulai terasa paradoksal. Di satu sisi, ia menjanjikan keterlibatan yang lebih luas dan inklusif. Semua orang bisa bicara, semua suara berpotensi terdengar. Namun di sisi lain, demokrasi digital sering menyamakan kehadiran dengan partisipasi, dan diam dengan ketidakpedulian. Mereka yang memilih tidak berbicara kerap dianggap pasif, apatis, atau tidak bertanggung jawab, tanpa pernah benar-benar dipahami alasan di balik keheningan itu.
Padahal, tidak semua keheningan adalah bentuk penolakan. Ada diam yang lahir dari kelelahan, ada diam yang muncul karena kehati-hatian, dan ada pula diam yang merupakan proses berpikir. Dalam demokrasi yang sehat, ruang untuk diam seharusnya dihormati sama seperti ruang untuk bersuara. Ketika ruang digital tidak lagi memberi toleransi terhadap jeda, demokrasi justru berisiko kehilangan kedalaman. Diskusi berubah menjadi adu cepat, bukan adu gagasan. Opini dinilai dari kecepatan, bukan dari kualitas.
Kondisi ini menciptakan generasi yang selalu hadir secara teknis, tetapi sering kali absen secara emosional. Mereka ada di mana-mana, mengikuti berbagai percakapan, namun tidak selalu merasa terhubung. Kehadiran yang dipaksakan tidak melahirkan keterlibatan yang sehat. Ia justru melahirkan kelelahan kolektif yang perlahan menggerus minat untuk benar-benar peduli. Ironisnya, semakin sering kita dipaksa hadir, semakin besar kemungkinan kita kehilangan makna dari kehadiran itu sendiri.
Jika demokrasi digital ingin tetap relevan dan manusiawi, ia perlu belajar memberi ruang. Ruang untuk ragu, ruang untuk berpikir, dan ruang untuk diam tanpa stigma. Kehadiran tidak seharusnya menjadi kewajiban moral yang menekan, melainkan kesempatan yang dipilih secara sadar. Tanpa itu, ruang digital hanya akan menjadi panggung kebisingan yang melelahkan, tempat semua orang bicara, tetapi sedikit yang benar-benar mendengar.
Generasi hari ini bukan generasi yang apatis. Mereka adalah generasi yang kelelahan. Kelelahan karena dituntut selalu ada, selalu siap, selalu bersuara. Mengakui kelelahan ini bukan berarti menyerah, melainkan langkah awal untuk membangun ruang digital yang lebih adil dan demokratis. Sebab demokrasi, pada akhirnya, bukan hanya soal siapa yang paling lantang berbicara, tetapi juga tentang siapa yang diberi ruang untuk bernapas.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
