Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Siti Zahra Maulida

Perlawanan Kelompok Kecil terhadap Pemerintahan Melalui Puisi

Sastra | 2026-01-04 17:13:57
Sumber: Dokumen Pribadi

Karya sastra dapat dipahami sebagai hasil pengamatan yang mendalam antara pengarang dan realitas sosial yang melingkupinya. Dalam banyak kasus, sastra berfungsi sebagai media untuk menyuarakan kritik terhadap ketimpangan sosial, ketidakadilan, serta praktik kekuasaan yang menindas kelompok kecil atau lemah. Puisi Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul dan puisi Kau karya Nuke Hanasasmit menunjukkan kesamaan orientasi ideologis tersebut, yakni keberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran René Wellek dan Austin Warren yang menyatakan bahwa sastra bandingan menekankan keterkaitan tema, gagasan, dan sikap antarkarya sastra tanpa mensyaratkan memiliki kesamaan latar sosial maupun waktu penciptaan (Wellek & Warren, 1956). Oleh karena itu, perbedaan konteks kemunculan kedua puisi tidak menjadi hambatan untuk diperbandingkan, sebab keduanya sama-sama mengusung kritik terhadap hubungan kekuasaan yang timpang.

Dari segi unsur intrinsik, persamaan kedua puisi terutama tampak pada unsur batin, khususnya tema dan nada. Puisi Bunga dan Tembok menggambarkan perpecahan struktural terhadap rakyat kecil melalui metafora “bunga” yang dipandang sebagai ancaman oleh kekuasaan, dengan nada perlawanan yang tegas, kolektif, dan sarat muatan politik. Sementara itu, puisi Kau juga mengangkat isu ketidakadilan sosial yang dialami kelompok pekerja yang terpinggirkan, namun disampaikan dalam bentuk gugatan moral yang diarahkan secara langsung kepada pihak yang berkuasa. Pada elemen fisik, puisi kedua menampilkan kesamaan dalam penggunaan diksi yang sederhana dan lugas, pemanfaatan berulang-ulang, serta penggunaan kata ganti kelompok “kami” yang menegaskan suara kebersamaan. Wiji Thukul menggunakan simbol-simbol konkret seperti “bunga” dan “tembok” untuk mempertajam esensi antara rakyat dan penguasa, sedangkan Nuke Hanasasmit mengandalkan kalimat langsung dan pengulangan seruan untuk membangun intensitas puisi emosional.

Apabila ditempatkan dalam kerangka puisi protes sosial, kedua puisi tersebut sesuai dengan karakteristik yang dikemukakan oleh Rachmat Djoko Pradopo, yakni puisi yang secara sadar mengungkapkan sikap kritis penyair terhadap ketidakadilan sosial dengan keberpihakan pada kelompok lemah (Pradopo, 2007). Secara ekstrinsik, puisi Bunga dan Tembok lahir dalam iklim represif Orde Baru yang membatasi kebebasan berekspresi, sedangkan puisi Kau muncul dari realitas ketimpangan sosial dan ekonomi yang masih berlanjut hingga masa kini. Meski berada dalam konteks sosial yang berbeda, kedua puisi tersebut merefleksikan persoalan struktural yang serupa. Dengan demikian, kedua karya ini tidak hanya berfungsi sebagai teks estetika, tetapi juga sebagai dokumen sosial yang menegaskan tradisi puisi protes sosial dalam khazanah sastra Indonesia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image