Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Safira Amanda

Tidak Hanya Gaji: Apa yang Sebenernya Dicari Gen Z di Pekerjaan?

Gaya Hidup | 2025-12-27 12:12:44

Sumber daya/Oleh Manfaat Satu

Pendahuluan

Setiap generasi memiliki harapan yang berbeda terhadap dunia kerja, dan Gen Z (yang lahir antara tahun 1997-2012) tidak terkecuali. Banyak orang masih mengira bahwa yang paling penting bagi mereka adalah gaji yang tinggi, namun kenyataannya jauh lebih kompleks. Di era di mana informasi mudah diakses dan kesadaran sosial semakin meningkat, Gen Z mencari lebih dari sekadar uang mereka mencari makna, pemikiran, dan ruang untuk tumbuh

Makna dan Dampak Sosial Yang paling menonjol dari harapan Gen Z adalah keinginan untuk bekerja pada sesuatu yang berarti. Mereka tidak ingin hanya mengisi hari-hari dengan tugas yang tidak ada arti; mereka ingin pekerjaan mereka memberikan dampak positif pada masyarakat atau lingkungan. Misalnya, banyak Gen Z yang cenderung memilih perusahaan yang memiliki kebijakan tanggung jawab sosial (CSR), seperti pengurangan jejak karbon, dukungan pada komunitas lokal, atau keadilan gender. Bagi mereka, bekerja di perusahaan yang selaras dengan nilai pribadi adalah hal yang tidak bisa dinegosiasikan.

Ruang untuk Pengembangan dan Pertumbuhan Gen Z adalah generasi yang penuh semangat dan ingin terus belajar. Mereka tidak ingin bekerja di tempat yang membuat mereka terjebak dalam rutinitas yang sama selama bertahun-tahun. Sebaliknya, mereka mencari perusahaan yang memberikan kesempatan untuk pengembangan keterampilan, pelatihan, dan promosi di dalam negeri. Mereka juga menghargai umpan balik yang sering dan jaringan yang bisa membantu mereka tumbuh secara profesional. Bagi mereka, pekerjaan adalah tempat untuk mengasah kemampuan dan mencapai potensi maksimal.

Komunikasi yang Terbuka dan Budaya Kerja Positif Gen Z menghargai komunikasi yang jujur, transparan, dan dua arah. Mereka tidak menyukai hierarki yang kaku di mana karyawan bawahannya takut berbicara dengan atasan. Budaya kerja yang positif—di mana semua orang merasa dihargai, didukung, dan bebas mengekspresikan pendapat—sangat penting bagi mereka. Mereka juga lebih suka bekerja dalam tim yang kolaboratif dan saling mendukung, bukan lingkungan yang kompetitif dan tekanan tinggi.

Jadi, bagi perusahaan yang ingin menarik dan mempertahankan tenaga kerja Gen Z, tidak cukup hanya menawarkan gaji yang tinggi. Perlu ada perhatian pada nilai-nilai perusahaan, jangka panjang, pengembangan karir, budaya kerja, dan pengakuan. Hanya dengan itu, perusahaan dapat menarik generasi muda yang penuh potensi ini dan membangun tim yang kuat dan produktif.

Misalnya, banyak perusahaan yang telah mulai menerapkan langkah-langkah nyata untuk memenuhi keinginan ini. Beberapa perusahaan besar di Indonesia bahkan meluncurkan program "nilai-nilai bersama" yang dirancang bersama dengan karyawan Gen Z, sehingga mereka merasa terlibat dalam membentuk arah perusahaan. Mengingatnya, beberapa perusahaan memberikan opsi untuk memilih hari kerja yang sesuai dengan kebutuhan pribadi, seperti bekerja 4 hari penuh dengan jam yang sedikit lebih panjang, atau bekerja dari tempat manapun selama tugas terpenuhi. Dalam hal pengembangan karir, banyak perusahaan kini menawarkan akses ke platform pembelajaran online berbayar, mentor program dari pimpinan tingkat tinggi, dan kesempatan untuk membuka proyek global yang memperluas wawasan. Budaya kerja juga dimodifikasi dengan menghapus hierarki yang terlalu kaku misalnya, mengadakan rapat yang lebih santai di mana semua karyawan, termasuk yang baru masuk, dapat memberikan pendapat tanpa harus menunggu atasan.

Ingin tahu lebih lanjut tentang bagaimana perusahaan bisa menyesuaikan diri dengan keinginan Gen Z di dunia kerja?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image