Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rika Sadiyah

Hari Ibu dan Perlawanan Sunyi terhadap Korupsi

Pendidikan | 2025-12-23 07:49:51

Setiap tanggal 9 Desember, peringatan Hari Antikorupsi Sedunia kembali mengingatkan publik pada bahaya laten korupsi yang menggerogoti sendi kehidupan berbangsa. Tak lama setelahnya, tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu, sebuah momentum yang kerap dimaknai secara seremonial, padahal jika dicermati lebih dalam, hari Ibu memiliki keterkaitan erat dengan persoalan besar bangsa, termasuk korupsi dan bahkan bencana yang berulang kali menimpa masyarakat.

Dalam banyak peristiwa bencana, banjir, longsor, kebakaran hutan, hingga kerusakan lingkungan, kita sering dihadapkan pada fakta pahit bahwa bencana tidak sepenuhnya bersifat alamiah. Kelalaian, penyalahgunaan wewenang, dan praktik koruptif dalam tata kelola lingkungan dan pembangunan kerap menjadi faktor yang memperparah dampaknya. Di titik inilah korupsi menunjukkan wajah nyatanya, bukan sekadar angka kerugian negara, tetapi penderitaan manusia, terutama kelompok rentan seperti perempuan dan anak.

Korupsi pada dasarnya adalah krisis nilai, ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dimaklumi, dari pembenaran terhadap ketidakjujuran, dan dari hilangnya rasa tanggung jawab terhadap sesama dan alam. Nilai-nilai inilah yang pertama kali dikenalkan dalam keluarga, di ruang domestik, ibu memegang peran sentral dalam membentuk cara pandang anak terhadap kejujuran, kepedulian, dan batas moral antara kepentingan pribadi dan kebaikan bersama. Hari Ibu seharusnya mengajak kita melihat kembali bahwa pendidikan karakter paling awal dan paling menentukan berlangsung di rumah.

Cara ibu mengajarkan anak untuk tidak mengambil yang bukan haknya, untuk bertanggung jawab atas tindakannya, dan untuk peduli terhadap lingkungan sekitar adalah fondasi penting dalam membangun kesadaran antikorupsi. Dari sikap sederhana itu, anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

Dalam konteks bencana, nilai ini menjadi sangat relevan, ketika anak dibiasakan untuk menghormati alam, tidak merusak, dan tidak serakah, ia sedang dipersiapkan menjadi warga yang kelak tidak mudah mengorbankan lingkungan demi keuntungan sesaat. Sebaliknya, ketika sejak kecil seseorang terbiasa melihat ketidakjujuran dianggap wajar, maka pelanggaran etika dalam skala besar, termasuk yang berujung pada bencana, menjadi lebih mudah diterima.

sumber gambar internet

Di tengah budaya yang sering kali permisif terhadap kecurangan, seorang Ibu kerap melakukan apa yang bisa disebut sebagai perlawanan sunyi, Ibu mendidik anak untuk tidak ikut-ikutan, meski lingkungan sosial membenarkan praktik menyimpang, Ibu mengajarkan hidup secukupnya bukan berlebihan, Ibu menanamkan empati terhadap korban bencana, bukan sekadar rasa iba sesaat, tetapi kesadaran bahwa penderitaan itu sering kali berakar pada kesalahan manusia sendiri. Perlawanan sunyi ini tidak terdengar lantang, tidak tercatat dalam laporan resmi, dan tidak viral di media social, namun di sanalah letak kekuatannya.

Ibu yang konsisten menjaga nilai di tengah tekanan sosial sedang membangun benteng moral jangka panjang. Ia membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepekaan Nurani, generasi yang kelak memahami bahwa korupsi dan kerusakan lingkungan adalah dua sisi dari krisis yang sama. Sayangnya, peran ini sering kali berjalan tanpa dukungan yang memadai, banyak Ibu harus berjuang sendirian menjaga nilai di tengah sistem yang tidak selalu berpihak pada integritas.

Karena itu, refleksi Hari Ibu pasca Hari Antikorupsi dan di tengah rentetan bencana semestinya mendorong kesadaran kolektif. Negara, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu membangun ekosistem yang memperkuat nilai-nilai yang ditanamkan di rumah, bukan justru meruntuhkannya. Pemberantasan korupsi tidak cukup berhenti pada penindakan hukum setelah kerusakan terjadi, ia harus bergerak ke hulu, menyentuh wilayah pembentukan karakter dan kesadaran moral.

Dalam konteks inilah, hari Ibu bukan sekadar perayaan, melainkan pengingat bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Korupsi mungkin ditindak di pengadilan, dan bencana mungkin ditangani dengan bantuan darurat, namun kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama serta alam dilahirkan dari rumah. Dari keteladanan seorang ibu, perlawanan sunyi terhadap korupsi dan kerusakan lingkungan terus berlangsung, tanpa sorak, tanpa panggung, tetapi menentukan arah masa depan bangsa.

Kesadaran ini menuntut perubahan cara pandang kita terhadap pembangunan dan kemajuan. Kemajuan yang mengabaikan nilai kejujuran dan kepedulian sosial hanya akan melahirkan kerentanan baru, ketimpangan, kerusakan lingkungan, dan bencana yang berulang. Dalam konteks ini, suara Ibu yang mengajarkan kehati-hatian, kesederhanaan, dan tanggung jawab seharusnya tidak dianggap sebagai hambatan, melainkan sebagai kompas moral bagi arah pembangunan bangsa.

Lebih dari itu, perlawanan sunyi yang dilakukan seorang Ibu perlu dipahami sebagai kerja peradaban jangka Panjang, hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam statistik penurunan korupsi atau laporan mitigasi bencana, tetapi ia hadir dalam sikap generasi yang tumbuh dengan kesadaran etis. Generasi inilah yang kelak diharapkan mampu mengelola kekuasaan dan sumber daya dengan lebih bijak, tanpa mengorbankan manusia dan alam demi kepentingan sesaat.

Hari Ibu menjadi ruang refleksi kolektif untuk menghargai kerja-kerja sunyi tersebut, menghormati ibu berarti juga memperjuangkan nilai yang ia jaga, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian. Ketika nilai-nilai yang diperjuangkan seorang Ibu itu benar-benar menjadi fondasi bersama, bangsa ini tidak hanya lebih siap menghadapi korupsi, tetapi juga lebih tangguh dalam menghadapi bencana dan krisis apa pun di masa depan. (Selamat Hari Ibu)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image