Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Trias Trias

Inflasi Pasca Bencana di Indonesia: Saat Alam Mengguncang, Harga Ikut Bergejolak

Info Terkini | 2025-12-22 21:20:27

Setiap kali bencana alam datang, dampaknya tidak berhenti pada kerusakan rumah dan jalan. Harga kebutuhan pokok pun ikut bergejolak. Itulah yang kini dialami masyarakat Sumatera Barat setelah gempa dan banjir besar melanda wilayah tersebut. Di tengah upaya pemulihan, warga masih harus menghadapi kenaikan harga dan terbatasnya pasokan barang.

(Gambar dibuat oleh penulis dengan bantuan AI)

Pasokan Terhambat, Harga Naik

Gangguan pada jalur distribusi menjadi penyebab utama naiknya harga setelah bencana. Banyak jalan rusak, jembatan terputus, dan pasar tidak bisa beroperasi. Akibatnya, pasokan bahan pangan dan kebutuhan penting berkurang. Ketika stok menipis, harga otomatis meningkat.

Di beberapa pasar di Sumatera Barat, harga beras naik hingga 15 persen hanya dalam dua minggu. Sayur, telur, dan bahan bakar juga ikut merangkak naik. Masyarakat terpaksa berhemat, sementara pemerintah berusaha menahan laju kenaikan dengan operasi pasar dan bantuan logistik. Namun, jalur distribusi yang belum pulih membuat harga belum sepenuhnya stabil.

Dampaknya Bisa Meluas

Kenaikan harga akibat bencana biasanya terasa di wilayah terdampak. Namun, jika daerah tersebut merupakan penghasil bahan pokok, efeknya bisa menjalar ke banyak tempat.

Sumatera Barat, misalnya, dikenal sebagai salah satu penyuplai beras dan hasil pertanian untuk provinsi sekitarnya. Saat pengiriman terganggu, harga di daerah lain pun ikut naik. Inilah yang membuat inflasi pasca bencana sering berimbas lebih luas dari yang terlihat.

Ketahanan Daerah Diuji

Bencana juga menjadi ujian bagi kekuatan ekonomi suatu daerah. Tempat yang punya cadangan bahan pokok dan jalur alternatif biasanya lebih cepat pulih. Sebaliknya, daerah yang bergantung pada pasokan dari luar akan lebih lama menormalkan harga.

Kondisi di Sumatera Barat menunjukkan pentingnya kesiapan menghadapi bencana, termasuk dalam hal logistik dan penyediaan pangan. Pemerintah kini memperkuat kerja sama antarprovinsi agar aliran barang tetap lancar ketika bencana terjadi.

Langkah Pemerintah Menstabilkan Harga

Pemerintah pusat melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) langsung bergerak menanggapi kondisi ini. Tujuannya jelas: menjaga ketersediaan barang, mempercepat distribusi, dan mencegah kepanikan masyarakat.

Program Gerakan Pangan Murah (GPM) kembali dijalankan di berbagai daerah. Pemerintah juga menggandeng pelaku usaha dan pihak transportasi agar pengiriman kebutuhan pokok bisa lebih cepat. Perlahan, harga mulai bergerak turun walau belum sepenuhnya normal.

Peran Warga dan Pelaku Usaha

Menjaga kestabilan harga tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Warga diharapkan membeli barang secukupnya agar tidak terjadi kelangkaan. Pedagang juga diimbau tidak menaikkan harga terlalu tinggi supaya masyarakat tetap mampu membeli kebutuhan dasar.

Pelaku usaha logistik dapat membantu mempercepat pengiriman bahan pokok, terutama ke wilayah yang sulit dijangkau. Dengan kerja sama yang baik antara semua pihak, tekanan harga bisa dikendalikan lebih cepat.

Kesiapan Ekonomi Jadi Kunci

Penanganan bencana sering kali fokus pada perbaikan fisik seperti rumah, jalan, atau jembatan. Padahal, dampak ekonomi juga harus diantisipasi sejak awal. Daerah rawan bencana perlu memiliki cadangan pangan, rute darurat untuk pengiriman barang, dan sistem informasi harga yang mudah diakses masyarakat agar tidak ada pihak yang mengambil keuntungan di tengah kesulitan.

Langkah-langkah pencegahan seperti ini sangat penting agar harga kebutuhan tetap stabil meski situasi belum pulih sepenuhnya. Dengan ekonomi yang siap menghadapi bencana, masyarakat bisa bangkit lebih cepat tanpa dihantui kenaikan harga berlebihan.

Belajar dari Pengalaman

Indonesia adalah negara yang rawan gempa, banjir, dan tanah longsor. Karena itu, kesiapan menghadapi bencana bukan hanya soal alat penyelamat atau bangunan tahan gempa, tetapi juga soal bagaimana menjaga roda ekonomi tetap berputar.

Pengalaman di Sumatera Barat menjadi pengingat bahwa setiap bencana membawa tantangan ganda, memperbaiki kerusakan sekaligus menjaga harga agar tetap terjangkau.

Membangun ekonomi yang kuat berarti memastikan kebutuhan dasar selalu tersedia dan harga tidak melambung saat krisis. Ketika alam mengguncang, kestabilan harga adalah tanda bahwa kehidupan tetap berjalan, dan masyarakat mampu bertahan di tengah cobaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image