Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ghifari Ibnu Shibghotullah

Paradoks AI: Inovasi Global yang Mencekik Kantong Mahasiswa

Teknologi | 2025-12-30 14:07:09
Ilustrasi Data Center (Foto: Unsplash/Google DeepMind)

Pernahkah Anda menyadari bahwa harga komponen komputer, seperti RAM dan SSD, belakangan ini mulai merangkak naik? Jika Anda berencana merakit PC atau membeli laptop baru dalam waktu dekat, anggaran yang Anda siapkan mungkin tidak lagi cukup.

Di balik layar monitor kita, sedang terjadi pergeseran besar di industri teknologi global. Penyebabnya bukan sekadar inflasi biasa, melainkan ambisi dunia yang sedang berlomba-lomba membangun infrastruktur pusat data (data center) AI. Sebagai mahasiswa Sistem Informasi, saya melihat fenomena ini sebagai biaya tersembunyi dari kemajuan teknologi yang sering kita puji.

Wafer silikon dalam proses manufaktur chip (Foto: Unsplash/TSMC)

Hukum Rimba Rantai Pasok Lantas, apa hubungannya ChatGPT atau Gemini yang sering kita pakai dengan harga laptop di pasaran? Jawabannya ada pada prinsip ekonomi dasar: Hukum Permintaan dan Penawaran dalam rantai pasok (supply chain).

Ibaratkan sebuah toko roti dengan kapasitas oven terbatas. Selama ini, toko tersebut sibuk memanggang roti untuk pelanggan harian (HP dan laptop kita). Tiba-tiba, datang pesanan massal dari raksasa teknologi yang berani membayar jauh lebih mahal untuk bahan baku yang sama, namun digunakan untuk memberi tenaga pada mesin AI.

Sebagai pebisnis, raksasa seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron tentu akan memprioritaskan pesanan mahal tersebut. Produksi memori khusus AI, seperti HBM (High Bandwidth Memory), kini menjadi primadona. Akibatnya, jatah produksi untuk memori konvensional (DDR4/DDR5) yang kita gunakan sehari-hari harus dikorbankan atau dikurangi drastis.

Ilustrasi gerai elektronik (Foto: Unsplash)

Digital Inequality: Siapa yang Menanggung Bebannya? Dampaknya mulai nyata. Ketika suplai RAM untuk segmen konsumen menjadi ketat sementara kebutuhan akan perangkat digital tetap tinggi, harga otomatis melambung. Namun, isu ini bukan sekadar tentang harga perangkat yang menjadi mahal.

Masalah utamanya adalah potensi munculnya ketimpangan digital baru (digital divide). Jika teknologi AI membuat harga perangkat keras melonjak, maka akses terhadap teknologi canggih akan semakin eksklusif hanya untuk kalangan tertentu. Bagi mahasiswa atau masyarakat menengah ke bawah, memiliki perangkat mumpuni untuk belajar kini menjadi investasi yang semakin sulit dijangkau.

Kesimpulan Kita mungkin menikmati kemudahan yang ditawarkan oleh AI dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan harian. Namun, kita juga harus sadar bahwa ada "pajak" yang harus kita bayar dalam bentuk harga perangkat yang tak lagi ramah di kantong.

Pemerintah dan pelaku industri perlu mulai memikirkan bagaimana menjaga ekosistem teknologi tetap inklusif. Inovasi AI seharusnya menjadi alat untuk mendemokratisasi pengetahuan, bukan justru menjadi biang kerok yang mempersulit akses masyarakat terhadap perangkat digital yang terjangkau.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image