Menjemput Berkah yang Tercecer: Bisakah AI Menjadi Wasilah?
Teknologi | 2026-03-11 08:13:16
Di tengah hiruk-pikuk disrupsi digital, sebuah keluhan kolektif sering terdengar: "Waktu terasa cepat sekali berlalu." Fenomena ini bukan sekadar ilusi persepsi. Secara sosiologis, sosiolog Hartmut Rosa menyebutnya sebagai social acceleration—percepatan gerak kehidupan yang membuat manusia merasa terus tertinggal meskipun ia sudah berlari kencang. Dalam kacamata iman, banyak yang menyebut ini sebagai pertanda dicabutnya keberkahan dari muka bumi.
Lantas, di hadapan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang kian eksponensial, apakah kita akan semakin terasing dari waktu, atau justru bisa menggunakannya untuk menjemput kembali keberkahan yang hilang?
Realitas Lapangan: Kesibukan Tanpa Makna
Data menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu sekitar 7 jam 42 menit per hari untuk berselancar di internet (DataReportal, 2024). Namun, ironisnya, tingkat produktivitas dan kualitas kesehatan mental justru menunjukkan tren yang menantang. Kita sering terjebak dalam "kerugian" yang diingatkan oleh Allah SWT dalam Surat Al-’Asr: menghabiskan waktu untuk distraksi tanpa menghasilkan amal saleh yang nyata.
Waktu yang seharusnya berkah—artinya waktu yang membuahkan kebaikan yang bertambah (ziyadatul khair)—justru habis untuk hal-hal administratif, repetitif, dan konsumtif. Di sinilah kita perlu mendudukkan posisi AI bukan sebagai musuh spiritualitas, melainkan sebagai wasilah (perantara) untuk mengoptimalkan sisa keberkahan di bumi.
Tadabbur Al-’Asr di Era Kecerdasan Buatan
Surat Al-’Asr memberikan empat syarat agar manusia keluar dari zona kerugian: Iman, Amal Saleh, Tawasau bil Haqq (Saling menasihati dalam kebenaran), dan Tawasau bis Sabr (Saling menasihati dalam kesabaran). Jika kita kontekstualisasikan dengan kehadiran AI, empat pilar ini bisa menjadi panduan operasional:
1. AI sebagai Pendukung Amal Saleh (Efisiensi) Fakta di lapangan kerja menunjukkan bahwa penggunaan generative AI dapat meningkatkan produktivitas hingga 40% dalam tugas-tugas penulisan dan analisis data (MIT Sloan, 2023). Bagi seorang Muslim, efisiensi ini bukanlah tujuan akhir untuk sekadar menumpuk materi.
Jika seorang ayah bisa memangkas waktu kerjanya dari 10 jam menjadi 6 jam berkat bantuan AI, ia memiliki sisa 4 jam untuk "Amal Saleh" yang lebih substansial: menemani anak belajar, berbakti kepada orang tua, atau mendalami ilmu agama. Inilah yang disebut mengoptimalkan keberkahan; melakukan hal teknis dengan cepat demi mengejar hal yang bernilai abadi.
2. Literasi dan Tawasau bil Haqq (Kebenaran) Di era post-truth, hoaks dan disinformasi sering kali berbaju agama. AI memiliki dua sisi: ia bisa menjadi mesin produksi hoaks, namun ia juga bisa menjadi alat fact-checking yang tangguh. Menggunakan AI untuk memverifikasi kutipan hadits, mencari referensi kitab klasik, atau menyebarkan konten dakwah yang moderat adalah bentuk implementasi "saling menasihati dalam kebenaran" yang relevan saat ini. Kita menggunakan kecerdasan mesin untuk menjernihkan pesan-pesan langit.
3. Sabar dalam Ketidakpastian Teknologi Pilar terakhir, Tawasau bis Sabr, menjadi sangat penting ketika kita bicara tentang dampak AI terhadap lapangan kerja. Banyak orang merasa cemas akan digantikan oleh mesin. Di sinilah kesabaran dipahami bukan sebagai kepasrahan, melainkan keteguhan hati untuk terus belajar (up-skilling) sambil tetap bertawakal bahwa AI hanyalah alat, sedangkan Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) adalah Allah SWT.
Tantangan: Jangan Sampai "Kehilangan Ruh"
Namun, ada sebuah catatan kritis. Islam mengajarkan bahwa inti dari keberkahan adalah niat dan kehadiran hati (khudurul qalb). Bahaya terbesar AI adalah ketika ia membuat manusia menjadi malas secara spiritual. Jika kita meminta AI membuatkan doa tanpa kita meresapi maknanya, atau meminta AI menuliskan pesan permohonan maaf tanpa ada rasa penyesalan di hati, maka di situlah letak kerugian yang nyata.
AI boleh membantu kita mengerjakan laporan, tapi AI tidak bisa menggantikan ruku' dan sujud kita. AI bisa merangkumkan isi Al-Qur'an, tapi ia tidak bisa menggantikan getaran hati saat kita membacanya dengan lisan sendiri.
Penutup: Menjadi Generasi Al-’Asr yang Melek Teknologi
Solusi atas percepatan waktu yang membuat kita merasa kehilangan berkah bukan dengan cara membenci teknologi, melainkan dengan mengendalikannya. Kita harus menjadi tuan atas AI, bukan pelayannya.
Mari kita optimalkan AI untuk membereskan urusan duniawi kita yang rumit dan menyita waktu, agar kita punya ruang lebih luas untuk duduk bersimpuh, merenungi ayat-ayat-Nya, dan membangun hubungan sosial yang nyata. Dengan begitu, meski waktu terasa berlalu cepat, kita tidak termasuk ke dalam golongan yang merugi. Sebagaimana pesan Surat Al-’Asr, waktu adalah modal; dan modal terbaik adalah waktu yang diinvestasikan untuk iman dan kemanusiaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
