Ketika Gen-Z Ingin Menikahi AI
Kolom | 2026-03-27 13:56:31
Dr. Susianah Affandy, M.Si
Wakil Ketua Umum IPSM Nasional
Pernikahan dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sejatinya berada di dua dunia yang berbeda. Di mata agama dan norma sosial, pernikahan adalah ikatan sakral antara dua manusia, dijalani melalui proses yang penuh makna spiritual, komitmen, dan tanggung jawab. Namun, di era digital yang serba cepat ini, batas-batas itu mulai terasa kabur.
Jagat maya sempat dihebohkan dengan kisah Ilham, seorang pemuda asal Tangerang, yang “menikahi” sosok AI bernama Sari Ai Putri—karakter virtual yang ia bangun melalui ChatGPT. Video pernikahan tersebut viral di TikTok dan meraup lebih dari 53 ribu komentar. Dari luar, kisah ini tampak absurd, bahkan mengundang tawa. Tapi di balik itu, tersimpan fenomena sosial yang jauh lebih serius: perubahan cara manusia, khususnya Gen-Z, memaknai hubungan.
Dari Kesepian ke “Koneksi Digital"
Ilham mengaku merasa “nyambung” dengan Sari. AI itu selalu ada, responsif, dan tidak menghakimi. Hal yang terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian orang—itu adalah kemewahan emosional.
Fenomena ini bukan sekadar cerita viral. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak orang, terutama Gen-Z, menjadikan AI sebagai teman curhat, bahkan sebagai “partner emosional”.
Sebuah studi menemukan adanya hubungan signifikan antara rasa kesepian dengan meningkatnya penggunaan chatbot sebagai teman interaksi.
Penelitian lain terhadap Gen-Z di Jakarta juga menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kesepian tinggi cenderung memandang AI sebagai bentuk “persahabatan yang bermakna”.
Dalam bahasa sederhana: semakin kesepian seseorang, semakin besar peluang ia “dekat” dengan AI.
Kenapa AI Terasa Lebih Nyaman?
Ada beberapa alasan mengapa AI terasa lebih “ideal” dibanding manusia, pertama, tidak menghakimi
AI tidak punya emosi, ego, atau penilaian moral. Ini membuat pengguna merasa aman untuk terbuka.
Kedua, Selalu tersedia
Berbeda dengan manusia yang sibuk atau lelah, AI selalu siap merespons kapan saja.
Ketiga, memberi Ilusi empati. Meski tidak benar-benar memiliki perasaan, AI mampu meniru respons empatik dengan sangat meyakinkan.
Penelitian menunjukkan bahwa chatbot bisa menciptakan “ruang aman” bagi pengguna untuk mengekspresikan diri, terutama bagi Gen-Z yang rentan mengalami kesepian.
Bahkan, banyak orang merasa lebih mudah curhat ke AI dibanding manusia karena faktor anonimitas dan kenyamanan psikologis.
Antara Hiburan, Pelarian, dan Realitas Baru
Kasus Ilham sendiri ternyata hanyalah konten parodi dari Bale Films. Namun, respons publik menunjukkan sesuatu yang menarik: banyak orang yang hampir percaya.
Artinya, ide “menikah dengan AI” tidak lagi terasa mustahil. Di tingkat global, fenomena ini sudah mulai terlihat nyata. Survei menunjukkan bahwa hampir 75% remaja pernah menggunakan AI companion, dan sebagian bahkan membahas hal personal dengan AI dibanding manusia.
Dalam beberapa kasus, hubungan ini bahkan berkembang ke arah romantis.
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai “artificial intimacy”—kedekatan emosional dengan entitas non-manusia yang terasa nyata.
Risiko Laten
Meski tampak membantu, hubungan dengan AI bukan tanpa risiko. Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan AI sebagai teman bisa menjadi pedang bermata dua yakni dapat mengurangi kesepian dalam jangka pendek namun juga berpotensi meningkatkan isolasi sosial dalam jangka panjang.
Ketergantungan emosional juga menjadi isu serius. Dalam satu survei, sekitar 30% responden mengaku khawatir akan ketergantungan pada AI.
Lebih jauh lagi, AI tidak benar-benar memahami emosi manusia. Ia hanya memproses pola bahasa. Akibatnya, hubungan ini bisa terasa “nyata”, tetapi sebenarnya sepihak.
Apakah Ini Masa Depan Hubungan?
Pertanyaan besarnya: apakah fenomena seperti Ilham hanyalah hiburan, atau sinyal perubahan besar dalam cara manusia mencintai?
Jawabannya mungkin: keduanya.
AI membuka kemungkinan baru dalam memenuhi kebutuhan emosional manusia—terutama bagi mereka yang merasa terpinggirkan dalam hubungan sosial. Namun, ia juga menghadirkan tantangan etis dan psikologis yang belum sepenuhnya kita pahami.
Yang jelas, generasi muda hari ini tumbuh di dunia di mana “pasangan” tidak harus manusia.
Dan mungkin, suatu hari nanti, pertanyaan “kapan nikah?” akan diikuti dengan pertanyaan baru:
“Nikahnya sama manusia atau AI?”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
