Mudik: Tradisi Tahunan, Masalah yang tak Kunjung Usai
Update | 2026-03-27 01:43:29
Mudik: Tradisi Tahunan, Masalah yang Tak Kunjung Usai
Oleh Rini Wiriadinata, S.Pd.*)
Mudik adalah tradisi menjelang Lebaran yang selalu dinantikan setiap tahun. Berkumpul bersama keluarga di kampung halaman menjadi kebahagiaan tersendiri bagi banyak orang. Namun di balik itu, perjalanan mudik sering kali diwarnai kemacetan panjang dan kecelakaan lalu lintas yang memprihatinkan.
Faktanya, setiap musim mudik kemacetan hampir selalu terjadi di berbagai titik. Di jalur Nagreg, misalnya, ratusan ribu kendaraan melintas dan menyebabkan antrean panjang hingga beberapa kilometer (metrotvnews.com, 2026). Kondisi ini membuat perjalanan menjadi sangat melelahkan, bahkan berpotensi membahayakan pengendara.
Selain kemacetan, kecelakaan juga menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. Terjadi tabrakan antara bus dan mobil kecil di Tol Pejagan–Pemalang yang menimbulkan korban jiwa (kumparan.com, 2026). Data kepolisian juga menyebutkan bahwa jumlah kecelakaan saat mudik tahun ini meningkat, meskipun korban jiwa dilaporkan menurun (kumparan.com, 2026). Hal ini tetap menunjukkan bahwa keselamatan pemudik masih menjadi masalah serius.
Kemacetan parah juga dilaporkan terjadi di Gilimanuk hingga menimbulkan korban, yang menunjukkan bahwa pengelolaan arus mudik masih belum optimal (suara.com, 19 Maret 2026). Kejadian-kejadian seperti ini terus berulang setiap tahun dan seolah belum mendapatkan solusi yang benar-benar tuntas.
Selama ini, berbagai upaya teknis sebenarnya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi persoalan mudik. Di antaranya melalui imbauan keselamatan, seperti pengecekan kondisi kendaraan, menjaga kesehatan dan stamina, menaati aturan lalu lintas, beristirahat saat lelah, serta saling mengingatkan antarpenumpang. Selain itu, dilakukan pula pengaturan arus lalu lintas seperti sistem satu arah (one way), rekayasa lalu lintas, serta penempatan petugas di lapangan, meskipun di beberapa titik masih dirasa kurang optimal dan perlu penambahan personel. Upaya-upaya ini memang dapat membantu mengurai kemacetan di beberapa lokasi.
Namun demikian, langkah-langkah tersebut belum mampu menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Kemacetan panjang dan kecelakaan tetap terjadi setiap tahun. Hal ini menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan masih bersifat sementara dan belum menyentuh akar persoalan. Dengan kata lain, belum terlihat adanya upaya yang benar-benar serius untuk mengatasi masalah mudik secara tuntas.
Di lapangan, pemudik sering dihadapkan pada berbagai kendala. Harga tiket transportasi umum yang relatif mahal saat musim mudik membuat sebagian masyarakat enggan menggunakannya. Di sisi lain, tidak semua daerah terjangkau layanan transportasi massal yang nyaman dan memadai. Akibatnya, banyak orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, meskipun harus menghadapi risiko perjalanan jauh. Selain itu, masih ditemukan kendaraan yang kurang layak jalan serta kondisi jalan yang belum optimal di beberapa titik, yang semakin meningkatkan potensi kecelakaan.
Jika dicermati lebih dalam, berbagai kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan mudik berkaitan erat dengan minimnya layanan transportasi massal yang nyaman dan terjangkau. Dampaknya, jumlah kendaraan pribadi meningkat tajam dan melampaui kapasitas jalan yang tersedia. Ditambah dengan kondisi infrastruktur yang belum sepenuhnya baik, maka kemacetan dan kecelakaan pun menjadi sulit dihindari.
Lebih jauh lagi, kondisi yang terus berulang ini menunjukkan bahwa negara belum sepenuhnya menjalankan perannya sebagai pengurus rakyat (raa’in). Dalam sistem yang berjalan saat ini, yaitu sistem kapitalisme, keselamatan dan kenyamanan masyarakat belum menjadi prioritas utama. Akibatnya, persoalan mudik yang membahayakan ini terus terjadi dari tahun ke tahun tanpa adanya solusi yang benar-benar mendasar. Hal ini menunjukkan bahwa negara masih abai dalam menjamin keselamatan rakyatnya.
Solusi atas persoalan mudik seharusnya tidak hanya bersifat sementara, tetapi menyentuh akar masalah. Negara perlu menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau dalam jumlah yang memadai, sehingga masyarakat tidak perlu bergantung pada kendaraan pribadi. Dengan adanya fasilitas ini, kepadatan kendaraan di jalan dapat dikurangi secara signifikan.
Selain itu, pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan juga harus menjadi perhatian utama. Jalan yang rusak atau tidak layak perlu segera diperbaiki, dan kapasitas jalan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan kondisi jalan yang baik dan memadai, risiko kecelakaan dapat diminimalisir dan perjalanan menjadi lebih aman.
Upaya-upaya ini hanya dapat terwujud jika negara benar-benar menjalankan perannya sebagai pengurus rakyat (raa’in). Dalam Islam, pemimpin bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Imam adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Dengan dasar ini, negara dalam sistem Islam berkewajiban mengurus seluruh kebutuhan masyarakat dan memastikan keselamatan mereka. Dengan peran tersebut, berbagai persoalan seperti kemacetan dan kecelakaan saat mudik dapat diselesaikan secara menyeluruh, sehingga masyarakat dapat merasakan perjalanan yang aman, nyaman, dan penuh ketenangan.
*) Rini Wiriadinata, S.Pd. adalah pendidik yang peduli terhadap persoalan umat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
