Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image fadhelia citra

Bukan Sekadar Hafalan: Mengapa Masa Depan Pancasila Ada di Tangan Pemuda?

Sejarah | 2025-12-22 17:37:25

Sejarah Indonesia menunjukkan satu pola yang konsisten pemuda tidak pernah absen dalam momen-momen krusial bangsa. Dari Sumpah Pemuda 1928, peristiwa Rengasdengklok 1945, hingga Reformasi 1998, perubahan besar selalu lahir dari keberanian dan idealisme anak muda. Namun ironisnya, di era sekarang, Pancasila justru kerap dianggap sekadar simbol, bahkan dicurigai sebagai “warisan politik masa lalu.

Pancasila dan Luka Sejarah Kekuasaan

Salah satu alasan mengapa Pancasila terasa menjauh dari generasi muda adalah sejarah kelam penyalahgunaannya. Pada masa Orde Baru, Pancasila dijadikan alat legitimasi kekuasaan. Tafsirnya dimonopoli negara, kritik dibungkam, dan perbedaan dianggap ancaman. Akibatnya, Pancasila kehilangan wajahnya sebagai nilai moral, dan berubah menjadi slogan yang menakutkan.

Warisan inilah yang masih terasa hingga hari ini. Sebagian orang memandang Pancasila dengan sinis, seolah ia identik dengan otoritarianisme. Padahal, yang bermasalah bukan Pancasilanya, melainkan cara kekuasaan memperlakukannya.

Pemuda: Penjaga atau Penonton?

Di tengah derasnya arus globalisasi, pemuda Indonesia dihadapkan pada tantangan baru. Bukan lagi pemberontakan bersenjata, melainkan ideologi instan, budaya individualisme, politik pragmatis, dan godaan kekuasaan yang mengabaikan moral.

Jurnal ini menegaskan bahwa tanggung jawab pemuda bukan sekadar ikut demo atau aktif di media sosial. Tanggung jawab utama pemuda adalah membangun karakter menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai kompas moral dalam berpikir dan bertindak.

Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Jika sejak muda terbiasa kompromi dengan ketidakadilan, korupsi kecil, dan kebohongan, maka jangan heran jika kelak kekuasaan kembali menyimpang.

Pancasila Bukan Ideologi Mati

Pancasila bukan ideologi yang kaku atau tertutup. Ia justru lahir dari nilai-nilai hidup masyarakat Indonesia: religius, humanis, menjunjung persatuan, demokratis, dan berkeadilan sosial. Pancasila tidak menolak agama, tidak pula menuhankan kebebasan tanpa batas.

Sebagai filsafat hidup bangsa, Pancasila seharusnya menjadi dasar dalam:

cara pemimpin mengambil keputusan, cara hukum ditegakkan, cara perbedaan disikapi, dan cara kekuasaan dikendalikan oleh moral.

Di sinilah peran pemuda menjadi krusial bukan untuk mengganti Pancasila, melainkan mengembalikannya ke makna sejatinya.

Menjaga Pancasila Dimulai dari Diri Sendiri

Menjaga Pancasila tidak selalu berarti melakukan hal besar. Ia dimulai dari hal sederhana: bersikap adil, menghargai perbedaan, berani bersuara jujur, dan menolak ketidakadilan meski terlihat “normal”.

Jika pemuda mampu menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam karakter pribadi, maka ketika mereka kelak memegang jabatan publik, Pancasila tidak lagi sekadar slogan melainkan prinsip hidup yang nyata.

Karena pada akhirnya, masa depan Pancasila tidak ditentukan oleh pidato pejabat, tetapi oleh integritas pemudanya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image