Memaknai Hari Kelahiran Pancasila
Sejarah | 2026-06-01 13:14:52
Integritas Kalah, Indonesia Rugi.
1 Juni. Kita upacara, baca Pancasila, tabur bunga. Lalu tanggal 2 Juni, kita balik ke “permainan”.
Saya nulis ini bukan karena benci upacara. Saya nulis karena ada kalimat yang ngganjel di dada 81 tahun merdeka: “Integritas bukan sekadar syarat, tapi sering dikalahkan oleh permainan.”
Kalimat itu pahit. Tapi jujur.
1. Syarat di Kertas, Mainan di Lapangan.Coba buka lowongan CPNS, tender proyek, sampai daftar RT. Baris pertama: “Memiliki integritas tinggi”.
Tapi begitu masuk lapangan, aturannya ganti. Yang lolos bukan yang paling jujur. Yang lolos yang paling “ngerti permainan”. Ngerti setor, ngerti backing, ngerti drama.
Integritas jadi formalitas. Kayak tanda tangan di materai 10rb: ada, tapi nggak ngaruh. Sementara “permainan” yang jadi hukum tak tertulis.
Ini bukan tuduhan. Ini pengakuan kolektif yang semua orang tau tapi pura-pura tuli.
2. Kalau Integritas Kalah, Siapa yang Bayar?Tan Malaka 80 tahun lalu sudah ngingetin di Madilog: _“Kalau kita hanya merdeka politik, tapi ekonomi dan mental kita dijajah, berarti kita cuma ganti tuan tanah.
“Permainan” itu penjajah baru. Bentuknya halus: suap dibungkus “uang rokok”, nepotisme dibungkus “silaturahmi”, mark-up dibungkus “biaya koordinasi”.
Korban-nya siapa? Anak yang sekolahnya ambruk karena dana BOS dipotong. Pasien yang mati karena alat RS fiktif. Petani yang pupuknya nggak sampai karena kuota “dimainkan”.
Jadi saat integritas kalah di ruang rapat, rakyat yang kalah di pasar, di rumah sakit, di jalan rusak.
3. 1 Juni: Waktunya Audit, Bukan Hanya Seremoni Pancasila lahir 1 Juni 1945 bukan buat jadi wallpaper kantor. Soekarno pidato panjang lebar intinya satu: bangsa ini harus punya kompas. Kompas itu namanya Sila 2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
“Adil” artinya hukum tajam ke atas bawah. “Beradab” artinya malu kalau korupsi. Malu kalau menang tapi caranya kotor.
Tapi 81 tahun merdeka, rasa malu itu yang paling langka. Kita lebih takut nggak kebagian proyek daripada takut dosa ke rakyat.
4. Integritas Bukan Trofi, Tapi Kompas.Saya nggak naif. Saya tau pegang integritas itu capek. Sering kalah tender. Sering dicap “sok suci”. Sering ditinggal teman.
Tapi Tan Malaka bilang: _“Kalah dalam permainan tidak apa, asal jangan kalah dalam cita-cita.”
Integritas bukan buat menang cepat. Integritas buat tidur nyenyak. Buat anak cucu nggak malu nyebut nama kita.
Indonesia merdeka 100% nggak akan lahir dari 1000 tender licik. Dia akan lahir dari 1 juta orang kecil yang nolak main kotor, walau rugi hari ini.
Republik Indonesia, Stap!Tan Malaka teriak “Republik Indonesia, Stap!” = Berdiri!
1 Juni 2026, mari kita berdiri. Bukan cuma saat bendera naik. Tapi berdiri tiap ada “permainan” yang nyekik Sila 5.
Mulai dari hal kecil: nolak amplop, lapor pungli, viral-kan ketidakadilan dengan data, bukan hoaks.
Karena kalau semua orang waras memilih diam, maka yang menang selamanya adalah “permainan”. Dan Indonesia akan merdeka 81 tahun, tapi tetap dijajah.
Integritas mungkin kalah ronde ini. Tapi kalau kita semua pegang kompas, Indonesia nggak akan kalah dalam sejarah.
Penulis adalah warga negara yang masih percaya Pancasila bukan hafalan, tapi kerjaan rumah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
