Banjir Dominasi Bencana Alam di Indonesia: Sumatera Utara Terendam
Info Terkini | 2025-12-17 18:41:08Banjir menjadi jenis bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia pada tahun 2025, dengan total 441 kasus tercatat hingga 17 Maret 2025. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa cuaca ekstrem juga menjadi bencana signifikan dengan 108 kasus, diikuti tanah longsor dengan 59 kejadian. Banjir dominasi bencana alam di Indonesia akibat pencemaran lingkungan dan perubahan iklim. Deforestasi, urbanisasi, dan pembangunan yang tidak terkendali telah mengurangi daya serap tanah dan meningkatkan limpasan air permukaan, memicu banjir. Banjir di Sumatera Utara, khususnya di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, disebabkan oleh Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B, serta kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri ekstraktif.
Rp51 Triliun untuk Perbaikan Infrastruktur Pasca Banjir Sumatra dan Aceh - Olenka.id" />
Indonesia Jadi Negara dengan Risiko Bencana Alam Tertinggi Ke-2
Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan risiko bencana alam tertinggi di dunia, setelah Filipina, dengan indeks risiko 41,13. Hal ini disebabkan oleh letak geografis Indonesia yang berada di titik pertemuan tiga lempeng tektonik, membuatnya rentan terhadap bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan gempa bumi.
Strategi Mitigasi Bencana
Pemerintah Indonesia perlu mempersiapkan strategi darurat dan mitigasi yang tepat untuk menghadapi bencana alam, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperkuat infrastruktur.
Indonesia sedang menghadapi tantangan besar terkait bencana alam, terutama banjir, yang mendominasi jenis bencana lainnya pada tahun 2025. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir telah terjadi sebanyak 441 kasus per 1 Januari hingga 17 Maret 2025, diikuti oleh cuaca ekstrem dengan 108 kasus, dan tanah longsor dengan 59 kejadian. Bencana-bencana ini telah menyebabkan kerusakan signifikan, termasuk 7.181 rumah rusak, 68 fasilitas rusak, 110 orang meninggal, dan 2.245.787 orang terdampak atau mengungsi.
Lokasi-lokasi yang terdampak termasuk Sumatera Utara, di mana empat kabupaten dilanda banjir dan longsor, menyebabkan delapan warga meninggal dan ribuan lainnya terpaksa mengungsi. Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B menjadi pemicu utama cuaca ekstrem di wilayah tersebut. BNPB terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk percepatan penanganan darurat.Indonesia sendiri berada di peringkat kedua sebagai negara dengan risiko bencana alam tertinggi di dunia, setelah Filipina, dengan indeks risiko 41,13. Hal ini disebabkan oleh letak geografis Indonesia yang berada di titik pertemuan tiga lempeng tektonik, membuatnya rentan terhadap bencana alam seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan erupsi gunung api.
Dampak Bencana Alam
7.181 rumah rusak (5.379 rusak ringan, 1.005 rusak sedang, 797 rusak berat), 68 fasilitas rusak (42 unit pendidikan, 19 rumah ibadat, 7 fasyankes), 110 orang meninggal, 17 orang hilang, 121 orang luka-luka, 2.245.787 orang terdampak atau mengungsi.
Lokasi Terkena Bencana
- Sumatera Utara: 4 kabupaten dilanda banjir dan longsor, 8 warga meninggal, 58 luka-luka, 2.851 warga mengungsi
- Tapanuli Tengah: 1.902 unit rumah terdampak banjir di 9 kecamatan
- Tapanuli Utara: 50 unit rumah terdampak, 2 jembatan terputus
Penyebab Bencana
Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B memicu hujan lebat dan angin kencang di Sumatera Utara dan cuaca ekstrem dan perubahan iklim meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Upaya Penanganan
- BNPB melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk percepatan penanganan darurat
- BPBD dan tim gabungan mendirikan tenda pengungsi dan mendistribusikan bantuan sembako
- Masyarakat diimbau untuk memantau informasi prakiraan cuaca dan mengikuti instruksi resmi dari petugas di lapangan
Bencana alam di Indonesia pada tahun 2025 didominasi oleh banjir, dengan total 441 kasus tercatat per 1 Januari hingga 17 Maret 2025. Cuaca ekstrem juga menjadi bencana signifikan dengan 108 kasus, diikuti tanah longsor dengan 59 kejadian. Bencana-bencana ini telah menyebabkan kerusakan signifikan, termasuk 7.181 rumah rusak, 68 fasilitas rusak, 110 orang meninggal, dan 2.245.787 orang terdampak atau mengungsi. Lokasi-lokasi yang terdampak termasuk Sumatera Utara, di mana empat kabupaten dilanda banjir dan longsor, menyebabkan delapan warga meninggal dan ribuan lainnya terpaksa mengungsi. Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B menjadi pemicu utama cuaca ekstrem di wilayah tersebut.
BNPB terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk percepatan penanganan darurat. BPBD dan tim gabungan mendirikan tenda pengungsi dan mendistribusikan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak. Masyarakat diimbau untuk memantau informasi prakiraan cuaca dan mengikuti instruksi resmi dari petugas di lapangan. Indonesia sendiri berada di peringkat kedua sebagai negara dengan risiko bencana alam tertinggi di dunia, setelah Filipina, dengan indeks risiko 41,13. Hal ini disebabkan oleh letak geografis Indonesia yang berada di titik pertemuan tiga lempeng tektonik, membuatnya rentan terhadap bencana alam seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan erupsi gunung api.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
