Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Angges Bahrul Salianggo

Ulah Manusia Dibalik Huru-hara Banjir Sumatera 2025

Info Terkini | 2025-12-16 04:12:47

Pada akhir November hingga Desember 2025 pulau sumatera bagian utara yang meliputi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda bencana banjir bandang yang dipicu oleh hujan ekstrem secara terus-menerus selama beberapa hari. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tercatat bahwa pada beberapa titik curah hujan di lokasi bencana mencapai lebih dari 300 millimeter dalam satu hari yang membentuk Siklon Tropis Senyar di perairan selat malaka. Hal ini merupakan hal yang tidak biasa terjadi di perairan sumatera.

Besarnya skala bencana membuat korban bertambah setiap harinya. Laporan resmi yang dikeluarkan menjelang pertengahan desember menyebutkan korban jiwa telah mencapai lebih dari 1.000 orang, ratusan masih menghilang, dan jutaan warga terpaksa mengungsi akibat bencana ini. Kerusakan akibat bencana ini sangatlah parah seperti merusak rumah dan permukiman warga hingga infrastruktur umum di lokasi bencana. Berdasarkan skala kerusakan dan kerugiannya, hal ini menunjukkan bahwa bencana ini menjadi salah satu bencana yang paling parah dan merusak dalam sejarah modern Indonesia.

Setelah mendapatkan laporan terkait bencana ini, dapat diketahui beberapa faktor dibalik terjadinya bencana besar ini. Para pakar menjelaskan bahwa faktor alam saja tidak akan cukup untuk menjelaskan bencana yang sebesar ini. Deforestasi, pembukaan lahan, dan penggunaan tanah yang kurang terkontrol turut andil dalam memperparah banjir ini karena hal tersebut dapat berdampak terhadap fungsi hutan untuk menyokong tanah dan menyerap curah air hujan. Beberapa perusahaan juga dicurigai turut terlibat dalam kegiatan tersebut hingga terdapat beberapa perusahaan yang izin operasinya dicabut atau dibekukan.

Respon pemerintah dalam menanggapi tragedi ini juga turut menjadi sorotan publik. Pemerintah berupaya untuk melakukan evakuasi dan penyaluran bantuan melalui rapat dan pengambilan kebijakan. Namun sayangnya, proses yang dilakukan pemerintah dalam menentukan tingkat bencana dinilai kurang cepat oleh publik karena melihat parahnya keadaan di lokasi bencana. Tak hanya diam, beberapa publik figur bahkan secara sukarela bergerak untuk menggalang donasi bagi korban terdampak di lokasi bencana. Hal ini dinilai publik lebih efisien dan cepat dari pada langkah yang diambil oleh pemerintah.

Bencana ini seharusnya menjadi momentum kita semua untuk lebih sadar akan pentingnya kebijakan lingkungan dan tataruang nasional. Sangat diperlukan reformasi kebijakan dengan memperkuat regulasi hutan, pengelolaan tata air, hingga mitigasi bencana berbasis komunitas agar hal ini dapat dicegah. Laporan dari berbagai sumber ilmiah dan organisasi kehutanan menunjukkan bahwa krisis iklim dan penggunaan lahan yang buruk merupakan kombinasi yang memperparah kejadian ekstrem seperti ini.

Ini bukan hanya soal alam yang sedang marah, tetapi soal bagaimana manusia mengelola alamnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image