Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nafis ista

Keajaiban Komunikasi dalam Perawatan Pasien

Pendidikan dan Literasi | 2025-12-11 23:29:24

Keajaiban Komunikasi dalam Perawatan Pasien

Oleh: Nafis Ista Masita

by: pinterest

Dalam pelayanan kesehatan, interaksi antara perawat dan pasien sering dianggap sepele, padahal kata-kata yang disampaikan dengan jelas, tulus, dan empati memiliki kekuatan besar. Komunikasi efektif bukan sekadar sikap ramah, penelitian terbaru menunjukkan bahwa komunikasi yang baik dapat meningkatkan kepuasan pasien, mempercepat proses pemulihan, dan bahkan mengurangi risiko kesalahan medis. Penelitian (Izzah et al., 2025) menyatakan bahwa komunikasi terapeutik perawat secara signifikan meningkatkan kepuasan pasien rawat inap di rumah sakit

Secara umum definisi komunikasi menurut Carl I. Hovland adalah proses di mana individu mengirimkan pesan untuk mengubah perilaku orang lain. Didukung dengan pengertian Onong Uchjana Effendy yang menjelaskan bahwa komunikasi merupakan proses di mana individu mengirimkan pesan untuk mengubah perilaku orang lain. Keduanya sejalan dengan komunikasi terapeutik oleh tenaga kesehatan pada pasien, bahwasanya komunikasi perawat tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu menciptakan hubungan yang membantu pasien mencapai kondisi psikologis yang lebih baik. komunikasi terapeutik pada pasien merupakan proses pertukaran pesan yang bertujuan menghasilkan perubahan positif dalam sikap, emosi, dan perilaku pasien, selaras dengan esensi komunikasi menurut kedua ahli tersebut.

Komunikasi efektif tidak hanya mempengaruhi emosi pasien, tetapi juga langsung berdampak pada kepatuhan dan kepuasan mereka selama menjalani pengobatan dan perawatan. Ketika perawat berbicara dengan nada yang menenangkan, memberikan penjelasan yang mudah dimengerti, serta menunjukan empati, maka pasien akan merasa diperlakukan sebagai manusia bukan hanya sebagai kasus medis.

Kepuasan pasien akan tumbuh saat mereka merasa didengarkan, dimengerti, dan diperlakukan dengan hormat. Perawat yang berkomunikasi secara hangat dan terstruktur mampu memberikan rasa aman serta meningkatkan kepercayaan pasien.

Praktik komunikasi efektif perawat dapat dicapai melalui beberapa strategi seperti active listening (mendengarkan secara aktif) yakni mendengarkan keluhan pasien juga memahami perasaan dan makna di baliknya (Abdulla & Alshahrani, 2024), menggunakan bahasa yang jelas dan tidak menghakimi dengan menghindari istilah medis yang sulit sehingga pasien dapat benar-benar mengerti kondisi dan rencana perawatan mereka, berinteraksi dengan kalimat yang penuh empati dapat mengubah suasana hati pasien, serta mampu mencerminkan empati melalui suara, intonasi,dan pilihan kata yang membuat pasien merasa tenang.

Komunikasi yang jelas menjadi fondasi keselamatan pasien. Kesalahan dalam serah terima pasien (handover) atau pemberian obat sering terjadi akibat miskomunikasi. Praktik komunikasi efektif dengan implementasi metode komunikasi SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) terbukti menurunkan risiko miskomunikasi dan meningkatkan keselamatan pasien (Pazar et al., 2024). Dengan kata lain, komunikasi efektif bukan sekadar formalitas, melainkan alat klinis yang krusial.

Tantangan Implementasi Nyata

Adapun beban kerja tinggi, pergantian shift, dan dokumentasi yang padat menjadi hambatan nyata dalam komunikasi efektif. Selain itu, perawat juga menghadapi realitas lain: perbedaan budaya, bahasa, dan literasi kesehatan pasien. Setiap pasien datang dengan latar belakang unik, cara memahami informasi yang berbeda, serta tingkat kecemasan yang tidak sama. Semua ini membuat interaksi terapeutik menjadi lebih kompleks. Hal inilah komunikasi efektif bukan hanya keterampilan, tetapi sebuah tantangan harian yang membutuhkan kesabaran, pemahaman, dan ketahanan emosional.

Solusi

Salah satu langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pengalaman pasien adalah melalui pelatihan komunikasi yang terstruktur dan berkelanjutan bagi perawat. Penelitian di RS Pangkalpinang menunjukkan bahwa setelah mengikuti pelatihan, kompetensi klinis perawat meningkat signifikan dari 72,4 menjadi 85,7, sementara kepuasan pasien juga naik dari 78,2 menjadi 88,9, dengan analisis statistik menunjukkan pengaruh positif pelatihan terhadap kedua aspek tersebut. Hasil ini menegaskan bahwa pelatihan komunikasi tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis perawat, tetapi juga memperkuat kemampuan mereka dalam menghadapi interaksi yang kompleks dengan pasien, sehingga pelayanan menjadi lebih efektif dan pengalaman pasien lebih memuaskan(Pakpahan et al., 2025). Dengan rutin mengimplementasikan pelatihan semacam ini, rumah sakit dapat menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kompetensi perawat sekaligus meningkatkan kualitas keseluruhan layanan kesehatan

Komunikasi efektif antara perawat dan pasien bukan sekadar “soft skill”, melainkan bagian inti dari praktik keperawatan yang aman dan bermutu. Kata-kata yang jelas, empatik, dan tulus dapat menjadi “obat” yang memperkuat proses penyembuhan, membangun kepercayaan pasien, dan menciptakan lingkungan kerja yang harmonis bagi tenaga kesehatan. Rumah sakit yang memprioritaskan komunikasi terapeutik akan melihat peningkatan keselamatan pasien, kepuasan pasien yang lebih tinggi, dan kesejahteraan perawat yang terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulla, S., & Alshahrani, A. (2024). Effective Nurse-Patient Communication : Strategies , Barriers , and Impacts on Patient Care and Outcomes. 7, 871–875.

Izzah, N., Khasanah, E. A., & Kusuma, N. I. (2025). Effective therapeutic communication by nurses improves inpatient satisfaction on Hospital Wards. 7(2), 127–135.

Pakpahan, S. W., Hendriana, H. H., Pascasarjana, P., Manajemen, M., Adhirajasa, U., Sanjaya, R., Bandung, K., & Barat, P. J. (2025). Jurnal Pengabdian Nasional ( JPN ) Indonesia Pengaruh Pelatihan Komunikasi terhadap Kompetensi Klinis Perawat dan Kepuasan Pasien di RS Pangkalpinang Abstrak Jurnal Pengabdian Nasional ( JPN ) Indonesia. 6(3), 599–607.

Pazar, B., Kavakli, O., Ak, E. N., & Erten, E. E. (2024). Implementation and Evaluation of the SBAR Communication Model in Nursing Handover by Pediatric Surgery Nurses. Journal of Perianesthesia Nursing : Official Journal of the American Society of PeriAnesthesia Nurses, 39(5), 847–852. https://doi.org/10.1016/j.jopan.2023.12.021

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image