Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wuri Syaputri

Capek dan Seni Menjawab Tanpa Bercerita

Gaya Hidup | 2026-01-21 12:14:08

Oleh Wuri Syaputri

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Ilustrasi gambar dibuat oleh AI

Dalam percakapan sehari-hari, pertanyaan “apa kabar” hampir selalu dijawab dengan respons yang sama. Capek, sibuk, atau lumayan. Jawaban ini singkat, umum, dan jarang ditindaklanjuti. Kita mengucapkannya tanpa perlu berpikir panjang, dan lawan bicara biasanya tidak meminta penjelasan lebih lanjut.

Fenomena ini menarik jika dilihat dari sudut pandang bahasa. Kata capek dan sibuk tidak hanya berfungsi sebagai deskripsi keadaan, tetapi juga sebagai strategi komunikasi. Ia menjawab pertanyaan tanpa benar-benar membuka cerita.

Dalam pragmatik, jawaban semacam ini berfungsi sebagai minimal response. Geoffrey Leech (1983) menjelaskan bahwa penutur sering memilih ujaran yang paling ekonomis untuk menjaga kelancaran interaksi. Dengan kata lain, bahasa tidak selalu digunakan untuk menyampaikan informasi sebanyak mungkin, melainkan secukupnya agar percakapan tetap berjalan tanpa beban.

Kata capek terdengar personal, tetapi sebenarnya sangat umum. Ia bisa berarti kelelahan fisik, kejenuhan, atau sekadar penanda bahwa seseorang tidak ingin bercerita lebih jauh. Justru karena maknanya longgar, kata ini aman. Lawan bicara memahami, tetapi tidak merasa perlu menggali.

Hal serupa berlaku pada kata sibuk. Secara leksikal, sibuk berarti memiliki banyak kegiatan. Namun, dalam praktik tutur, kata ini sering berfungsi sebagai penutup. Ia memberi sinyal bahwa waktu terbatas dan percakapan sebaiknya tidak diperpanjang. Bahasa bekerja sebagai pengatur jarak.

Penelitian Deborah Tannen (2005) tentang percakapan sehari-hari menunjukkan bahwa banyak ujaran digunakan bukan untuk bertukar informasi, melainkan untuk mengelola hubungan sosial. Jawaban singkat seperti capek atau sibuk menjaga kesopanan tanpa menuntut keterlibatan emosional yang lebih dalam.

Menariknya, kata-kata ini sering dianggap jujur. Padahal, kejujuran di sini bersifat strategis. Kita jujur sejauh yang aman. Bahasa memberi kita alat untuk mengatakan sesuatu tanpa mengatakan segalanya. Dalam kehidupan sosial yang serba cepat, kemampuan ini menjadi penting.

Di media sosial dan pesan singkat, kecenderungan ini semakin kuat. Ruang percakapan terbatas, perhatian terpecah, dan respons panjang sering dianggap berlebihan. Kata capek dan sibuk pas dengan ritme ini. Ia cepat diketik, cepat dipahami, dan cepat ditinggalkan.

Dalam sosiolinguistik, ini berkaitan dengan konsep face atau citra diri dalam interaksi. Brown dan Levinson (1987) menjelaskan bahwa penutur berusaha menjaga citra diri sendiri dan lawan bicara. Dengan tidak bercerita panjang, penutur menghindari risiko dinilai mengeluh, terlalu pribadi, atau merepotkan.

Namun, penggunaan kata-kata aman ini juga membentuk kebiasaan. Percakapan menjadi dangkal, meskipun sering. Kita saling bertanya kabar, tetapi jarang benar-benar tahu kabar. Bahasa memenuhi fungsi sosialnya, tetapi mengurangi kedalaman.

Hal ini tidak serta-merta negatif. Dalam banyak situasi, jawaban singkat justru menjaga keharmonisan. Tidak semua pertemuan membutuhkan cerita panjang. Bahasa memberi kita pilihan untuk hadir tanpa harus membuka seluruh isi diri.

Masalah muncul ketika kata-kata ini menjadi satu-satunya bentuk respons. Ketika capek selalu menjadi jawaban, bahasa kehilangan kemampuannya untuk menampung pengalaman yang lebih kompleks. Kita terbiasa menyingkat perasaan agar percakapan tetap ringan.

Kesadaran berbahasa menjadi penting di sini. Bukan untuk mengganti kata capek atau sibuk, tetapi untuk memahami fungsinya. Bahasa bukan hanya alat ekspresi, tetapi juga alat pengaturan jarak. Dengan menyadari itu, kita bisa memilih kapan ingin singkat, dan kapan ingin bercerita.

Pada akhirnya, kata capek dan sibuk mengajarkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, bahasa sering bekerja lebih sebagai penutup daripada pembuka. Ia melindungi, tetapi juga membatasi. Dan di situlah letak kekuatannya sekaligus keterbatasannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image