Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Cetalitha Aqilah Nauranadaa Radini

Dinamika Budaya Larungan Yogyakarta dari Masa Majapahit hingga Kini

Kultura | 2025-12-03 15:48:13

Larungan merupakan salah satu tradisi penting yang hingga kini tetap hidup di berbagai wilayah Yogyakarta, terutama di kawasan pesisir pantai dan bantaran sungai. Upacara adat ini berfungsi sebagai sarana ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta sebagai permohonan perlindungan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Lebih dari sekadar ritual, larungan menampilkan nilai-nilai keselarasan antara manusia dan alam, serta memperlihatkan keterhubungan sosial dan spiritual dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta.

sumber: www.youtube.com

Asal usul Larungan gimana sih?

Akar tradisi ini diyakini berasal dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit, ketika masyarakat mengenalnya sebagai “Larung Sesaji”. Pada waktu itu, sesaji yang dihanyutkan berupa aneka hasil bumi seperti tumpeng, ingkung ayam, bubur merah putih, pisang raja, bunga setaman, uang logam, dan janur kuning. Prosesi tersebut dianggap sebagai bentuk penghormatan sekaligus persembahan kepada penguasa laut yang dipercaya mampu memberikan kemakmuran dan keselamatan bagi warga. Keyakinan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa pada masa lampau membangun hubungan simbolik dengan kekuatan alam yang mereka anggap berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

Seiring perkembangan sosial dan perubahan pola pikir masyarakat, makna larungan mengalami perluasan. Ritual ini tidak lagi sekadar dipersembahkan untuk penguasa laut, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap para leluhur. Larungan kemudian berkembang sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, sekaligus mencerminkan kearifan lokal yang terus diwariskan lintas generasi.

Pelaksanaan larungan berpedoman pada primbon Jawa, yaitu naskah tradisional yang memuat ajaran moral, pedoman adat, dan prinsip spiritual masyarakat Jawa. Dalam primbon dijelaskan tahapan penting yang harus dilalui dalam prosesi larungan, yaitu:

1. Pembuatan Sesaji.

Sesaji disiapkan dari bahan-bahan alami seperti beras, jagung, buah-buahan, serta unsur simbolik yang diyakini memiliki makna tertentu. Setiap elemen sesaji dianggap membawa doa, harapan, dan nilai spiritual tersendiri.

2. Doa dan Upacara Adat.

Sebelum prosesi pelarungan dimulai, tokoh agama atau sesepuh memimpin doa serta ritual adat. Tahap ini menjadi momen penting untuk mengucapkan syukur, memohon keselamatan, serta mengharmoniskan niat masyarakat yang berpartisipasi.

3. Pelarungan.

Sesaji kemudian dihanyutkan ke laut atau sungai. Pada tahap ini masyarakat menyampaikan doa, harapan, serta rasa hormat kepada alam. Prosesi tersebut diyakini sebagai upaya menjaga keseimbangan hidup serta memperkuat ikatan sosial antarwarga.

Secara keseluruhan, larungan bukan hanya warisan budaya, tetapi juga representasi cara pandang masyarakat Yogyakarta dalam memahami hubungan spiritual, sosial, dan ekologis. Tradisi ini menegaskan bahwa harmoni antara manusia dan alam bukanlah konsep abstrak, melainkan praktik budaya yang terus dijalankan dari masa ke masa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image