Pentingnya Pemberdayaan Masyarakat di Kalangan Mahasiswa
Humaniora | 2025-12-03 02:26:19
Mahasiswa yang seyogyanya menjadi pelajar, dan tidak mementingkan Tri Perguruan Tinggi tidak bisa disebut sebagai mahasiswa. Hanya dua kata di KBBI yang mendapatkan kata “maha,” Mahasiswa, dan Maha-Esa. Di tengah pembelajaran perguruan tinggi, pastinya terdapat hal-hal yang bisa dilakukan, terlebih, dalam jenjang perguruan tinggi, waktu luang yang ada tidaklah sama dengan jenjang-jenjang lain. Saat jenjang SMA, waktu luang sungguh lebih sedikit karena menggunakan waktu dari pagi hingga sore, terlebih jika mungkin ada yang belajar dengan guru di bimbel. Di perguruan tinggi, waktu-waktu luang ini dapat diisi dengan berbagai kegiatan bermanfaat bagi orang-orang yang secara kemampuan tidak mumpuni. Disaat inilah mahasiswa bisa menegakkan Tri Perguruan Tinggi.
Di jenjang SMA, saya belum banyak terlibat dalam berpartisipasi kegiatan sosial masyarakat. Pada saat itu saya tidak memahami betapa timpangnya ekonomi, bahkan pendidikan diluar sana. Saya mulai mengikuti kegiatan-kegiatan volunteer ketika diajak oleh teman saya. Lalu saya ikuti organisasi yang bernama Firefly Pathway, yang melakukan edukasi dan pemberian sembako kepada panti-panti dan anak-anak yang membutuhkan. Disinilah kisah pengabdian saya dimulai.
Saat perkuliahan semester 1 saya dimulai, saya diterima dalam program MAGANG BEM Fakultas Hukum 2025, dalam Departemen Pengabdian Masyarakat. Disini, meski telah berjalan 3 bulan sejak diterima, saya mendapatkan banyak hal yang bisa saya bagikan ke kalian semua. Dalam departemen ini, saya telah melakukan 2 program kerja yaitu Sekolah Karsa dan Pelita.
Sekolah Karsa merupakan program yang ditujukan untuk anak-anak yang diselenggarakan selama 5 minggu. Disini mereka diajarkan mengenai lingkungan, diri, dan lain-lain. Yang saya pahami adalah kebanyakan anak-anak memang ingin untuk belajar, namun wadah tersebut masih kurang diakomodasi oleh guru. Guru dengan gaya belajar yang membosankan, tentunya dapat membuat bosan anak-anak yang ingin belajar. Di Sekolah Karsa, cara belajar untuk adik-adik adalah interaksi yang maksimal. Materi yang dibahas terlebih dahulu, lalu pertanyaan, hingga praktik yang dilakukan oleh adik-adik sendiri dengan bantuan panitia. Bahkan mempelajari materi tentang hewan, lalu melihat binatang-binatang aslinya dalam Kebun Binatang Surabaya.
Lalu ada pelita, dimana saya diberi amanah untuk memandu jalannya acara. Pelita merupakan program dimana kami memberi edukasi dan kegiatan-kegiatan menyenangkan untuk anak-anak disabilitas. Kami menyelenggarakan program ini di YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat) Surabaya. Dimana kami menyusun puzzle bersama, hingga menghias kue bersama. Dalam program ini saya mendapatkan wawasan bahwa membina anak disabilitas merupakan hal yang seru, disaat yang bersamaan, sangat melelahkan bagi mereka yang membutuhkan perhatian ekstra. Namun dengan dinamika tersebut, orang-orang yang memang sepenuh hati mendampingi anak-anak tersebut merupakan orang-orang yang peduli dengan sekitar, seperti manusia seyogyanya.
Dalam kisah pengabdian saya selama beberapa bulan ini, saya merasa kurang sekali berinteraksi dengan warga sekitar. Masih banyak sekali orang-orang yang membutuhkan bantuan, anak-anak yang membutuhkan edukasi, dan lain lain. Disinilah kesadaran saya mulai tumbuh, dengan kebanyakan teman-teman saya yang lebih memilih untuk diam dan menghabiskan waktu di cafe, lebih baik menggunakan waktu luang tersebut untuk membantu orang-orang lain yang memang membutuhkan. Hal ini harus muncul dari kesadaran diri masing-masing. Dengan kesadaran penuh seyogyanya mempunyai pikiran seperti ini, namun nyatanya tidak. Hal inilah yang harus mulai kita ubah. Mulai dengan diri sendiri, lalu keluarga, lalu teman-teman, dan saya yakin hal ini dapat berpengaruh ke masyarakat dan membantu masyarakat secara penuh.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
