Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hanin Mumtaz

Eko-Sufisme: Merawat Bumi sebagai Jalan Mendekatkan Diri kepada Allah

Agama | 2025-11-27 03:38:57

Oleh: Hanin Mumtazsalma Mardanu

Ilustrasi manusia merawat alam sebagai bentuk kesadaran ekologis.

REPUBLIKA.CO.ID, – Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke sebuah pesantren di lereng gunung. Di sana, seorang kiai tua bercerita dengan tenang bagaimana ia ‘berbicara’ dengan pepohonan yang ia tanam—sebuah bentuk zikir yang ia hayati sebagai dialog antara manusia dan alam. Pengalaman sederhana namun mendalam itu mengingatkan saya pada sebuah tradisi intelektual Islam yang kerap terlupakan: Eko-Sufisme.

Dalam hiruk-pikuk isu perubahan iklim dan krisis lingkungan, solusi yang ditawarkan umumnya bersifat teknis dan materialistis: mengurangi emisi karbon, mendaur ulang, beralih ke energi terbarukan, dan sebagainya. Langkah-langkah itu tentu sangat penting. Namun, ada pendekatan lain yang lebih mendasar, menyentuh akar cara kita memandang alam—pendekatan yang tumbuh dari khazanah spiritual Islam. Inilah yang disebut Eko-Sufisme, suatu cara berpikir yang menempatkan alam sebagai mitra spiritual dan bukan sekadar objek eksploitasi.

Apa itu Eko-Sufisme? Secara sederhana, ini adalah lensa tasawuf yang memandang alam semesta tidak sekadar sebagai sumber daya yang harus dikelola, melainkan sebagai jejak-jejak (ayat) keagungan Ilahi yang hidup. Merusak alam, dalam perspektif ini, bukan hanya pelanggaran ekologis, melainkan juga sebuah bentuk pengingkaran spiritual.Bagi para penempuh jalan tasawuf, alam raya ini bukanlah benda mati. Ia adalah pentas tempat Nama-nama dan Sifat-sifat Allah (Asma'ul Husna) menampakkan diri (tajalli).

Allah SWT berfirman, "Dan tidak sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka." (QS. Al-Isra': 44). Ayat ini mengajarkan kita bahwa setiap elemen ciptaan—gunung, pepohonan, sungai, bahkan binatang—memiliki cara mereka sendiri untuk mengingat dan memuliakan Penciptanya. Mereka adalah komunitas spiritual yang patut kita hormati, bukan objek mati yang bisa kita eksploitasi sewenang-wenang.

Alam sebagai Cermin Keilahian (Tajalli)

Para sufi melihat alam sebagai manifestasi (tajalli) dari Nama-nama dan Sifat-sifat Allah (Asma'ul Husna). Seorang pecinta alam yang terpesona oleh keindahan panorama gunung, misalnya, sebenarnya sedang menyaksikan cerminan dari nama-Nya Al-Jamil (Yang Maha Indah). Seorang ilmuwan yang kagum pada keseimbangan ekosistem, sedang membaca tanda-tanda Al-Mu'idd (Yang Maha Menyiapkan/Mengatur) dan Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana).

Konsep ini mengubah hubungan kita dengan bumi dari hubungan "subyek-obyek" menjadi hubungan "aku-Dia". Alam bukan lagi "itu", melainkan "Dia" dalam artian sebagai tanda yang menunjuki pada Sang Pencipta. Dalam kitabnya, Ibnu Arabi, sufi besar, bahkan menyatakan, "Siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya." Pengetahuan diri ini tidak terlepas dari memahami diri sebagai bagian mikrokosmos dari alam semesta (makrokosmos) yang sama-sama memancarkan keberadaan Ilahi.

Khalifah yang Beradab, Bukan Penguasa yang Serakah

Firman Allah, "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: 'Aku hendak menjadikan khalifah di bumi'." (QS. Al-Baqarah: 30). Gelar "khalifah" sering disalahartikan sebagai legitimasi untuk menaklukkan dan mendominasi. Padahal, esensi kekhalifahan adalah amanah (tanggung jawab) yang berat.

Seorang khalifah yang baik adalah pemimpin yang adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap apa yang dipimpinnya. Jika kita adalah khalifah di bumi, maka bumi beserta seluruh isinya adalah "rakyat" yang harus kita lindungi dan pelihara dengan sebaik-baiknya. Merusak lingkungan adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah agung ini.

Praktik Spiritual yang Konkret

Lantas, bagaimana Eko-Sufisme diwujudkan dalam tindakan nyata?

 

  1. Zikir Ekologis: Setiap aksi kita merawat lingkungan bisa diangkat menjadi bentuk zikir. Menanam pohon adalah zikir dengan tangan, membersihkan sungai adalah zikir dengan tenaga, dan menghemat air adalah zikir dengan gaya hidup. Setiap tindakan ini dilakukan dengan kesadaran bahwa ia adalah bagian dari ibadah kepada Allah.
  2. Menyambung Silaturahim dengan Alam: Konsep silaturahim dalam Islam tidak hanya untuk sesama manusia. Nabi SAW bersabda tentang gunung Uhud, "Ini adalah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya." (HR. Bukhari-Muslim). Hadis ini mengajarkan kita untuk membangun hubungan cinta dan respek dengan elemen alam.
  3. Hijau sebagai Warna Iman: Menjalankan sunah Nabi untuk tidak boros (israf), bahkan dalam menggunakan air untuk wudhu. Memelihara tumbuhan, sebagaimana sabda Nabi bahwa seorang Muslim yang menanam pohon, lalu hasilnya dimakan burung atau manusia, itu bernilai sedekah. Ini adalah praktik ekonomi sirkular yang bersumber dari spiritualitas.

Maka, Eko-Sufisme bukan sekadar wacana. Ia adalah seruan untuk sebuah 'jihad ekologis' dengan senjata zikir dan cinta. Merawat semut yang berlalu adalah bagian dari syukur, menghemat setetes air adalah bentuk dari ma'rifat. Di tangan kitalah, bumi yang sunyi ini menanti untuk kembali didendangkan sebagai ayat-ayat-Nya yang hidup.

Eko-Sufisme menawarkan revolusi kesadaran. Ia mengajak kita untuk tidak hanya melihat krisis lingkungan sebagai masalah tekno-ekonomi, tetapi lebih sebagai krisis spiritual. Kerusakan di luar diri (alam) adalah cermin dari kerusakan di dalam diri (jiwa) yang telah lupa akan posisinya sebagai hamba dan khalifah.

Dengan merawat bumi, kita sebenarnya sedang merawat hubungan kita dengan Allah. Dengan menyayangi makhluk, kita memantulkan kasih sayang kepada Al-Khaliq. Di tengah gencarnya gelombang konsumerisme dan eksploitasi, Eko-Sufisme hadir sebagai suara penyejuk yang mengingatkan: jalan kembali kepada Allah juga melalui pelukan kita pada sejumput tanah, kicauan burung, dan rindangnya pepohonan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image