Gelombang Keluhan Pertalite dan Motor Mogok: Saat Kepercayaan Publik Diuji
Info Terkini | 2025-11-18 23:25:40
Dalam beberapa minggu terakhir, masyarakat di Jawa Timur menghadapi keresahan yang tak biasa. Ratusan motor dilaporkan mengalami gangguan setelah pengisian Pertalite, mulai dari mesin tersendat, tenaga hilang, hingga mati total saat dipakai. Keluhan yang sering muncul menjadikan penyebab terjadinya penyebaran cepat melalui media sosial.
Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus mencatat bahwa hingga awal November ada sekitar 800 aduan kendaraan yang diduga terkait penggunaan pertalite dan 57 % di antaranya telah melewati proses verifikasi melalui bengkel mitra. Data sebelumnya menunjukkan 162 laporan awal berasal dari Bojonegoro, Tuban, dan Surabaya daerah yang kemudian menjadi pusat perhatian publik (Herawati, 2025).
Di lapangan, para mekanik mengungkapkan pola kerusakan yang sama yaitu busi cepat menghitam, mesin tersendat pada putaran terntentu, dan ruang bakar yang kotor jauh lebih cepat dari biasanya. Situasi ini membuat spekulasi bermunculan, mulai dari dugaan adanya kontaminasi hingga penyimpangan standar distribusi BBM.
Kekhawatiran publik semakin menguat setelah Ombudsman RI Perwaklian Kalimantan Utara (Kaltara) menemukan perbedaan warna dan kandungan BBM di SPBU dan salah satu bengkel mobil di Jalan Mulawarman pada Kamis (10/4/2025). Salah satu mekanik yang ikut dalam sidak bahkan menyebut “sampel Pertalite mengandung endapan mirip abu” yang tertinggal di dasar wadah (Ombudsman RI, 2025). Temuan ini tidak serta-merta menyimpulkan penyebab kerusakan motor, namun cukup menegaskan adanya indikasi kontaminasi yang perlu diselidiki lebih lanjut.
Sementara itu, Ombudsman Jawa Timur menilai meningkatnya aduan dari masyarakat sebagai sinyal serius. Mereka mendesak Pertamina untuk mengevaluasi guna memberikan kualitas dan rantai distribusi Pertalite secara menyeluruh, dimulai dari terminal BBM, pengangkutan, hingga SPBU (Ombudsman RI, 2025). Ombudsman juga menengaskan pentingnya transparansi agar masyarakat tidak dibiarkan berspekulasi tentang kondisi BBM yang mereka gunakan sehari-hari.
Menanggapi situasi ini, Pertamina menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan pengguna sepeda motor dan menyatakan bahwa investigasi menyeluruh sedang dilakukan, termasuk pengujian laboratorium dan pengecekan rutin di SPBU (Ramdani, 2025). Namun, bagi pengguna motor pernyataan tersebut belum cukup. Kerusakan kendaraan berarti biaya perbaikan yang tidak ringan, hilangnya waktu kerja, dan risiko keselamatan di jalan. Di kalangan pekerjaan harian seperti ojek online, kurir, atau pedagang keliling, dampaknya terasa langsung pada pendapatan harian yang berkurang.
Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan BBM bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal kepercayaan. Pertalite adalah bahan bakar yang paling banyak digunakan masyarakat, sehingga gangguan sekecil apa pun menimbulkan dampak luas. Jika kualitasnya tidak diawasi dengan ketat, masyarakatlah yang menanggung risikonya.
Kejadian di Jawa Timur adalah peringatan penting mengenai perlunya pengawasan berlapis. Pemerintah, Lembaga pengawas, dan Pertamina perlu memastikan distribusi BBM berjalan dengan standar yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sisi lain, masyarakat juga harus lebih aktif melapor Ketika menemukan kejanggalan, karena suara publik merupakan bagian penting dari pengawasan itu sendiri.
Pada akhirnya, energi yang baik bukan hanya tersedia dan terjangkau, tetapi juga harus dapat dipercaya. Kasus Pertalite ini menjadi momentum untuk memperbaiki system, memperkuat pengawasan, dan mengembalikan rasa aman Masyarakat dalam menggunakan BBM yang menjadi kebutuhan utama sehari- hari
Sumber:
Julianus Palermo. (2025). Pertamina Terima 800 Laporan Kendaraan 'Brebet' di Jatim, 57% Aduan Selesai Ditangani.
Herawati, N. (2025). Pertamina Jatimbalinus Terima 162 Laporan Motor Mogok Usai Isi Pertalite. Jawa Pos.
Ombudsman RI. (2025). Sidak Ombudsman Temukan Perbedaan Warna dan Kandungan BBM di SPBU.
Ramdani, A. (2025). Pertamina Dapat 800 Keluhan Soal Motor Brebet Usai Pakai Pertalite. Merah Putih.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
