Antara Ibadah dan Realita Sosial' Telaah Cerpen Robohnya Surau Kami
Sastra | 2025-05-20 15:20:39
Cerita pendek "Robohnya Surau Kami" oleh A.A. Navis adalah karya sastra yang penuh dengan kritik sosial dan keagamaan. Cerita ini mengangkat masalah komunitas beragama yang cenderung terlalu fokus pada ritual ibadah, sementara mengabaikan tanggung jawab sosial. Tokoh utamanya, seorang kakek yang merawat surau, digambarkan sebagai individu yang sangat taat, tetapi akhirnya ia dianggap gagal dalam hidupnya, baik dari sudut pandang masyarakat maupun dalam konteks akhirat. Cerita ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna sejati dari ibadah yang tidak hanya sebatas ritual, tetapi juga harus berdampak pada perbaikan kondisi sosial.
Pembukaan narasi ini menggambarkan suasana surau yang tua dan sepi, yang menjadi simbol kemunduran semangat religius yang berarti. Kakek yang menjaga surau, yang dikenal sangat religius, menjadi representasi dari individu yang menjalankan agama dengan fokus vertikal kepada Tuhan, tanpa memperhatikan dimensi horizontal terhadap sesama. Surau yang hancur secara fisik berfungsi sebagai metafora keruntuhan fungsi sosial agama. Ini menunjukkan bahwa ibadah yang hanya bersifat seremoni tidak dapat menopang kenyataan hidup yang terus berkembang dan memerlukan tindakan nyata.
Puncak dari kritik tajam dalam cerita ini muncul di akhir ketika kakek tersebut 'dipanggil' untuk menemui Tuhan dan justru dikritik karena pasif dalam kehidupan sosial. Ini adalah sindiran yang tajam terhadap pandangan fatalis yang dipegang oleh beberapa orang, yang cenderung menyerah tanpa berupaya mengubah takdir. A.A. Navis menggunakan pendekatan alegoris untuk menggambarkan "pengadilan Tuhan" yang mempertanyakan kontribusi konkret seseorang terhadap masyarakat. Di sini, terlihat bahwa cerita ini bukan hanya moral, tetapi juga sebagai pengingat bagi umat agar menghindari terjebak dalam formalitas beragama.
Analisis ini menunjukkan bahwa Navis berusaha membangkitkan kesadaran kolektif, bahwa agama pada dasarnya memiliki peran transformatif dalam masyarakat. Ibadah yang ideal tidak hanya sebatas salat dan zikir, melainkan juga bagaimana seseorang harus adil, membantu orang lain, dan berperan aktif dalam menegakkan nilai-nilai kebaikan dalam masyarakat. Dalam konteks Indonesia pasca-kemerdekaan, cerita ini mendorong umat beragama untuk tidak hanya berfokus pada kesalehan individu, tetapi juga untuk berpartisipasi aktif dalam memajukan kehidupan sosial dan bangsa.
Dalam gaya penulisannya, Navis menggunakan bahasa yang sederhana namun memiliki ketajaman. Dialog antara tokoh terasa nyata dan mencerminkan kebingungan masyarakat mengenai konsep surga, dosa, dan tanggung jawab sosial. Narasi ini dilengkapi dengan ironi yang kuat, seperti ketika Tuhan justru menegur orang yang selama ini dianggap paling saleh. Ironi ini menjadi kekuatan suara dalam cerita, menyampaikan kritik tanpa sifat dogmatis, tetapi cukup kuat untuk membangkitkan kesadaran pembaca.
Secara ideologis, cerita ini bisa dianggap sebagai karya sastra yang mengusung humanisme religius. A.A. Navis tidak menolak agama, tetapi menginginkan reinterpretasi ajaran agama agar lebih relevan dan berdampak sosial. Ia memposisikan agama sebagai kekuatan moral yang seharusnya membentuk individu sekaligus memperbaiki masyarakat. Dalam konteks ini, Navis menempatkan tokoh kakek sebagai korban dan pelaku dari pemahaman agama yang sempit dan pasif.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
