Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Indi Sofwatun Nisa

Karakteristik Tokoh Hamidah dalam Novel Kehilangan Mestika

Sastra | 2025-05-18 23:45:56
Gambar milik sendiri.

Novel Kehilangan Mestika merupakan karya Fatimah Hasan Delais diterbitkan pada tahun 1935 oleh Balai Pustaka. Novel ini menceritakan tentang seorang gadis yang bernama Hamidah, pada umur 4 tahun ibu Hamidah meninggal dunia dikarenakan sakit. Hamidah mempunyai 6 saudara tapi dua diantaranya telah meninggal dunia. Terdapat tiga perempuan dan seorang laki-laki yang masih hidup. Ayah Hamidah merupakan orag tua yang tidak kuno dalam beradat, sehingga Hamidah dapat bersekolah di Normal Putri Padang Panjang. Setelah lulus sekolah dan mendapat surat ijazah,Hamidah kembali ke Mentok. Dalam dua bulan Hamidah belum juga mendapat surat benuman/pegawai, Hamidah sudah beberapa kali mendapat tawaran dari perguruan partikulir akan tetapi keluarganya melarangnya.

Dalam dua bulan Hamidah belum juga mendapat surat benuman/pegawai, Hamidah sudah beberapa kali mendapat tawaran dari perguruan partikulir akan tetapi keluarganya melarangnya dan ia pun menurutinya. hingga tibalah bibi Hamidah dari Pangkal Pinang, ketika bibinya ingin kembali ke Pangkal Pinang ia mengajak Hamidah untuk diperkenalkan kepada saudaranya kemudian bapaknya pun mengizinkan. ketika Hamidah sudah sampai di Kelapa, tempat pemberhentian yang terletak di pertengahan jalan antara Mentok dan Pangkal Pinang, bertemulah ia kepada Ridhan yang merupakan teman semasa kecilnya. Ridhan merupakan seorang pedagang sebagai penerus usaha dan pekerjaan ayahnya.

Hari keempat Hamidah di Pangkal Pinang. Pukul enam petang datanglah seorang sahabat ayahnya dari Mentok, mengabarkan kalau ayah hamidah sedang sakit keras mesti pulang malam itu juga. Pada siang hari tadi hamidah mendapatkan surat benuman yang ditempatkan di kampungnya tersebut. sampailah hamidah di Mentok, terdapat ayahnya sedang dikerumuni orang. ayahnya sakit dikarenakan terkejut saja, kata dokter ayahnya terkena sakit jantung. besok harinya Hamidah mengurus keperluan pekerjaannya dan lusanya ia mulai mengajar. di kampungnya hanya seorang Hamidah yang pertama kali membuka pintu pingitan bagi para gadis-gadis, sehingga ia mendapat cacian dari orang-orang. orang kampungnya masih bodoh dan kuno, tidak dapat membedakan mana yang dinamakan adat dan mana yang dinamakan agama. Hamidah bercita-cita ingin melihat saudara-saudaranya yang dikampungnya itu sama seperti di daerah Jawa. hampir setiap malam Hamidah didatangi orang yang mengajak berunding mencari upaya untuk diberi kesempatan dalam belajar. maka dari itu Hamidah mendirikan perkumpulan bagi kaum ibu.

Singkat cerita, Hamidah dipindahkan ke Palembang, Hamidah meminta tolong kepada sepupunya yang bernama Idrus, Idrus untuk mendampinginya dalam segala hal. Hamidah mulai pekerjaan yaitu menjadi guru. Pada suatu hari, datanglah Anwar kepada hamidah dan berkata bahwa ia sudah jatuh hati kepada Hamidah sehingga ia dan Idrus memperebutkannya. namun, Hamidah memilih Idrus, karena ia lelaki yang sangat mulia hatinya, pintar dalam bermusik, dan sangat sabar. hubungan Idrus dan Hamidah telah diketahui oleh orang tua masing-masing. tetapi orang tua Idrus kurang setuju terhadap Hamidah. beberapa bulan bapak Hamidah jatuh sakit sehingga meninggal, lalu Hamidah tinggal bersama saudaranyan yang berada di jakarta. pergilah Hamidah dan berpisah dengan Idrus tetapi mereka berjanji untuk saling mengirim surat. jarang sekali Idrus mengirim surat sehingga Hamidah selalu menunggunya. pada suatu hari, Hamidah ingin dikawinkan oleh saudaranya kepada saudara suaminya yang bernama Rusli. menikahlah ia tetapi dalam sepuluh tahun tidak dapat pula keturunan/anak. maka dari itu Rusli meminta izin untuk menikah lagi, lalu diizinkan oleh Hamidah. lebih kurang setahun lahirlah anak dari istri keduanya dengan jenis kelamin laki-laki. dirawatlah anak itu hingga besar akan tetapi hubungan Hamidah dengan Rusli dan madunya itu semakin renggang. bercerailah Hamidah dengan Rusli.

Dalam sinopsis yang cukup panjang, karakter tokoh Hamidah memiliki sifat yang patuh terhadap orang tua, Hamidah selalu menuruti apa yang diinginkan oleh bapaknya tetapi ia juga dapat mempertimbangkan baik buruknya keputusan yang ia ambil. Hamidah merupakan seorang yang sangat cerdas dan penyabar, ia dapat mendirikan perkumpulan kaum ibu dengan menghilangkan adat kuno yaitu gadis pingitan. Hamidah juga memiliki sifat yang gigih dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dalam pendidikan dan giat dalam bekerja. akan tetapi, Hamidah tidak beruntung dalam hal mencintai, ia kehilangan Ridhan yang mengalami kecelakaan hingga meninggal, kehilangan Idrus karena orang tuanya yang terlalu ikut campur dalam hubungannya, dan kehilangan Rusli karena ia tidak dapat memiliki anak dan menikah lagi dengan wanita yang berumur tujuh belas tahun. namun, Hamidah tetap tegar dan tidak mudah putus asa dalam menjalakan hidupnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image