Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Basruddin Fauzi

Budaya bagai Ular yang Memakan Ekornya Sendiri

Sastra | 2026-03-09 21:23:44
Gambar diambil dari pinterest https://pin.it/6g9XSVJtC

Manusia sering kali terjebak dalam paradoks kehidupannya sendiri sebuah cikal bakal kelahiran anomali yang melingkar dan tak terbatas. Mereka menciptakan apa yang dinamakan budaya, sebuah proyek eksistensi yang lahir dari kesadaran berpikir saat melewati runtutan ketiadaan yang bingar.

Barangkali terdengar kontradiktif menyebut ketiadaan sebagai sesuatu yang bingar, kacau, atau berisi. Namun, izinkan saya menjelaskan bahwa ketiadaan tidak selalu berarti "tidak ada". Sejatinya, ketiadaan adalah sebuah keadaan; sebuah eksistensi yang melekat pada setiap helai kehidupan. Ketiadaan bisa menjelma sebagai ketidaksadaran akan sekitar, atau ketidakmampuan berpikir logis yang mengakibatkan matinya jiwa. Ia adalah kekosongan yang memiliki wujud, di mana ketiadaan utama tidaklah berpaku pada visual, melainkan pada kesadaran itu sendiri. Manusia yang terperangkap di dalamnya menjadi terkurung kebebasannya, sebab mereka tidak mengerti dunia apa yang menanti di balik sekat-sekat aturan ini.

Kembali pada budaya sebagai proyek besar eksistensi manusia. Hal ini dibangun saat manusia mencapai titik kesadaran penuh akan kehidupan. Karena ketakutan bahwa hidupnya tidak berarti apa-apa, manusia menciptakan maknanya sendiri melalui budaya. Namun, ada hal yang luput disadari: budaya yang berakar akan menjadi pengikat di masa depan dan pemberi batasan bagi kebebasan mutlak kemanusiaan. Dari sana, manusia terkurung oleh norma dan aturan tak tertulis yang perlahan merenggut karakter, moral, bahkan perilaku asli mereka.

Pada akhirnya, budaya menyerupai Ouroboros ular yang memakan ekornya sendiri. Sesuatu yang awalnya dibentuk sebagai perayaan kesadaran eksistensi, justru kehilangan arah dan melahirkan manusia-manusia yang tidak memiliki kemerdekaan atas dirinya. Fenomena ini tercermin jelas dalam kisah sederhana tentang seorang perempuan dan lelaki yang malang.

Seorang perempuan terbiasa datang pagi dan menandai bangku yang biasa ia duduki. Sang lelaki datang belakangan, lalu duduk di tempat yang tidak nyaman demi menghormati aturan tak tertulis tersebut. Hingga suatu hari, sang lelaki datang lebih awal dan mendapati kursi itu kosong. Ia duduk di sana, merasa tindakan itu adil menurut konsensus kecil mereka. Namun, ketika sang perempuan datang terlambat, ia menuntut tempat itu kembali dengan dalih baru: bahwa lelaki harus mengalah pada perempuan. Di titik itulah sang lelaki terdiam, terjebak dalam perang batin antara moralitas dan logikanya, hingga akhirnya ia memilih pergi dalam diam.

Apa yang sebenarnya terjadi di sana?Budaya telah membelit pemahaman dan memutarbalikkan logika. Lelaki itu tidak hanya kehilangan bangkunya, tetapi juga harga dirinya. Ia diam bukan karena kalah, melainkan karena tersiksa oleh benturan antara moral, budaya, dan kebebasannya sendiri. Ia dikalahkan bukan oleh individu, melainkan oleh sistem yang terus-menerus menuntutnya bersikap "baik", bahkan di tengah ketidakadilan.

Begitulah nasib manusia modern. Mereka menciptakan budaya demi mencari kebebasan, tetapi akhirnya hidup hanya untuk mematuhi budaya tersebut dan mati dalam keterikatan yang bahkan tidak pernah mereka pilih. Kelak, ketika manusia terlalu sibuk menjaga adat, norma, dan moral yang tak lagi bermakna, mereka mungkin akan lupa satu hal: bahwa mereka memiliki kuasa untuk membakar semua itu, jika saja mereka benar-benar memilih untuk hidup.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image