Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image saman saefudin

Pengalaman Aneh Manusia (2): Takut dan Panik

Gaya Hidup | Wednesday, 16 Feb 2022, 12:56 WIB
Sumber gambar: https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/suasana-kepanikan-saat-para-penumpang-memaksa-turun-dari-pesawat-_180530054350-167.png

Sebut saja Anda tersesat di hutan belantara yang belum terjamah manusia. Dalam situasi panik menemukan jalan kembali, Anda terperosok pula ke sebuah lembah, mirip jurang, dan Anda masih hidup. Ketika awal memasuki hutan, Anda yakin betul bahwa tidak mungkin ada manusia lain yang masuk ke hutan tersebut. Tetapi karena situasi tersesat, pula terperosok, maka secara naluriah Anda akan berteriak sekencang mungkin: Tolooong toloong toloong. Padahal Anda mafhum, bahwa tak satupun biji manusia yang berpotensi masuk ke belantara di mana Anda tersesat di dalamnya.

Lantas, kepada siapa sebetulnya Anda meminta pertolongan? Kemungkinannya ada dua; pertama Anda sedang memelihara harapan, demi bertahan hidup. Sekecil apapun peluang itu, Anda tetap ingin meniupkan keyakinan pada pikiran dan seluruh organ yang tengah panik ini agar tetap bersemangat, berharap semesta mendukung, siapa tahu ada abang siomay nyasar kan? Atau mang tahu bulat tersesat berikut satu unit mobil pick up nya yang legend itu, kan lumayan tuh bisa pakai microphone sama toanya yang super kenceng buat minta tolong. Siapa tahu tetangga hutan nun jauh di sana lamat-lamat mendengar. Haallaaah.

Kemungkinan kedua, sebetulnya Anda sama sekali tak yakin bakal ada orang yang menolong, maka teriakan minta tolong itu bisa jadi juga bagian dari naluri asali manusia yang meyakini adanya kekuatan Adikodrati di luar dirinya dan mengendalikan semesta. Ya, keyakinan atas Tuhan. Bahwa saat hidupnya terancam, maka manusia secara naluriah akan melangitkan harapan hidup kepada Sang Pemberi Hidup.

Dengan situasi yang kurang lebih sama, mari bergeser ke cerita lain. Kali ini kisah nyata dari kakak perempuan. Suatu waktu dalam perjalanan pesawat ke Ambon, sebuah insiden terjadi menjelang pesawat landing di Bandara. Cuaca memburuk, pesawat pun tak mungkin mendarat, sehingga tetap di udara mengitari langit Ambon yang sedang berawan tebal dan hujan petir. Sampai pesawat mengalami turbulensi usai menabrak gumpalan awan. Saat itulah semua penumpang didera kepanikan, karena goncangan badan pesawat. Dalam suasana panik itu, hampir semua orang mendadak khusyu berdoa, meminta diberi keselamatan, meski tak serta merta menenangkan psikis setiap penumpang. Salah satunya penumpang di samping Kakaku, seorang mahasiswa. Sementara Kakak memilih tenang dan berdoa, dia justru terserang panic syndrom, hingga jari-jarinya mencengkram tangan Kakaku. Cengkraman begitu kuat, tangan Kakak pun membekas hitam dan sempat bengkak. Bekas luka itu bahkan masih tersisa sampai saat ini.

Begitulah kita, manusia, saat nyawa serasa di ujung tanduk, semua panik. Dalam riuh rendah kepanikan itu pula, spontan semua akan berdoa kepada Tuhan, meminta keselamatan hidup. Bahkan seorang penumpang yang kesehariannya jauh dari Tuhan, atau seperti saya yang jauh dari istiqomah beribadah, tetap saja serta merta akan khusyuk masyuk melangitkan doa-doa. Betapa tak tahu malunya kita bukan?

Bagaimana kalau pesawat yang mengalami turbulensi atau situasi emergency lainnya itu adalah sebuah jet pribadi. Pesawat mewah yang membawa para konglomerat, pesohor, atau mungkin ilmuwan yang sedang naik daun. Sambil meneguk wine yang banderolnya bisa untuk biaya hidup kita setahun, mereka mungkin membincang kehidupan sampai menertawakan Tuhan. Ya, mereka adalah orang-orang yang tak percaya Tuhan, menghabiskan sebagian usianya untuk menentang Tuhan. Lalu, ketika awak kabin tiba-tiba mengumumkan pesawat dalam kondisi darurat, entah karena cuaca ekstrem atau kerusakan mesin, apakah orang-orang ini tetap akan kukuh dengan pandangannya yang menolak Tuhan? Saya kok sangsi. Paling tidak, mereka akan berdoa sambil “menantang” atau kita mungkin menyebutnya nadzar. “Ya Tuhan, kalau memang Engkau ada, maka tunjukkan kekuatanMu. Kalau Engkau menyelamatkan aku, maka aku berjanji akan mengikuti petunjukMu”. Begitu mungkin doa dengan tetap menyelamatkan gengsi.

Pengalaman ini pernah dikisahkan Dr Laurence Brown. Bukan kehidupannya yang terancam, melainkan putrinya yang baru lahir, karena mengalami penyempitan pada lengkungan pembuluh darah aortanya, sehingga aliran darahnya terganggu. Tubuh si anak pun membiru, bukti oksigen tak mengalir dengan baik. Sebagai seorang dokter bedah di George Washington Hospital, ia sadar betul, satu-satunya jalan untuk menangani putrinya adalah dengan pembedahan jantung, meski peluangnya bayinya untuk selamat tetap saja kecil.

Brown pun dihantui ketakutan dan kepanikan. Sampai ketika putrinya segera menjalani proses pembedahan, ia yang telah lama hidup dengan keyakinan atheismenya memilih berdoa di sebuah ruang berdoa rumah sakit. Sebagai atheis, inilah pertama kalinya Brown berdoa dengan tulus, pun tetap dengan sebagian keangkuhannya yang menolak Tuhan.

“Tuhan, jika Tuhan itu memang ada, Tuhan pasti akan menyelamatkan putri saya, saya berjanji akan mencari dan mengikuti agama yang paling menyenangkan hati-Nya,”.

Singkat cerita, keajaiban pun terjadi. Tubuh anaknya membaik dan kembali normal tanpa melalui pembedahan sama sekali. Dr Maurice Brown pun menunaikan janjinya, 10 tahun mencari agama yang benar, sampai akhirnya memutuskan menjadi mualaf.

Manusia dengan potensi akalnya memang bisa menjadi hebat, tetapi sekaligus berpeluang angkuh hingga mencoba mengingkari eksistensi Tuhannya. Seperti juga dialami Maurice Brown; I Spent all of time denying God. Karena selama ini dia merasa selalu mampu menguasai dirinya, dan menyelesaikan semua masalahnya. Dia tidak pernah dihadapkan pada keputusasaan, sampai putrinya yang baru berumur satu hari dalam kondisi sekarat dan harus menjalani bedah jantung. Dalam situasi persimpangan yang diliputi takut, panik, bahkan hopeless inilah Brown mencoba kembali pada Tuhan.

Ini serupa siklus, bahwa manusia di titik terlemahnya justru akan mengakui ke-Maha Besar-an Tuhan. Sebaliknya, puncak kejayaan selalu rentan bagi manusia untuk mengunggulkan dirinya (angkuh), lantas mengecilkan peran Tuhannya. Seperti halnya Firaun kan. Jadi, kalau sejarah manusia saja diwarnai oleh proses mencari Tuhan, mungkinkah manusia dengan kesadaran murninya mampu menolak Tuhan? []

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image