Pentingnya bagi Remaja untuk Mengetahui Perilaku Seksual
Eduaksi | 2023-12-22 15:28:13
Remaja merupakan masa atau tahapan perkembangan yang akan dilewati oleh semua orang. Tumbuh menjadi dewasa tidaklah mudah untuk dilewati, terutama masa remaja. Masa remaja atau adolescence merupakan masa perubahan dalam tahap perkembangan kehidupan manusia dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa (Santrock, 2019). Menurut Sigmund Freud dalam teorinya tentang tahapan perkembangan psikoseksual, remaja akan dihadapkan pada tahap genital. Tahap genital merupakan tahap dimana perkembangan identitas terkait peran seksual dan hubungan sosial yang intim dengan orang lain sudah mulai terjadi (Irwanto & Gunawan, 2018), dapat dikatakan remaja mulai tertarik untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis.
Menjalin hubungan percintaan atau berpacaran di masa remaja menjadi hal yang sangat umum untuk dilakukan. Dengan berpacaran diharapkan remaja dapat memahami perasaan orang lain, tetapi pada akhir-akhir ini berpacaran dijadikan sebagai tempat untuk melampiaskan hasrat seksual. Munculnya hasrat seksual membuat remaja menginginkan kontak fisik dengan pacarnya yang nantinya akan mengarah ke perilaku seksual (Putri & Ariana, 2021). Perilaku seksual merupakan tingkah laku yang dihasilkan dari adanya keinginan seksual baik yang dilakukan sendiri, dengan lawan jenis, ataupun sesama jenis (Purnama et al., 2020).
Beberapa remaja juga memiliki perilaku seksual yang berisiko. Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagian besar remaja Indonesia telah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Hubungan seksual tersebut dilakukan oleh remaja berusia 14-15 tahun sebanyak 20%, remaja berusia 16-17 tahun sebanyak 60%, dan remaja berusia 19-20 tahun sebanyak 20%. Kasus remaja yang melakukan seks bebas biasanya dialami oleh remaja dengan status ekonomi menengah bawah dan berpendidikan rendah (Baihaqi, 2023). Pada penelitian Yulianto et al. (2023) diperoleh hasil bahwa remaja yang lebih sering menggunakan internet cenderung memiliki perilaku seksual yang lebih tinggi dibandingkan remaja yang lebih jarang menggunakan internet. Beberapa orang akan mengira jika remaja dengan pengguna internet rendah akan memiliki perilaku seksual yang tinggi karena kemungkinan mereka tidak aware dengan kasus-kasus seksualitas yang terjadi pada remaja. Namun, kenyataannya hal tersebut berbanding terbalik dengan apa yang banyak orang pikirkan.
Dari banyaknya perilaku seksual yang beresiko, maka penting bagi remaja untuk mengetahui berbagai perilaku yang termasuk ke dalam perilaku seksual. Beberapa orang mungkin mengira jika perilaku seksual hanya sebatas ciuman atau hubungan seksual, tetapi perilaku seksual lebih dari itu. Menurut Walker (dikutip dari Alfiyah et al., 2018) terdapat 5 tahapan dari perilaku seksual pranikah, yakni yang pertama touching, terdiri dari menyentuh bagian luar tubuh, berpegangan tangan, berangkulan, berpelukan. Kedua kissing, perilaku seksual ini akan berawal dari kecupan hingga ke ciuman yang lebih intens. Ketiga necking, yaitu ciuman yang berada di area sekitar leher.
Keempat petting, bentuk dari aktivitas seksual yang melebihi kissing dan necking tetapi tidak sampai pada tahap intercourse atau dapat dibilang petting sudah sampai pada tahap dimana pasangan saling menggosokkan alat kelaminnya. Kelima intercourse, merupakan tahapan terakhir dari tahapan perilaku seksual yaitu dengan memasukkan penis ke dalam vagina. Dari kelima tahapan perilaku seksual tersebut, necking menjadi perilaku seksual yang paling sedikit ditemukan dikalangan remaja dibandingkan dengan perilaku seksual intercourse (Yulianto, 2020). Hal tersebut secara tidak langsung mengungkap jika perilaku seksual yang lebih intim atau bersenggama lebih banyak terjadi pada remaja.
Perilaku seksual yang berisiko tentunya akan memberikan dampak di kehidupan remaja. Dampak negatif yang diberikan dari perilaku seksual berisiko yaitu, kehamilan diluar nikah, meningkatnya angka kematian ibu dan janin, adanya risiko tertular dari penyakit seksual, harga diri menjadi rendah, dan menimbulkan penyakit mental lainnya (Ramadhona, 2021). Dari dampak-dampak tersebut seharusnya remaja menjadi tahu batasan perilaku seksual ketika sedang menjalin hubungan, agar tidak terjadi perilaku seksual yang berisiko.
Peralihan masa kanak-kanak menuju masa dewasa memanglah tidak mudah untuk dilewati. Berbagai aspek kehidupan berubah pada masa ini, terutama aspek biologis, dimana remaja harus mengendalikan hasrat seksualnya supaya tidak terjadi perilaku seksual yang berisiko. Namun, jangan memandang masa remaja sebagai masa yang suram atau dapat dikatakan perilaku-perilaku meyimpang dapat terjadi pada masa ini, tetapi cobalah untuk memandang masa remaja sebagai masa untuk mengevaluasi diri, pengambilan komitmen dan keputusan, serta mengubah pengalaman-pengalaman menjadi pembelajaran hidup.
Referensi:
Alfiyah, N., Solehati, T., & Sutini, T. (2018). Gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah pada remaja SMP. JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA, 4(2). https://doi.org/10.17509/jpki.v4i2.10443
Baihaqi, R. (2023, August 6). BKKBN: remaja Indonesia usia 14 tahun sudah melakukan hubungan seks. Liputan6.Com. https://www.liputan6.com/news/read/5363012/bkkbn-remaja-indonesia-usia-14-tahun-sudah-melakukan-hubungan-seks?page=2
Irwanto, & Gunawan, F. Y. (2018). Sejarah psikologi perkembangan perspektif teoritis. Gramedia Pustaka Utama.
Purnama, L. C., Sriati, A., & Maulana, I. (2020). Gambaran perilaku seksual pada remaja. Holistik Jurnal Kesehatan, 14(2), 301–309. https://doi.org/10.33024/hjk.v14i2.2761
Putri, S. P. R., & Ariana, A. D. (2021). Pengaruh kontrol diri terhadap perilaku seksual pada remaja berpacaran. Buletin Riset Psikologi Dan Kesehatan Mental (BRPKM), 1(2), 1275–1281. https://doi.org/10.20473/brpkm.v1i2.29062
Ramadhona, S. (2021, November 11). Bahaya perilaku seks pranikah terhadap kesehatan remaja. Geotimes.Id. https://geotimes.id/opini/bahaya-perilaku-seks-pranikah-terhadap-kesehatan-remaja/
Santrock, J. W. (2019). Life-span development (17th edition). McGraw-Hill Education.
Yulianto, A. (2020). Pengujian psikometri skala Guttman untuk mengukur perilaku seksual pada remaja berpacaran. Jurnal Psikologi : Media Ilmiah Psikologi, 18(1), 38–47.
Yulianto, A., Jayanti, I., Rahman, N., & Sajidah, A. H. B. (2023). Gambaran smartphone addiction pada remaja di Tangerang Selatan. Jurnal Psikologi Dan Konseling West Science, 1(3), 132–137.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
