Anak Tantrum dan Malas Belajar? Pentingnya Parenting Islami Masa Kini
Eduaksi | 2026-05-02 00:23:36
Tidak sedikit orang tua yang merasa kewalahan menghadapi anak yang mudah marah, malas belajar, sulit diatur, bahkan tantrum ketika keinginannya tidak dipenuhi. Untuk menenangkan anak, sebagian orang tua memilih jalan cepat: memberikan gadget, uang, atau menuruti semua kemauan anak. Padahal, jika terus dibiarkan, hal ini dapat membentuk pribadi anak yang kurang sabar, kurang bersyukur, dan tidak mampu mengendalikan emosi.
Dalam Islam, mendidik anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik dan pendidikan formal, tetapi juga membentuk hati, akhlak, dan kepribadiannya. Anak adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Karena itu, parenting islami menjadi sangat penting diterapkan, terutama di tengah tantangan zaman digital seperti sekarang.
Salah satu masalah yang banyak terjadi saat ini adalah anak menjadi terlalu bergantung pada gadget. Tidak sedikit anak yang lebih senang bermain ponsel daripada belajar, membaca, atau berbicara dengan keluarganya sendiri. Bahkan, ada anak yang marah besar ketika gadgetnya diambil. Kondisi ini tentu memprihatinkan.
Anak yang terlalu sering dimanjakan dengan materi juga berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang sulit menghargai proses. Ketika semua keinginannya selalu dipenuhi, anak bisa kehilangan rasa sabar dan tanggung jawab. Sedikit demi sedikit, mereka terbiasa mendapatkan sesuatu secara instan. Akibatnya, ketika menghadapi kesulitan dalam belajar atau kehidupan, anak mudah menyerah dan meluapkan emosi.
Dalam parenting islami, kasih sayang bukan berarti menuruti semua keinginan anak. Justru kasih sayang yang benar adalah mendidik anak agar mengenal batasan, disiplin, dan tanggung jawab. Rasulullah saw. sendiri mengajarkan kelembutan, tetapi juga ketegasan dalam mendidik.
Selain pola asuh, ada satu hal penting yang sering terlupakan oleh orang tua, yaitu menjaga kehalalan harta yang diberikan kepada anak. Dalam Islam, makanan, pakaian, dan nafkah yang berasal dari harta halal akan membawa keberkahan bagi keluarga. Sebaliknya, harta yang tidak halal dapat memengaruhi hati dan perilaku seseorang, termasuk anak-anak.
Banyak ulama menjelaskan bahwa makanan yang masuk ke dalam tubuh akan berpengaruh pada akhlak dan ibadah seseorang. Karena itu, mencari rezeki halal bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga bagian dari pendidikan anak. Anak yang tumbuh dari nafkah halal akan lebih mudah menerima nasihat, memiliki hati yang lembut, dan tumbuh dengan keberkahan.
Tidak sedikit orang tua yang sibuk bekerja demi memenuhi semua keinginan anak, tetapi lupa menyediakan waktu untuk berbicara, mendengar cerita anak, atau mengajarkan nilai agama di rumah. Padahal, kedekatan emosional antara orang tua dan anak sangat memengaruhi perkembangan mental dan akhlaknya.
Parenting islami mengajarkan keseimbangan antara kasih sayang, perhatian, pendidikan, dan keteladanan. Anak bukan hanya perlu diberi makan dan fasilitas, tetapi juga perlu diajarkan adab, kesabaran, rasa syukur, serta kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Di tengah dunia yang serba digital ini, orang tua harus lebih bijak dalam mendampingi anak. Batasi penggunaan gadget, ajak anak berinteraksi secara langsung, biasakan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan bangun komunikasi yang hangat di rumah. Hal-hal sederhana seperti makan bersama tanpa ponsel atau mendengarkan cerita anak sebelum tidur dapat memberikan pengaruh besar bagi perkembangan emosinya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
