Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Risna Afrianis

AI, Siapkah Masyarakat dalam Menghadapinya?

Info Terkini | 2023-06-20 14:12:58
sumber : shutterstock.com

Masyarakat Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan perkembangan kecerdasan buatan yang sangat cepat dan begitu meluas. Tiap individu dituntut mampu beradaptasi dengan baik guna menguasai dan memanfaatkan berbagai aplikasi berbasis digital dalam ranah yang positif. Karena tidak hanya dapat menyediakan berbagai kemudahan bagi masyarakat,lahirnya teknologi-teknologi tersebut juga mensyaratkan berbagai kondisi untuk mampu menciptakan efisiensi yang berperan dalam pertumbuhan berbagai lini kehidupan baik ekonomi,hukum pendidikan,kesehatan,dan lain sebagainya. Masing -masing negara saat ini sedang berlomba-lomba untuk mengembangkan dan memanfaatkannya dan negara yang tidak siap dipastikan akan tertinggal dan hanya menjadi pengguna dari teknologi yang diciptakan negara lain. Indonesia dengan populasi penduduk sebesar 277,43 juta jiwa diprediksi memiliki peluang yang sangat besar dalam mengambil manfaat dari perkembangan tekonologi tersebut bahkan berpotensi untuk masuk ke dalam 10 besar ekonomi dunia pada 2030 mendatang. Namun pertanyaannya adalah siapkah masyarakat dalam mengimbangi perkembangan tersebut?

AI sebagai alat yang ditujukan untuk mempermudah pekerjaan manusia tentu membutuhkan dukungan kompleks dalam pengimplementasiannya 1). Adaptasi kondisi dan nilai sosial budaya masyarakat; 2).Perlindungan regulasi; 3.)Pemerataan akses infrastruktur IT; dan 4). Ketersediaan SDM yang kompeten. Mengingat AI bekerja berdasarkan mesin dan data jangan sampai nantinya malah menjadi boomerang bagi manusia karena perkembangannya yang tak tekendalikan. Seperti kebocoran data rahasia pengguna,praktik yang 'kebablasan dalam bermedia sosial,cyber crime,penipuan,dll.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Schecl and Leukel (2020:1) populasi usia muda kisaran 15-31 tahun memiliki asumsi yang lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi informasi dan ketertarikan yang lebih besar untuk mempelajarinya. Mereka juga banyak mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari seperti penunjuk jalan,jual beli dan hiburan,layanan sosial dan kesehatan serta masih banyak lagi. Namun tidak sedikit juga masyarakat yang masih kurang paham terhadap kecerdasan artifisial tersebut yang disebabkan beberapa faktor diantaranya perbedaan generasi,tingkat pendidikan,tempat tinggal,dan tingkat frekuensi interaksi dengan internet. Dalam praktiknya lebih lanjut masyarakat banyak yang sudah bergantung terhadap AI karena dianggap mampu memberikan kemudahan,kenyamanan,dan efisiensi dalam hal apapun. Penggunaan sistem juga mampu meingkatkan kinerja,produktifitas,dan efektifitas individu. Terlebih karena AI sendiri berjalan menggunakan data sehingga bisa lebih memahami apa yang diinginkan oleh penggunanya. Semakin mudah penggunaannya dan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat maka semakin tinggi tingkat penggunaanya. AI juga dinilai dapat memberikan performa yang lebih baik ketimbang manusia dengan pekerjaan yang sama.

Namun sayangnya masih ada beberapa kelompok yang belum aware terhadap risiko yang mungkin terjadi. Seperti peretasan data pribadi beberapa tahun lalu yakni tokopedia menjual 91 juta data pelanggannya di pasar gelap,konsumsi informasi yang salah dan tidak sesuai usia,dan penipuan. Hasil penelitian Elsam yang berjudul Menakar Kepatuhan Perusahaan TIK menyebutkan secara umum platform media sosial di Indonesia sudah memiliki kebijakan privasi meski detail dan kelengkapannya masih sangat variatif. Namun,secara umum masih banyak masyarakat yang belum sadar akan pentingnya perlindungan data pribadi.

Kemunculan teknologi berbasis internet dan kecerdasan artifisial yang semakin maju dan meluas penggunaannya di era revolusi industri 4.0 tidak hanya memberikan kemudahan layanan dan kemampuan teknologi baru, tetapi juga telah merubah cara manusia untuk hidup, bekerja, berinteraksi antarsesama. Maka diperlukan berbagai hal yang dapat mendukung kesiapan masyarakat Indonesia, terutama peningkatan pengetahuan dan pemanfaatan berbagai aplikasi berbasis teknologi kecerdasan artifisial.

Beberapa intervensi kebijakan yang mungkin dapat diterapkan antara lain :

1. Pembelajaran tentang arti,manfaat dan perkembangan teknologi berbasis AI sesuai jenjang pendidikannya,agar meminimalisir dampak negatif yang dapat terjadi

2. Legalitas perundang-undangan terhadap kerahasiaan data pribadi pengguna

3. Adanya pengkajian tingkat kesiapan masyarakat oleh para pemangku kebijakan agar kita dapat memetakan seberapa besar tingkat perkembangan yang pantas kita sajikan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image