Puasa Ramadhan dapat Menjauhkan Diri dari Abjeksi Moral

Image
Ade Sudaryat
Agama | Saturday, 02 Apr 2022, 16:13 WIB

Muara akhir dari ibadah puasa adalah tercapainya derajat ketakwaan, la’allakum tattaquun. Derajat ketakwaan yang melekat pada diri seseorang sangat erat kaitannya dengan akhlak mulia.

Berkenaan dengan ketakwaan dan akhlak mulia, surat Ali Imran : 134 – 135 menjelaskan kriteria akhlak orang-orang yang bertakwa, “(yakni) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, memaafkan kesalahan orang lain, dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri (segera mengingat) Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan (siapa) lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.”

Sifat-sifat orang yang bertakwa yang disebutkan dalam ayat tersebut, semuanya terdapat dalam ibadah puasa Ramadan. Pada bulan suci Ramadan kita dianjurkan untuk memperbanyak berinfak, paling minimal kita dapat memberikan makanan kepada orang lain untuk berbuka puasa. Allah memberikan pahala besar kepada orang-orang yang memberikan makanan untuk berbuka puasa. Pada bulan Ramadan juga ada kewajiban membayar zakat fitrah yang juga masih tergolong kepada infak.

Ibadah puasa juga mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu, perdebatan, dan berbagai perbuatan lainnya yang bisa mengantarkan diri kita kepada pertengkaran, yang berujung kepada pengumbaran amarah dan rasa marah. Kalaupun ada sesuatu hal yang akan menyebabkan diri kita marah, kita harus segera mengingatkan diri kita sendiri, “aku sedang berpuasa”.

Selain menahan amarah, ibadah puasa juga mengajarkan kita akan kelembutan hati dan kebesaran jiwa agar mau dan mampu memaafkan segala kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita. Demikian pula, ketika kita berbuat kekeliruan kepada orang lain, tak segan-segan mengakui kekeliruan yang telah diperbuat, dan segera meminta maaf.

Sementara itu, keyakinan kepada Allah merupakan dasar utama dari ketakwaan. Kita sangat yakin akan keberadaan Allah yang selalu mengawasi dan melihat segala ucap, langkah, dan perilakunya. Sikap ini benar-benar terasa selama melaksanakan ibadah puasa. Selama ibadah puasa, kita benar-benar bersikap jujur. Kejujuran tingkat paling minimal kita tidak berani makan di siang hari meskipun tak ada orang yang memperhatikan kita. Di hati kita begitu yakin Allah memperhatikan kita.

Kepekaan akan perbuatan dosa pun begitu tinggi. Perasaan menyesal begitu cepat terdampar di hati manakala kita tergelincir kepada perbuatan dosa. Segera memohon ampun dengan membaca istigfar segera meluncur dari lisan kita. Demikian pula dengan perasaan menyesal tatkala ketinggalan melakukan kebaikan. Perasaan kehilangan pahala benar-benar terasa tatkala kita ketinggalan shalat wajib berjamaah, shalat tarawih, atau kebaikan lainnya.

Bulan suci Ramadan juga menggembleng kita untuk mengembalikan sifat-sifat kemanusiaan yang sering “tertukar” dengan sifat kebinatangan (bahimiyah). Keserakahan, egois, tidak tahu malu, ingin menang sendiri, dan ingin hidup bebas tanpa batas merupakan sebagian dari sifat-sifat bahimiyah yang sering melekat pada jiwa kita.

Sifat-sifat bahimiyah mengitari lingkungan kehidupan. Kita tengah hidup di pusaran kehidupan yang serba terbalik, serba permisif, dan tanpa batas.

Kata “pamali” atau “tabu” di tengah-tengah kehidupan masyarakat hampir sudah tidak berlaku lagi. Hal-hal yang tabu, pamali, yang dahulu tidak boleh dibicarakan dan diperlihatkan di depan umum, kini dengan bebas dipertontonkan. Semua khalayak, tanpa batas usia bisa mengaksesnya. Permasalahan pribadi yang seharusnya disembunyikan rapat-rapat, kini malah dibuka, di-posting di media sosial, dan menjadi konsumsi publik.

Dengan kata lain, kini kita tengah hidup di tengah-tengah kondisi yang sebagian masyarakatnya tengah menghancurkan benteng-benteng tabu, benteng-benteng moral, dan benteng-benteng akhlak Islami. Sebagian orang sudah tidak malu lagi ketahuan melakukan perbuan nista. Mereka malah merasa menjadi orang hebat karena telah berbuat jahat atau maksiat.

Pun, kini bukan rahasia lagi, banyak orang jujur yang hidupnya tak mujur, dan sengaja “dikubur’. Sementara orang-orang yang fujur (hidup bergelimang kenistaan dan kebohongan), malah menjadi orang mujur dan dipuja-puja.

Julia Kristeva (1982 : 2) dalam karyanya Powers of Horror an Essay on Abjection menyebut kondisi kehidupan yang serba terbalik dan menghancurkan benteng-benteng moral yang baik ini dengan istilah abjeksi moral. Sederhananya, abjeksi moral adalah kehidupan masyarakat yang sudah hampir tidak bisa lagi membedakan baik dan buruk, tidak bisa lagi membedakan halal dan haram, dan tidak bisa lagi membedakan benar dan salah.

Dalam kondisi masyarakat yang sudah masuk kepada putaran abjeksi moral, hasrat dan hawa nafsu menjadi “tuhan” dan pedoman hidup. Gaya hidup, kemewahan hidup, dan popularitas menjadi ukuran kehebatan seseorang.

Melihat kondisi kehidupan seperti sekarang ini, tak ada jalan terbaik yang harus kita lakukan, kecuali kita harus kembali kepada pedoman hidup yang baik. Kita harus segera kembali kepada rel-rel kehidupan yang semestinya kita jalani. Rel-rel kehidupan tersebut tiada lain adalah ajaran agama. Sudah menjadi kewajiban, bagi seorang muslim untuk kembali menelaah dengan baik ajaran Islam dan mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata.

Semua orang, terutama umat Islam pasti sering mengingatnya, tugas yang diemban Rasulullah saw di tengah-tengah kehidupan masyarakat Arab adalah memperbaiki akhlak. Ia dibebani tugas untuk menyeimbangkan akhlak kehidupan masyarakat agar kehidupannya serasi dengan “Sang Pencipta’, bisa hidup berdampingan dengan manusia dan alam secara tenteram dan damai, seimbang antara hablum minallah dan hablum minannas.

Diakui semua kalangan, nilai-nilai moral atau akhlak tertinggi berada dalam ajaran agama, terlebih-lebih dalam ajaran Islam. Akhlak menjadi kunci utama kesempurnaan iman seseorang, diterimanya segala amal ibadah, bahkan akhlak menjadi kunci untuk membuka pintu sorga. Batas-batas baik dan buruk, boleh dan tidak boleh, halal dan haram hanya bisa dinilai dengan ajaran agama. Kehidupan akan kembali tenteram dan damai manakala hasrat, hawa nafsu, dan segala keinginan lainnya kembali tunduk kepada ajaran agama.

Ibadah puasa Ramadhan yang tengah kita laksanakan ini merupakan “detoksifikasi” atau pembersihan racun yang ada dalam lahir dan batin kita. Racun lahiriah berupa sisa-sisa makanan yang menumpuk di tubuh kita, sementara racun batiniah berupa akhlak dan akidah jelek yang mengendap dalam jiwa.

Ibadah puasa yang berhasil akan dapat membersihkan hasrat negatif, mengendalikan hawa nafsu, dan berbagai keinginan jahat lainnya, sehingga akhlak kita kembali baik. Jiwa kita kembali bersih seraya mendapat ampunan Allah. Semoga.

Ilustrasi : kurma Ramadhan (sumber gambar : https://republika.co.id)
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis dan Penerjemah Lepas Bidang Agama, Budaya, dan Filsafat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Tahukah Anda Tentang Bisnis Online ? Apa Manfaat Bisnis Online ?

Image

Momentum Pendidikan Non Formal

Image

Ekonomi Quran atau Ekonomi Rabbani?

Image

Inovasi Baru, Lapas Terbuka Kendal Kembangkan Budidaya Madu Lebah Klanceng

Image

'Building Entrepreneurs Mindset. Raih Suksesmu Sejak Dini'

Image

Sebagai Sarana Pelimpahan Serah Terima Tugas, Dipimpin Perwira Piket Regu Pengamanan Lapas Karangany

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image