Amalan Lisan yang Mengguncang Mizan (Timbangan)
Agama | 2026-02-27 14:59:09Oleh Dr. Suwardi,M.Pd.I (Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hadirin yang dirahmati Allah, sering kali kita berpikir bahwa untuk mendapatkan pahala besar, kita harus melakukan amalan yang sangat menguras tenaga atau harta. Padahal, Allah SWT dengan kasih sayang-Nya yang luas telah menyediakan "pintu-pintu rahasia" bagi hamba-Nya untuk memperberat timbangan amal hanya melalui gerakan lidah yang ringan. Di hari kiamat kelak, setiap dzikir dan ucapan baik akan diletakkan di atas mizan (timbangan), dan betapa beruntungnya mereka yang mendapati timbangan kebaikannya melampaui keburukannya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 47:
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit pun.”
Di sinilah ucapan-ucapan ringan namun bermakna agung ini akan menjadi penentu keselamatan kita. Rasulullah SAW telah merumuskan amalan lisan yang paling utama bagi kita untuk diamalkan setiap saat. Dalam sebuah hadits yang sangat populer di akhir Kitab Shahih Bukhari, beliau bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman (Allah yang Maha Pengasih): Subhanallahi wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) dan Subhanallahil 'Azhim (Maha Suci Allah yang Maha Agung).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalimat-kalimat ini bukan sekadar kata, melainkan pengakuan tulus atas kesucian dan kebesaran Sang Pencipta yang mampu mengguncang timbangan amal kita di saat kita sangat membutuhkan tambahan kebaikan.
Selain dzikir tersebut, ada pula amalan ucapan yang menjadi "tanaman surga" bagi para pelakunya. Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa kalimat Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, dan Allahu Akbar adalah ucapan yang paling dicintai Allah. Bahkan, ada satu kalimat yang disebut sebagai harta karun di bawah Arsy, yaitu:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
"Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah." (HR. Bukhari & Muslim).
Dengan mengucapkan ini, seorang hamba secara sadar meruntuhkan kesombongan dirinya dan memasrahkan segala urusannya kepada Allah. Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah saat kita merasa lelah, tertimpa kesulitan, atau justru saat melihat keajaiban alam; lisan kita tidak berhenti membasahi diri dengan zikir-zikir ini, sehingga setiap detik kehidupan kita terkonversi menjadi pahala yang berat di sisi Allah.
Para sahabat Nabi sangat memahami dahsyatnya amalan lisan ini. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA sering kali terlihat sangat menjaga lidahnya, bukan hanya dari kata-kata buruk, tapi untuk memastikan setiap kata yang keluar memiliki nilai timbangan. Beliau memahami bahwa lidah adalah anggota tubuh yang paling mudah membawa ke surga atau menyeret ke neraka. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan waktu-waktu luang kita saat berjalan, saat menunggu, atau di tengah kesibukan untuk terus melafalkan dzikir-dzikir ringan ini. Jangan biarkan lisan kita kering, karena setiap satu kali tasbih yang kita ucapkan dengan ikhlas, ia akan tumbuh menjadi pohon yang besar di surga dan pemberat mizan di akhirat kelak.
Hadirin sekalian, sebagai penutup, marilah kita ingat bahwa keselamatan kita di akhirat tidak selalu bergantung pada amalan-amalan yang terlihat besar di mata manusia, melainkan pada ketulusan hati melalui amalan yang tampak kecil namun dicintai oleh Allah SWT.
Kata Mutiara:
"Jangan remehkan gerakan lidahmu yang singkat untuk memuji Allah, karena boleh jadi satu tarikan napas dzikirmu adalah alasan Allah meridhai timbangan amalmu saat seluruh dunia tidak lagi bisa menolongmu."
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
