Cerdas Saja tidak Cukup: Urgensi Akhlak di Era Digital
Eduaksi | 2026-02-12 11:15:55
oleh: Tiara Adawiah_Mahasiswa Institut SEBI.
Perkembangan teknologi digital telah membawa dampak besar dalam dunia pendidikan. Informasi kini dapat diakses dengan mudah, pembelajaran dapat dilakukan secara daring, dan berbagai sumber pengetahuan tersedia hanya dalam genggaman tangan. Pelajar dan mahasiswa hidup di era yang serba cepat, instan, dan terhubung. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan serius yang berkaitan dengan menurunnya perhatian terhadap adab, etika, dan moral dalam proses pembelajaran maupun interaksi sosial.
Gejala ini tampak dari meningkatnya ujaran kasar di media sosial, menurunnya rasa hormat kepada guru dan orang tua, serta kecenderungan menganggap perilaku tidak etis sebagai sesuatu yang biasa. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan intelektual tidak selalu berjalan seiring dengan perkembangan moral. Padahal, tujuan pendidikan sejatinya bukan hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter.
Zaman Cepat dan Tantangan Akhlak
Kecepatan zaman menuntut pelajar dan mahasiswa untuk adaptif, inovatif, dan terampil dalam memanfaatkan teknologi. Namun, derasnya arus informasi sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan menyaring nilai yang terkandung di dalamnya. Beragam konten—dari yang mendidik hingga yang merusak moral—dapat diakses tanpa batas. Tanpa filter nilai dan landasan etika yang kuat, seseorang mudah terpengaruh oleh tren negatif, budaya instan, dan pola pikir pragmatis yang mengabaikan tanggung jawab moral.
Di sisi lain, fokus berlebihan pada pencapaian akademik berisiko melahirkan individu yang unggul secara intelektual, tetapi miskin empati dan tanggung jawab sosial. Praktik menyontek, plagiarisme, serta berbagai bentuk ketidakjujuran kerap dianggap wajar demi meraih nilai tinggi. Inilah tantangan moral di era yang serba cepat, ketika proses pembelajaran yang dipercepat sering kali mengabaikan pembentukan karakter.
Pentingnya Menjaga Moral di Tengah Kemajuan
Moral merupakan fondasi penting dalam kehidupan pribadi dan sosial. Ilmu tanpa moral dapat melahirkan kecerdasan yang kering dari nilai kemanusiaan. Sebaliknya, moral tanpa ilmu akan kesulitan menghadapi kompleksitas zaman modern. Karena itu, keduanya harus berjalan beriringan.
Pelajar dan mahasiswa diharapkan tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga menjaga adab dalam perilaku, tutur kata, dan interaksi—baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Menjaga moral di era modern dapat dimulai dari hal-hal sederhana: bersikap sopan saat menyampaikan pendapat, menghormati perbedaan, jujur dalam mengerjakan tugas, serta menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
Lingkungan pendidikan, baik sekolah maupun perguruan tinggi, juga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai moral. Keteladanan guru dan dosen, budaya akademik yang menjunjung etika, serta kegiatan yang mendorong kepedulian sosial merupakan bagian dari upaya membangun generasi berkarakter.
Pelajar dan Mahasiswa sebagai Agen Perubahan
Pelajar dan mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan. Mereka bukan sekadar pencari pengetahuan, tetapi juga agen perubahan dalam masyarakat. Kecepatan dalam belajar harus diimbangi dengan kedewasaan sikap. Dengan moral yang baik, ilmu yang dimiliki tidak hanya menjadi alat meraih kesuksesan pribadi, tetapi juga sarana memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Menjadi generasi unggul di era yang cepat berarti mampu memanfaatkan teknologi secara positif, menyebarkan informasi yang benar, dan menciptakan ruang diskusi yang sehat. Di saat yang sama, bermoral di tengah tantangan zaman berarti tetap memegang teguh nilai kebenaran, tanggung jawab, dan kepedulian di tengah tekanan pragmatis dan kompetisi yang ketat.
Belajar di era yang cepat adalah keniscayaan, tetapi berakhlak di masa yang penuh tantangan adalah pilihan yang harus diperjuangkan. Pendidikan yang utuh tidak hanya melahirkan individu yang cerdas, tetapi juga pribadi yang berkarakter. Dengan menggabungkan ilmu dan akhlak, pelajar dan mahasiswa dapat menjadi generasi yang tidak hanya siap menghadapi tantangan zaman, tetapi juga mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap langkahnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
