Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image bukhori muslim

Pendidikan Karakter Berbasis Habitual Curriculum

Eduaksi | 2022-03-22 14:28:59

Pendidikan karakter merupakan program prioritas pemerintah saat ini dalam membangun bangsa melalui lembaga pendidikan. Namun saat ini lembaga pendidikan masih sangat sulit untuk menerapkan pedidikan karakter yang diprogramkan pemerintah tersebut. Hal ini dibuktikan denga masih banyaknya kasus kenakalan yang dilakukan oleh para pelajar, mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut lembaga pendidikan perlu mencari sebuah inovasi baru, supaya karakter peserta didik menjadi lebih baik dan menjadi generasi penerus bangsa yang berkarakter.

Salah satu inovasi yang bisa dilaksanakan oleh lembaga pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik adalah dengan menerapkan habitual curriculum. Habitual curriculum atau dalam bahasa Indonesia adalah kuriulum pembiasaan, yaitu kurikulum yang memberikan pembiasaan kepada siswa siswi setiap harinya dengan kegiatan yang islami, sehingga mereka senang untuk melaksanakan kebaikan tanpa adanya paksaan karena sudah dibiasakan pada saat di sekolah.

Pembiasaan tersebut dilakukan mulai dari sebelum proses pembelajaran, pada saat pembelajaran dan setelah pembelajaran. Pembiasaan sebelum proses pembelajaran misalnya, siswa harus senyum, mengucapkan salam sekaligus berjabat tangan dengan guru ketika mau masuk ke dalam kelas. Setelah itu dilanjutkan dengan pembecaan al-qur’an, hafalan doa’a-do’a dan pemberian nasihat oleh guru yang akan mengajar di jam pertama atau wali kelas. Selain kegiatan itu kegiatan yang bisa dilakukan sebelum proses pembelajaran adalah bersih-bersih di lingkungan sekolah. Kegiatan bersih-bersih ini bisa diagendakan seminggu sekali atau sebulan sekali. Waktu pembiasan ini bisa dilaksanakan minimal 30 menit sebelum KBM dimulai. Pembiasaan tersebut dapat meningkatkan karakter siswa terutama pada aspek religius, gotong royong dan peduli lingkungan.

Kemudian pada saat proses KBM, siswa dibiasakan untuk selalu berdiskusi dengan teman-temanya dan mengemukakan pendapatnya di depan kelas. Hal ini melatih siswa untuk berani tampil di depan umum, sehingga tingkat kepercayaan diri siswa dapat terbentuk. Selain itu juga materi pelajaran harus selalu dikaitkan dengan kehidupan nyata, supaya apa yang mereka pelajari di kelas dapat berguna di kehidupan nyata. Siswa dapat memecahkan permasalahan berdasarkan teori yang dipelajari di sekolah. Jadi guru dalam mengajar harus menggunakan metode problem solving.

Selanjutnya pembiasaan setelah proses pembelajaran, yaitu pembiasaan yang diberikan kepada siswa di luar jam sekolah. Kegiatan tersebut di antaranya adalah sholat wajib berjamaah, sholat tahajud, belajar kelompok, olahraga, bersih-bersih asrama, pembiasaan menggunakan bahasa Arab dan Inggris dan kegiatan lain yang disesuaikan dengan kondisi sekolah. Melalui habitual curriculum diharapkan sekolah dapat mencetak generasi penerus bangsa yang berakhlakul karimah dan berintelektual tinggi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image