Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dedy Setyo Afrianto

Menyiapkan Warga Dunia Masa Depan

Guru Menulis | Monday, 21 Mar 2022, 17:41 WIB
Siswa sedang belajar dengan Globe. Credit : Rudi Suardi

“Berapa guru yang masih tersisa ?”, begitu pertanyaan Kaisar Hirohito saat pertama kali mendengar bahwa Hiroshima dan Nagasaki telah dijatuhi bom atom oleh Amerika dan sekutu pada bulan Agustus 1945 itu. Kaisar Hirohito merupakan profil pemimpin Jepang yang concern dengan pendidikan di negaranya, bukannya bertanya berapa jumlah pasukan yang tersisa dalam kondisi perang tersebut, namun malah bertanya berapa jumlah guru yang masih ada. Bertolak dari pertanyaan ini pula yang pada akhirnya membawa Jepang terus berbenah, Hirohito mengumpulkan sekira 45.000 guru yang tersisa, memberikan arahan tentang apa hal yang harus dilakukan.

Pasca kekalahan Perang Dunia II, Jepang banyak melakukan perubahan melalui jalur pendidikan. Seperti disampaikan oleh Susy Ong dalam bukunya yang berjudul “Shakai Kaizo - Seratus Tahun Reformasi Jepang”, reformasi pendidikan Jepang dimulai dari berubahnya filosofi pendidikan, direvisinya undang-undang pokok Pendidikan Nasional, hingga rancangan pembentukan karakter bangsa. Namun hampir bisa dipastikan, bahwa figur guru saat itu selalu menjadi faktor penting kebangkitan Jepang, bahkan hingga hari ini.

Persatuan Guru Jepang. Sumber : https://www.jtu-net.or.jp

Perlahan namun pasti pendidikan Jepang menjadi salah satu yang terbaik di dunia, bahkan pada score PISA (The Program for International Student Assessment) tahun 2018 lalu, Jepang meraih predikat enam besar tertinggi di dunia. PISA sendiri merupakan survey yang diikuti oleh para siswa dari 68 negara dengan indikator pada kemampuan membaca, sains dan matematika.

Lalu bagaimana dengan ekonominya ?, menurut IMF pada 2021 lalu Jepang menjadi pemilik Produk Domestik Bruto (PDB) tertinggi ketiga di dunia.

Jepang sebagai negara dengan PDB ketiga terbesar di dunia pada 2021. Sumber : Katadata.

PDB merupakan gambaran total nilai produksi dan jasa yang dihasilkan semua orang dalam satu negara. Dengan PDB, ekonomi suatu negara bisa tergambar produktivitas penduduknya.

Menurut Romer (1991), kemampuan manusia sesungguhnya merupakan “jalan baru” untuk dapat meningkatkan kapasitas ekonominya. Pendidikan merupakan komponen penting untuk dapat meningkatkan kemampuan manusia, sehingga makin tinggi pendidikan seseorang, pada dasarnya potensi ekonominya juga akan lebih baik. Dalam konteks negara, agregasi pendidikan yang baik pada warga masyarakatnya, akan meningkatkan pula kemampuan ekonominya.

Ketika ekonomi suatu negara makin baik, maka negara tersebut akan mampu melejitkan potensi pertumbuhan dan peluang-peluang kemajuan baru dalam segala bidang. Lebih otonom dalam berkehendak, yang akhirnya membawa kesejahteraan untuk masyarakatnya.

Singkatnya, pendidikan menjadi kata kunci penting dalam rangka melejitkan kemajuan dimasa depan. Lalu darimana pendidikan yang baik ini dimulai ?, jawabannya adalah dari guru. Guru memegang kunci penting bagaimana mutu pendidikan dibentuk.

Ibarat seorang conductor dalam pertunjukan orkestra, tugasnya adalah memastikan bahwa setiap pemain musik memunculkan kemampuan terbaiknya agar terjadi harmonisasi. Begitu juga peran guru, dengan panduan yang apik, peserta didik dari barisan depan hingga paling belakang akan muncul potensinya yang tertinggi.

Seorang conductor yang memimpin orkestra. Sumber : https://www.orchestrastory.com

Menyiapkan warga dunia masa depan

Siswa-siswa kita hari ini, sejatinya adalah masyarakat yang menempati posisi nyata dalam ruang-ruang publik dimasa depan dengan berbagai sektornya. Sehingga membekalkan mereka pada hari ini, pada dasarnya adalah menyiapkan mereka agar bisa survive dalam kehidupannya kelak. Dimana tantangan yang akan dihadapi, pastinya juga akan berbeda dibandingkan dengan kita saat ini.

Pada masa seperti inilah, pembelajaran dimasa pandemi selama kurang lebih dua tahun ini tak terasa juga mendorong perubahan-perubahan signifikan baik saat ini, juga dimasa depan. Tidak hanya peluang baru, namun juga tantangan yang lebih majemuk.

Apa yang perlu dipersiapkan Guru sekaligus juga untuk pembekalan para siswa kedepan?. Ada tiga hal berikut.

Literasi Digital

Dalam pertemuan multilateral pemimpin-pemimpin dunia yang tergabung dalam G20 bulan Oktober 2022 nanti, ada beberapa issue penting yang hendak dibahas, diantaranya adalah literasi digital. Literasi digital mutlak diperlukan untuk menghadapi masa depan yang makin tanpa batas (borderless). Makin majunya perkembangan Teknologi Informasi, tidak otomatis juga menyiapkan penggunanya, muncul “kesenjangan” juga yang beragam, tidak hanya issue konektivitas yang menghampiri sebagian warga masyarakat yang belum bisa terhubung, namun dalam sisi penggunaannya juga masih menjadi catatan besar.

Index Keberadaban Digital atau Digital Civility Index (DCI) yang dilaporkan oleh Microsoft tahun 2020 lalu, menempatkan Indonesia berada pada peringkat 29 dari 32 negara. Sebagai informasi, “keberadaban” yang dimaksud terkait dengan perilaku berselancar didunia maya dan aplikasi media sosial, resiko terjadinya penyebarluasan berita bohong/hoaks, ujaran kebencian, diskriminasi, cyber bullying, sampai dengan tindakan pelecehan kepada kelompok marjinal (etnis agama tertentu, perempuan, kelompok difabel dan lainnya).

Hal inilah yang penting untuk menjadi concern para guru kita baik saat ini ataupun nanti. Warga negara masa depan ada di kelas-kelas kita saat ini, mengedukasi mereka dengan literasi digital yang tepat, bagaimana menggunakan teknologi dengan efektif sekaligus bijak, semoga akan membawa masa depan dunia digital kita juga akan tertata lebih baik.

Intellectual Curiosity

Tony Wagner dalam bukunya yang berjudul Creating Innovators memaparkan dengan sangat apik bagaimana Google merekrut karyawan-karyawan terbaiknya disana.

Judy Gilbert (direktur talent Google) ketika ditanya prasyarat apa yang dibutuhkan oleh Google ketika merekrut SDM nya, seperti kita tahu saat ini, bahwa Google merupakan salah satu perusahaan multinasional terbaik di dunia yang dikejar oleh talenta terbaik. Gilbert menjawab, “tentu saja kami merekrut orang dengan skill terbaik, memiliki kemampuan coding yang oke, namun diluar itu semua, kami butuh SDM yang bisa melihat masalah, kemudian menyelesaikannya, alih-alih menunggu orang lain untuk menyelesaikan masalah itu, orang ini berusaha dengan kemampuan terbaiknya, menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk fix it (menyelesaikan problem tersebut)”, inilah yang dimaksud kemampuan Intellectual Curiosity.

Dimasa depan, dimana tantangan dan problem menjadi lebih variatif, kemampuan guru untuk skill ini menjadi penting, kemudian mentransfer nilai-nilai ini kepada siswanya agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Empati Sosial

Kemudian tentu saja, karena sebagai manusia yang tidak bisa tercabut dari fitrah kemanusiaannya. Kepedulian terhadap sesama, masih sangat penting dan selalu akan krusial dimasa depan. Jika saat masa pandemi ini kita “diajarkan” oleh situasi sehingga kepedulian kita terakselerasi demikian hebat, maka dengan atau tanpa wabah, sejatinya ini adalah identitas kemanusiaan kita yang tak kan boleh hilang.

Pelajaran empati dalam konteks kemasyarakatan, bisa ditumbuhkan dengan “laboratorium” yang bernama kelas. Mulai dari kepedulian dari level yang paling sederhana, care dengan teman sebaya, guru dan warga sekolah lainnya.

Dengannya, semoga kita makin terampil menyiapkan para siswa kita menjadi warga terbaik dimasa depan. Karena kita selalu yakin, dimasa apapun, pendidikan adalah “jenderal” yang memimpin pembentukan peradaban bangsa. Dimana pondasi penting itu disiapkan ?, salah satunya ada di pundak guru.

Daftar Pustaka

- Romer, P. Batiz, LR. 1991. “Economic Integration and Endegenous Growth.” Querterly Journal of Economics CVI pp. 531-555

- Wagner, Tony. 2012. “Creating Innovators”. Scribner. New York.

- Civility, Safety & Interaction Online, Microsoft. Februari 2020. https://news.microsoft.com/wp-content/uploads/prod/sites/421/2020/02/Digital-Civility-2020-Global-Report.pdf

- Ong, Susi. 2019. “Shakai Kaizo - Seratus Tahun Reformasi Jepang”. Elex Media Computindo. Jakarta.

#GuruMasaKini

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image