Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Air Mengering, Amanah Diuji

Agama | 2026-10-15 11:54:30
Ilustrasi AI

Ada yang terasa janggal ketika air begitu dekat dalam kehidupan, tetapi sebagian warga justru harus menunggu bantuan untuk mendapatkannya. Tanpa air, urusan rumah tangga terganggu, kebersihan sulit terjaga, dan kebutuhan sehari-hari menjadi beban. Ketika keadaan ini menimpa ribuan keluarga, yang perlu diperiksa bukan hanya kondisi alam, melainkan juga kesungguhan tata kelola dalam melindungi kehidupan rakyat.

Krisis air bersih di Jawa Barat kembali menjadi perhatian. Koran Pikiran Rakyat melaporkan 136 ribu jiwa terdampak kekeringan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Bekasi, Kabupaten Pangandaran, dan Kota Tasikmalaya. BPBD setempat terus menyalurkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga.

Distribusi air merupakan langkah mendesak yang patut diapresiasi. Namun, bantuan darurat tidak semestinya menjadi jawaban yang terus berulang setiap kali kemarau datang. Persoalan yang lebih mendasar ialah bagaimana menjamin masyarakat tetap memperoleh air bersih ketika hujan berkurang dan sumber air mulai menyusut.

Kekeringan memang bagian dari dinamika alam. Meski demikian, besarnya dampak yang dirasakan warga juga berkaitan dengan kesiapan infrastruktur, perlindungan sumber air, kondisi daerah resapan, dan kebijakan pemanfaatan lahan.

Ketika pembangunan lebih mudah diukur dari pertumbuhan ekonomi dan besarnya investasi, kebutuhan dasar masyarakat berisiko kurang memperoleh perhatian yang semestinya. Padahal, kemajuan tidak cukup dinilai dari aktivitas ekonomi yang meningkat. Kualitas hidup rakyat, termasuk kemudahan memperoleh air bersih, juga menjadi ukuran penting.

Kita tentu tidak bisa menyimpulkan bahwa seluruh krisis air terjadi karena satu kebijakan atau satu penyebab. Namun, krisis yang berulang layak menjadi bahan evaluasi terhadap cara negara merencanakan pembangunan dan mengelola sumber daya alam.

Negara tidak cukup hadir ketika sumur warga mengering. Kehadirannya juga dibutuhkan jauh sebelum keadaan darurat terjadi, melalui pemetaan wilayah rawan, pembangunan sarana penampungan air, perlindungan kawasan resapan, dan penyediaan jaringan distribusi yang menjangkau permukiman terpencil.

*Air dalam Pandangan Islam*

Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa mengurus rakyat bukan sekadar menjalankan administrasi, melainkan memastikan kebutuhan mereka terpenuhi secara adil.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 30 bahwa Dia menjadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Air bukan hanya sumber daya ekonomi, tetapi penopang kehidupan yang pemanfaatannya harus mempertimbangkan kepentingan masyarakat dan kelestarian alam.

Rasulullah saw. juga menyebut air sebagai salah satu sumber daya yang menjadi kepentingan bersama dalam hadis riwayat Abu Dawud. Prinsip ini menjadi landasan pembahasan Islam tentang pengelolaan sumber daya umum agar manfaatnya tidak dimonopoli dan kepentingan masyarakat tetap terlindungi.

Karena itu, orientasi pengelolaan air perlu dikembalikan pada kemaslahatan. Pertimbangan ekonomi tidak boleh menggeser hak masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam perspektif Islam, ri'ayah syu'un al-ummah berarti mengurus urusan umat dengan penuh tanggung jawab. Prinsip ini menuntut penanganan krisis yang tidak berhenti pada bantuan sesaat.

Pertama, distribusi air bersih harus cepat, merata, dan sesuai kebutuhan warga. Kedua, pemerintah perlu memperkuat embung, waduk, jaringan perpipaan, serta penampungan air hujan berdasarkan kondisi geografis setiap daerah. Ketiga, sumber air dan kawasan resapan harus dijaga. Keempat, pemanfaatan air oleh rumah tangga, pertanian, dan industri perlu diatur secara adil agar kebutuhan dasar masyarakat tidak tersisih.

Langkah-langkah tersebut memerlukan perencanaan anggaran yang jelas, koordinasi lintas wilayah, dan pengawasan yang terbuka. Keberhasilan tidak cukup dihitung dari jumlah air yang dikirim, tetapi juga dari berkurangnya ketergantungan warga pada bantuan darurat.

Sistem Islam secara menyeluruh menempatkan amanah, keadilan, dan pemenuhan kebutuhan pokok sebagai bagian penting dalam pengurusan kehidupan. Evaluasi paradigma diperlukan agar pembangunan tidak kehilangan orientasi pada kesejahteraan manusia.

Pada akhirnya, krisis air bukan hanya tentang hujan yang tak kunjung turun. Ini juga tentang tanggung jawab untuk memastikan kehidupan tetap berjalan layak. Sebab, negara yang hadir bagi rakyat bukan semata-mata negara yang mengirimkan bantuan ketika krisis tiba, melainkan yang bersungguh-sungguh mencegah agar rakyat tidak terus-menerus hidup dalam kecemasan yang sama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image