Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Zata Iwan

Rocky Gerung, dari Filsuf Pengkritik yang Paling Vokal sampai Jadi Badut Istana!

Politik | 2026-10-09 19:00:31
Sumber: Tempo.co (potret Rocky Gerung yang baru dilantik menjadi Wantimpres)

Dulu “Baj*ng*n T*l*l”

Pengkritik paling galak kini duduk di lingkaran Istana apakah ini pengkhianatan atau strategi politik yang jenius?, dulu ia melontarkan kata yang membuatnya dilaporkan ke polisi kini ia mengucap sumpah jabatan di Istana Negara.

Rocky Gerung seorang Filsuf yang lama jadi momok penguasa, dilantik Presiden Prabowo sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 2 Oktober 2026 apakah ini kemenangan kritik, atau akhir dari kritik?.

Rocky bukan juru bicara presiden melainkan penasihat, namun perpindahannya dari "luar" ke "dalam" memantik pertanyaan yang sama.

Aditya Ramadhan Jurnalis ANTARA menjelaskan pada Selasa 6 Oktober 2026 Rocky Gerung menyampaikan, bahwa ia hanya pindah dari luar ke dalam agar kritik dan pemikiriannya lebih cepat sampai ke telinga Presiden.

Rocky menyatakan ia ingin argumentasinya tidak hanya di dengar memlaui forum-forum diskusi publik seperti ILC, tapi bisa secara langsung di dengar oleh Presiden Prabowo.

Rocky menyadari bahwa dirinya kini berada di dalam lingkaran istana yang akan mendatangkan kritik publik, ia juga membantah bahwa telah menjual idealisme-nya kepada Presiden.

Dulu di era Jokowi Pada Juli 2023 Rocky mengkritik proyek IKN dengan ucapan "baj*ng*n t*l*l" yang dialamatkan kepada Jokowi, relawan dan PDIP melaporkannya ke polisi.

Beda Era Beda Nada Kritik

Saat menyebut Jokowi “Bajingan Tolol” Rocky menegaskan yang ia kritik adalah jabatan presiden bukan pribadinya, gayanya yang frontal dalam melontarkan kritik dari luar pagar kekuasaan membuatnya menjadi tokoh kontroversial sekaligus dihormati.

Menariknya Prabowo yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan menilai ucapan tersebut gegabah, di era Prabowo hingga Desember 2025 Rocky bersama KAMI masih mengkritik Prabowo.

Ia menyebut kritiknya berpijak pada argumen akademis dan kecintaan pada negeri, serta menuding arah 2029 sudah ditentukan "Dinasti Solo".

Nada kritiknya lebih tertata tentang data ekonomi, komunikasi politik setelah dilantik bahasanya berubah lagi, menurutnya Wantimpres berfungsi "kritis, bukan kritik", memiliki kedudukan etis, dan "user-nya" adalah Presiden.

Firda Cynthia Angrainy Jurnalis detikNews menjelaskan, saat dilantik menjadi Wantimpres Rocky menyampaikan tugas barunya adalah memastikan arah kebijakan sesuai dengan visi Presiden.

Dosen Filsafat UI itu juga menyebut ada fungsi politik dari Wantimpres, yaitu memantau dinamika politik untuk memastikan keberlangsungan kepentingan Presiden.

Singkatnya dulu kritik Rocky Gerung berupa teriakan dari jalanan kini berupa bisikan di dalam istana, perbedaan terbesarnya ada pada posisi.

Di era Jokowi Rocky bebas dari kewajiban apa pun terhadap kekuasaan sehingga kritiknya tak perlu berhitung, di era Prabowo, kritiknya berpindah ke jalur konsultatif ia memberi pertimbangan, sementara keputusan tetap di tangan presiden.

Hegemoni Filsafat Politik

Rocky sendiri mengakui dirinya kini jadi sasaran kritik dan menegaskan pandangannya tetap "radical break" publiklah yang akan menguji apakah klaim itu benar atau tidak, dalam teori Hegemoni Antonio Gramsci.

Kekuasaan bertahan bukan hanya lewat paksaan tetapi juga lewat persetujuan, salah satu caranya adalah transformismo yakni menyerap tokoh oposisi ke dalam barisan penguasa agar perlawanan kehilangan pemimpinnya.

Tiga tokoh eks KAMI yakni Rocky, Jumhur Hidayat, dan Syahganda Nainggolan kini berada di dalam pemerintahan, ini membuat suara-suara kritis berkurang dan berubah menjadi loyalis penguasa.

Dr. Rosmah Tami, MA., MSC dalam bukunya yang berjudul HEGEMONI menjelaskan, gagasan Antonio Gramsci tentang Hegemoni berbasis pada Filsafat Praktis.

Ia meyakini segala sesuatu yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari fenomena yang terjadi dalam waktu tertentu, segala sesuatu yang terjadi dalam satu wilayah dan waktu tertentu akan membentuk kekuasaan.

Gramsci menolak anggapan bahwa segala sesuatu terjadi secara kebetulan, selalu ada aktor-aktor yang bekerja di balik layar untuk mencapai kepentingan dan tujuannya.

Dalam konteks politik Gramsci menganggap ideologi adalah sesuatu yang sangat penting, baginya ideologi bukan sebuah ilusi yang menggerakan perjuangan rakyat dalam kehidupan sosial-politik.

Ideologi memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam mendorong perjuangan dan pergerakan politik, bagi Gramsci ideologi adalah jiwa yang memberikan kekuatan pada manusia untuk berjuang demi nasib mereka.

Pengkhianatan Kaum Intelektual

Filsuf asal Prancis Julian Benda meyakini bahwa intelektual sejati idealnya menjaga jarak dari kekuasaan begitu ia berpihak pada penguasa fungsi moralnya terkikis, inilah inti kekecewaan para pendukungnya karena jarak itu telah hilang ketika Rocky merapat ke istana.

Kemudian menurut Michel Foucault kekuasaan membutuhkan pengetahuan agar tampak sah, merangkul seorang filsuf berarti memperoleh stempel intelektual bagi pemerintah.

Memang tidak ada ada bukti langsung tentang niat Istana jadi ini tetap sebuah tafsir, namun logika politiknya jelas merangkul kritikus, mengurangi oposisi, dan memperluas koalisi.

Pola serupa lazim dalam sejarah politik. Dalam bahasa sehari-hari:kalau lawan sudah duduk satu meja, lebih sulit baginya berteriak dari luar.

Roger Kimball Penulis The New Criterion menjelaskan situasi seperti ini semakin umum terjadi, semakin banyak intelektual dan ilmuwan yang meninggalkan idealisme-nya dalam ilmu pengetahuan dan memilih merapat ke penguasa.

Dalam artikel berjudul “The treason of the intellectuals & The Undoing of Thought” itu dijelaskan, salah satu tanda yang paling jelas adalah serangan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.

Di mana keilmuan dianggap tidak berguna dan pragamatisme jabatan lebih diutamakan, mereka yang telah lama mengajarkan rakyat tentang ilmu pengetahuan pada akhirnya harus tunduk dan setia pada kekuasaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image