Jangan Hanya Membiayai Sekolah, Bangun Peradaban!
Edukasi | 2026-10-15 12:27:19
Anak putus sekolah bukan sekadar angka dalam laporan pendidikan. Di baliknya, ada cita-cita yang tertunda, orang tua yang kebingungan, dan masa depan yang terancam. Karena itu, setiap kebijakan yang membantu anak tetap bersekolah patut mendapat perhatian. Namun, ada pertanyaan lebih mendasar: apakah tugas negara cukup memastikan anak duduk di bangku sekolah, atau juga menjamin pendidikan yang membentuk generasi beriman, berilmu, dan berkepribadian mulia?
Pada 9 Oktober 2026, ANTARA Jawa Barat memberitakan peluncuran Program Jabar Sakola (PJS). Program Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini menyediakan bantuan SPP sekolah swasta serta kebutuhan personal bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Sasarannya adalah menekan angka putus sekolah melalui bantuan yang disesuaikan dengan kriteria penerima.
Kebijakan ini memberi harapan bagi keluarga yang kesulitan membiayai pendidikan anak. Akan tetapi, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari bantuan yang tersalurkan atau jumlah siswa yang bertahan di sekolah. Lebih jauh, perlu dilihat arah pendidikan yang sedang dibangun dan generasi seperti apa yang hendak dilahirkan.
Salah satu skema Jabar Sakola memberikan beasiswa penuh selama tiga tahun di SMK Mitra Industri Bekasi, dengan orientasi menyiapkan lulusan agar dapat memasuki dunia kerja. Pendidikan vokasi tentu penting untuk membekali generasi dengan keterampilan. Persoalannya muncul apabila kesiapan kerja menjadi ukuran utama keberhasilan pendidikan, sementara pembentukan kepribadian, akhlak, dan kesadaran akan tanggung jawab kehidupan kurang mendapat perhatian.
Manusia tidak dapat dipandang hanya sebagai tenaga produktif. Ia memiliki akal, hati, dan tanggung jawab moral. Ilmu semestinya tidak hanya mengantarkan seseorang memperoleh penghasilan, tetapi juga menuntunnya membedakan yang benar dan salah serta menggunakan keahliannya untuk kemaslahatan masyarakat.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 110 bahwa umat Islam adalah khairu ummah yang dilahirkan untuk manusia, menyerukan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Tujuan pendidikan karena itu perlu diarahkan pada pembentukan generasi yang memiliki kepribadian Islam, menguasai ilmu pengetahuan, serta mampu berkontribusi bagi umat.
*Negara sebagai Pengurus Rakyat*
Dalam perspektif Islam, pendidikan bukan semata-mata urusan keluarga atau lembaga sekolah. Negara memiliki tanggung jawab besar untuk menjamin terpenuhinya hak pendidikan rakyat, tanpa membiarkan kemampuan ekonomi menjadi penghalang utama.
Rasulullah saw. bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan amanah pelayanan, bukan sekadar penyelenggaraan program. Negara harus memastikan pendidikan dapat diakses secara merata, dibiayai secara berkelanjutan, dan memiliki mutu yang layak. Jaminan tersebut tidak berhenti pada pembebasan SPP, tetapi mencakup ketersediaan guru, fasilitas belajar, bahan ajar, serta kurikulum yang mengintegrasikan ilmu dan pembentukan kepribadian Islam.
Pembiayaan pendidikan juga harus ditopang pengelolaan keuangan negara yang amanah, dengan prioritas pada kebutuhan dasar rakyat. Evaluasi kebijakan perlu dilakukan secara terbuka agar bantuan tepat sasaran dan tidak menggantikan kewajiban negara untuk membangun sistem pendidikan yang menyeluruh.
Jabar Sakola dapat menjadi langkah untuk meringankan beban keluarga. Namun, kebijakan ini perlu ditempatkan dalam agenda yang lebih besar: menjamin setiap anak memperoleh pendidikan yang layak sekaligus membangun generasi yang memiliki arah hidup dan landasan moral.
Kritik terhadap kebijakan bukanlah penolakan terhadap ikhtiar yang telah dilakukan. Sebaliknya, ini merupakan bentuk kepedulian agar kebijakan publik tidak berhenti pada penyelesaian masalah jangka pendek. Pendidikan membutuhkan visi yang melampaui kebutuhan pasar kerja dan pergantian program.
Sebab, keberhasilan pendidikan sejati bukan hanya melahirkan lulusan yang siap bekerja, melainkan manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, dan mampu memakmurkan kehidupan. Negara perlu hadir bukan sekadar membantu anak tetap bersekolah, tetapi memastikan pendidikan menjadi jalan lahirnya generasi khairu ummah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
