Mengurai Benang Kusut Perundungan Sekolah: Saatnya Membaca Sinyal Sunyi di Ruang Kelas
Eduaksi | 2026-10-09 17:03:50
Mengurai Benang Kusut Perundungan Sekolah: Saatnya Membaca Sinyal Sunyi di Ruang Kelas
Oleh : SUCI NOVITASARI,SALSABILA AS SYIFA,DINA SUSANTI,ANUGRAH SIMPATI
Peristiwa yang terjadi di sebuah sekolah Dasar, pada awal Oktober 2026 menjadi rahasia mendalam bagi dunia pendidikan. Seorang murid kelas III berinisial MH dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis intensif, menyusul dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kakak kelas. Meskipun proses penyelidikan kepolisian dan pemeriksaan forensik masih berjalan untuk memastikan penyebab pasti kematian serta keterkaitannya dengan dugaan kekerasan, kasus ini menjadi peringatan nyata bahwa perundungan di jenjang sekolah dasar bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan ancaman serius terhadap perkembangan fisik, psikologis, dan masa depan anak.
Menelah yang Tampak ( Overt ) dan Menggali Proses Batin ( Covert )
Dalam kajian psikologi pendidikan dan bimbingan konseling, dinamika perundungan dapat dijelaskan melalui perilaku yang tampak secara langsung ( overt behavior ) serta proses internal yang tidak kasat mata ( covert behavior ).
Di permukaan, perilaku terbuka hadir dalam bentuk agresi fisik, interaksi verbal, intimidasi, pengucilan sosial, hingga perubahan pola interaksi korban. Berdasarkan keterangan pihak keluarga, sebelum kondisinya memburuk, korban sempat menunjukkan perubahan perilaku dari sosok yang ceria menjadi lebih pendiam serta mengeluhkan kondisi fisik setelah kejadian.
Namun, bahaya perundungan kerap dibawa ke ranah perilaku terselubung yang tersembunyi. Pada diri pelaku, agresi sering kali dipicu oleh keinginan mencari pengakuan kelompok, dorongan mendapatkan status sosial, atau anggapan keliru bahwa tindakan mengejek adalah bentuk candaan. Sebaliknya, pada diri korban, berkembang kecemasan mendalam ( anxiety ), rasa takut, perasaan tidak aman, dan tekanan batin. Kondisi psikologis internal ini tidak dapat disimpulkan secara tergesa-gesa hanya dari perilaku luar, melainkan memerlukan keinginan terarah melalui wawancara mendalam, laporan diri (self -report ), serta informasi pendukung dari guru dan orang tua.
Jebakan Penguatan dan Bahaya Normalisasi Candaan
Mengapa kekerasan antarmurid sering terjadi? Analisis behavioristik BF Skinner menjelaskan bahwa perilaku agresif anak sangat dipengaruhi oleh konsekuensi yang mengikutinya. Apabila tindakan kekerasan menimbulkan konsekuensi yang menguntungkan bagi pelaku—seperti perhatian teman sebaya, kelompok penerimaan, atau ketiadaan sanksi yang tegas dari pihak sekolah—perilaku tersebut akan mengalami penguatan (reinforcement ) dan cenderung berulang.
Situasi interaksi sosial di lingkungan sekolah sebelum kejadian muncul ( anteseden ) menjadi titik rawan yang harus diamati secara cermat. Kondisi ini kian memburuk ketika lingkungan sosial memakslumi tindakan agresif dengan menganggapan keliru sebagai “hanya candaan anak-anak” atau hubungan senioritas yang wajar. Normalisasi semacam ini menutup sensitivitas terhadap sinyal bahaya dan menghambat intervensi dini sebelum kekerasan bereskalasi.
Perspektif Ekologi: Perundungan Bukan Tanggung Jawab Tunggal
Pendekatan sistem ekologi Urie Bronfenbrenner menegaskan bahwa perilaku anak tidak terbentuk di ruang hampa, melainkan hasil interaksi dinamis berbagai lapisan lingkungan di sekitarnya:
- Mikrosistem ( Microsystem ): Lingkungan interaksi langsung anak, terutama sekolah dasar, hubungan teman sebaya, dan keluarga yang dapat memperkuat atau menekan perilaku agresif.
- Mesosistem ( Mesosystem ): Hubungan antara sekolah dan keluarga memegang peranan krusial. Ketika komunikasi antara guru dan orang tua tersumbat, perubahan perilaku anak yang menjadi murung atau takut berisiko luput dari perhatian.
- Eksosistem ( Exosystem ): Kebijakan sekolah, sistem pengawasan, dan prosedur pelaporan perlindungan anak yang harus benar-benar berjalan efektif. Langkah pemerintah daerah setempat yang merencanakan pembentukan satuan tugas (satgas) penanganan perundungan merupakan contoh intervensi sistemik yang penting.
- Kronosistem ( Chronosystem ): Dimensi waktu menunjukkan bahwa luka perundungan jarang terjadi secara tiba-tiba; Perubahan emosi, kecemasan, dan trauma anak berlangsung secara bertahap dan tuntutan kepekaan pengawasan yang berkelanjutan.
Menata Ulang Layanan BK dan Ekosistem Sekolah yang Aman
Kasus ini menuntut penguatan menyeluruh dalam layanan bimbingan dan konseling (BK) serta budaya perlindungan anak di tingkat sekolah dasar:
- Tingkat Individu: Menyediakan pendampingan konseling ramah anak untuk mendeteksi rasa takut, kecemasan, dan trauma secara dini.
- Tingkat Teman Sebaya: Melatih empati, keterampilan komunikasi asertif, dan keberanian murid untuk melapor ( upstander ) ketika melihat intimidasi.
- Tingkat Kelas: Melaksanakan bimbingan klasikal secara berkala mengenai bahaya perundungan dan membudayakan sikap saling menghargai.
- Tingkat Keluarga dan Sekolah: Meningkatkan komunikasi terbuka dan berkala antara orang tua serta guru dalam memantau perkembangan emosional anak.
- Tingkat Budaya Sekolah: Membangun lingkungan belajar yang inklusif, aman, dan tanpa kompromi terhadap segala bentuk kekerasan fisik maupun verbal.
Menyelamatkan anak-anak dari ancaman perundungan keberanian kolektif untuk menghentikan normalisasi kekerasan, mengenali sinyal kecemasan diam sejak dini, dan memastikan setiap ruang kelas menjadi tempat yang benar-benar aman untuk tumbuh dan belajar.
Penulis : Suci Novitasari,Salsabila As Syifa,Dina Susanti,Anugrah Simpati
Editor: Marta Pujiono
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
