Jangan Cepat Menyebut Anak Malas: Mengenali Penyebab Kesulitan Belajar
Eduaksi | 2026-10-08 18:00:23"Dia itu malas. Disuruh membaca tidak mau, disuruh menulis selalu berantakan.” Kalimat semacam ini akrab terdengar di ruang guru maupun ruang keluarga. Label “malas” terasa praktis karena menjelaskan segalanya dengan satu kata. Namun, bagi anak usia Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Dasar (SD), label itu sering keliru dan berbahaya, sebab ia menutup pintu bagi pencarian penyebab yang sebenarnya.
Dalam kajian pendidikan, kesulitan belajar spesifik seperti disleksia (kesulitan membaca), disgrafia (kesulitan menulis), dan diskalkulia (kesulitan berhitung) diperkirakan dialami sekitar 5–10 persen peserta didik. Anak-anak ini tidak kurang cerdas. Otak mereka memproses informasi dengan cara berbeda. Selain itu, gangguan penglihatan atau pendengaran yang tidak terdeteksi, kurang gizi, kurang tidur, hingga gangguan pemusatan perhatian (ADHD) juga bisa tampak seperti “tidak mau belajar”. Anak yang sebenarnya tidak melihat tulisan di papan tulis tentu tidak bisa disebut enggan mencatat.
Penyebab lain justru datang dari lingkungan sosial. Perundungan (bullying) adalah salah satunya. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 menunjukkan sekitar 41 persen siswa Indonesia melaporkan pernah mengalami perundungan. Anak yang dirundung biasanya sulit berkonsentrasi, takut berangkat ke sekolah, dan prestasinya menurun. Ironisnya, perilaku itu kerap dibaca sebagai kemalasan. Lebih rumit lagi, anak dengan kesulitan belajar justru lebih rentan menjadi sasaran ejekan, sehingga terbentuk lingkaran yang saling memperburuk: sulit belajar, diolok-olok, makin enggan ke sekolah.
Masalah sosial peserta didik juga tidak berhenti di gerbang sekolah. Kemiskinan, orang tua yang bekerja jauh dari rumah, konflik keluarga, pengasuhan yang minim perhatian, serta penggunaan gawai yang berlebihan memengaruhi kesiapan anak belajar. Anak yang berangkat sekolah dengan perut kosong atau hati yang gelisah tidak akan mampu menyerap pelajaran semaksimal anak lain. Kelas bukanlah ruang hampa; setiap anak membawa seluruh kehidupannya ke dalamnya.
Di sinilah pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) menawarkan harapan. Pendekatan ini mengajak anak belajar melalui proyek nyata yang memadukan sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika. Misalnya, siswa membuat penyaring air sederhana dari pasir, kerikil, dan arang, lalu mengukur kejernihannya, menggambar rancangannya, dan melaporkan hasilnya bersama kelompok. Anak yang lemah dalam membaca mungkin cemerlang saat merancang dan merakit. Kerja kelompok juga melatih empati dan kolaborasi, yang menjadi benteng alami melawan perundungan.
Meski demikian, STEAM perlu dilihat secara kritis. Ia bukan obat mujarab. Jika dipahami sebagai perangkat mahal, robot, atau sekadar ajang lomba, STEAM justru melebarkan jurang antara sekolah yang mampu dan yang tidak. Padahal, esensinya adalah cara berpikir: bertanya, mencoba, dan berkarya, yang bisa dilakukan dengan barang bekas dan lingkungan sekitar. Kuncinya terletak pada kesiapan guru, bukan pada kecanggihan alat.
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Pertama, guru dan orang tua perlu mengamati sebelum menghakimi: kapan anak kesulitan, pada tugas apa, dan bagaimana suasana hatinya. Kedua, jika kesulitan menetap, rujuk anak ke psikolog, tenaga kesehatan di puskesmas, atau guru pendamping khusus. Ketiga, sekolah dan madrasah wajib membangun lingkungan aman melalui tim pencegahan dan penanganan kekerasan, sebagaimana diamanatkan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023. Keempat, beri anak ruang menunjukkan kekuatannya melalui pembelajaran yang beragam.
Anak yang tampak malas sering kali sedang meminta tolong dengan cara yang tidak kita pahami. Tugas orang dewasa bukan memberi cap, melainkan mendengar, mencari penyebab, dan membuka jalan agar setiap anak dapat tumbuh sesuai potensinya. Sebelum mengucap “malas”, mari bertanya lebih dulu: apa yang sebenarnya sedang dialami anak ini?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
