Tubuh Versi Terbaru
Humaniora | 2026-10-08 17:00:46
Kita sering mengira modernitas membebaskan tubuh dari tradisi. Dulu tubuh harus mengikuti banyak aturan: kapan rambut dipotong, kapan disunat, bagaimana berpakaian, kapan menikah, bagaimana diperlakukan ketika sakit dan bagaimana dilepaskan ketika mati. Kini tubuh dianggap sebagai milik individu. Kita bebas memilih bentuk, merawat penampilan, mengubah tubuh, bahkan menolak bentuk tubuh yang diwariskan sejak lahir. Seolah-olah modernitas telah membuka kandang tubuh dan membiarkannya menentukan nasibnya sendiri.
Tetapi mungkin yang terjadi justru sebaliknya. Modernitas tidak benar-benar menghapus aturan terhadap tubuh. Ia mengambil alih aturan itu, mengganti bahasanya, lalu membuatnya tampak seperti kebebasan.
Dalam tradisi, tubuh memiliki semacam kalender. Kelahiran tidak berhenti sebagai peristiwa biologis. Bayi diberi nama, rambutnya dipotong, didoakan, dibancaki, dan diperkenalkan kepada lingkungan sosialnya. Ketika memasuki masa tertentu, tubuh kembali diberi tanda melalui sunat. Pernikahan menjadi peralihan lain: tubuh tidak lagi hanya menjadi tubuh seseorang, tetapi memasuki hubungan sosial yang baru. Ketika kematian datang, tubuh kembali melalui ritual sebelum dilepaskan.
Tradisi dengan demikian tidak membiarkan tubuh melewati perubahan sendirian. Setiap perubahan diberi tanda dan makna. Tubuh berpindah dari satu tahap ke tahap berikutnya, dan setiap tahap memiliki upacara yang pada akhirnya selesai.
Modernitas mempertahankan struktur perubahan itu, tetapi mengubah tujuannya. Tubuh tidak lagi harus disucikan pada setiap peralihan; tubuh harus diperbaiki. Ia harus dioptimalkan. Bahkan lebih jauh, ia harus dimaksimalkan.
Di sinilah tubuh mulai diperlakukan seperti teknologi.
Bayi harus mendapatkan nutrisi terbaik agar pertumbuhannya optimal. Anak harus dikembangkan potensinya. Remaja mulai mengenal perawatan kulit, kebugaran, diet, dan pembentukan penampilan. Orang dewasa dituntut menjaga berat badan, massa otot, kesehatan, produktivitas, bahkan kesehatan mental. Ketika usia bertambah, tubuh tidak cukup diterima sebagai tubuh yang menua. Ia harus dirawat agar tetap muda.
Setiap tahap kehidupan berubah menjadi proyek peningkatan.
Tubuh tidak lagi sekadar berpindah dari satu fase ke fase lain. Tubuh harus keluar dari setiap fase sebagai versi yang lebih baik.
Di sinilah modernitas melakukan sesuatu yang sangat halus terhadap tubuh: ia mengganti kesucian dengan optimalisasi.
Dulu tubuh diberkati agar siap memasuki kehidupan. Kini tubuh dipersiapkan agar mampu mencapai performa terbaik. Dulu perubahan tubuh dirayakan melalui ritual. Kini perubahan tubuh dipamerkan melalui foto sebelum dan sesudah. Dulu ada doa yang menandai bahwa sebuah tahap telah selesai. Kini ada angka, ukuran, sertifikat, hasil pemeriksaan, jumlah langkah, massa otot, kadar lemak, atau ukuran lingkar tubuh yang mengatakan bahwa tubuh telah mengalami kemajuan.
Kita memang merasa lebih bebas karena tidak ada lagi satu otoritas yang secara langsung mengatakan seperti apa tubuh kita harus menjadi. Tetapi kebebasan itu segera digantikan oleh ribuan suara yang jauh lebih halus. Iklan mengatakan kita bisa lebih muda. Industri kecantikan mengatakan kulit kita bisa lebih baik. Industri kebugaran mengatakan tubuh kita masih dapat dibentuk. Teknologi mengatakan kemampuan tubuh dapat ditingkatkan. Algoritma menunjukkan tubuh-tubuh lain yang tampak lebih berhasil daripada tubuh kita sendiri.
Kita tidak lagi dipaksa.
Kita dibuat ingin.
Dan keinginan itu kemudian disebut kebebasan.
Tubuh akhirnya masuk ke dalam logika pembaruan. Ia seperti perangkat yang tidak pernah boleh menggunakan versi lama. Ada tubuh sebelum diet dan tubuh sesudah diet. Ada wajah sebelum perawatan dan sesudah perawatan. Ada tubuh sebelum olahraga dan sesudah olahraga. Ada tubuh sebelum operasi dan sesudah operasi. Selalu ada before dan after, seolah kehidupan hanya sah jika menghasilkan perubahan yang dapat diperlihatkan.
Masalahnya, perangkat lunak memiliki versi terakhir. Tubuh tidak.
Karena selalu ada pembaruan berikutnya.
Jika tubuh sudah kurus, masih harus lebih sehat. Jika sudah sehat, masih harus lebih bugar. Jika sudah bugar, masih harus lebih kuat. Jika sudah kuat, masih harus lebih menarik. Jika sudah menarik, masih harus lebih muda. Jika sudah muda, tubuh harus mempertahankan kemudaan itu selama mungkin.
Tidak ada tombol selesai.
Inilah perbedaan penting antara ritual tradisional dan optimalisasi modern. Ritual memiliki akhir. Setelah bancakan selesai, peristiwa itu selesai. Setelah sunat sembuh, tahap itu selesai. Setelah pernikahan berlangsung, seseorang telah melewati ambang yang ditandai. Bahkan kematian memiliki ritual terakhir yang mengakhiri hubungan tubuh dengan dunia orang hidup.
Optimalisasi tidak mengenal akhir. Ia hanya mengenal target berikutnya.
Karena itu, tubuh modern tidak pernah benar-benar selesai menjadi dirinya sendiri.
Ia selalu sedang dikerjakan.
Ia harus diperiksa, dirawat, dibentuk, diperbaiki, ditingkatkan, dipertahankan, dan diperbarui. Bahkan ketika tubuh tidak bermasalah, kita didorong untuk mencari kemungkinan masalah berikutnya. Bahkan ketika tubuh sudah sehat, kita ditawari cara menjadi lebih sehat. Bahkan ketika tubuh sudah tampak baik, kita diperlihatkan tubuh lain yang dianggap lebih baik.
Tubuh akhirnya tidak hanya menjadi tempat kita hidup. Ia menjadi proyek yang harus kita pertanggungjawabkan.
Jika tubuh gemuk, kita dianggap kurang disiplin. Jika tubuh menua, kita dianggap kurang merawat diri. Jika wajah berubah, kita dianggap membiarkan diri. Jika tubuh tidak produktif, kita merasa bersalah. Perlahan-lahan kegagalan tubuh berubah menjadi kegagalan pribadi.
Di sinilah bahasa kebebasan menjadi sangat licin. Kita memang bebas memilih apa yang ingin dilakukan terhadap tubuh. Tetapi setelah pilihan itu tersedia, muncul tuntutan moral baru: mengapa tidak memilih yang terbaik?
Kalau teknologi dapat membuat tubuh lebih muda, mengapa membiarkannya tua? Kalau diet dapat membuat tubuh lebih ramping, mengapa membiarkannya gemuk? Kalau operasi dapat mengubah bentuk wajah, mengapa menerimanya apa adanya? Kalau olahraga dapat membuat tubuh lebih kuat, mengapa membiarkannya lemah?
Kebebasan akhirnya berubah menjadi kewajiban untuk mengoptimalkan diri.
Tubuh bukan lagi dipaksa menjadi sesuatu oleh tradisi, tetapi dibujuk untuk terus menjadi sesuatu oleh modernitas.
Karena itu, mungkin modernitas tidak menghancurkan ritual tubuh. Ia merebutnya.
Ia mengambil struktur lama tentang kelahiran, pertumbuhan, kedewasaan, perubahan, dan kematian, kemudian menggantikan bahasa kesucian dengan bahasa peningkatan. Yang dulu disebut diberkati kini disebut dirawat. Yang dulu disucikan kini di-upgrade. Yang dulu dirayakan sebagai tahap kehidupan kini diukur sebagai pencapaian.
Tubuh yang dahulu memiliki perjalanan kini memiliki target.
Tubuh yang dahulu memiliki usia kini memiliki versi.
Dan versi terbaru selalu menunggu di depan.
Mungkin karena itu tubuh yang menua, mengendur, berkeriput, gemuk, lelah, sakit, atau tidak produktif menjadi begitu mengganggu kebudayaan modern. Tubuh-tubuh tersebut tidak selalu gagal secara biologis. Mereka hanya tidak cocok dengan gagasan bahwa segala sesuatu harus terus meningkat.
Tubuh yang mengendur mengingatkan bahwa waktu tidak selalu menghasilkan peningkatan. Tubuh yang menua mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu berarti kemajuan. Tubuh yang lelah mengingatkan bahwa manusia memiliki batas. Tubuh yang tidak sempurna mengingatkan bahwa kehidupan bukan aplikasi yang dapat diperbarui setiap kali muncul versi baru.
Maka mungkin bentuk pembangkangan tubuh yang paling sederhana bukanlah melakukan sesuatu yang spektakuler. Cukup dengan tidak mau diperbarui.
Membiarkan keriput datang. Membiarkan rambut memutih. Membiarkan tubuh berubah karena usia. Mengakui kelelahan tanpa merasa gagal. Menerima bahwa tubuh tidak selalu produktif. Menolak anggapan bahwa setiap kekurangan harus segera diperbaiki.
Ini bukan ajakan untuk menolak kesehatan atau perawatan. Persoalannya lebih mendasar: mengapa tubuh harus selalu menjadi lebih baik agar dianggap layak?
Barangkali kita membutuhkan kembali satu kata yang hampir hilang dari kamus modernitas: cukup.
Tradisi mungkin terlalu banyak mengatur tubuh. Modernitas mungkin terlalu banyak mengoptimalkan tubuh. Yang satu mengatakan tubuh harus mengikuti tatanan; yang lain mengatakan tubuh harus terus meningkatkan dirinya.
Di antara keduanya mungkin terdapat kebebasan yang lebih radikal: hak tubuh untuk berhenti menjadi proyek.
Sebab tubuh bukan telepon genggam yang harus selalu menggunakan perangkat lunak terbaru. Tubuh memiliki waktu, luka, kelelahan, kesalahan, keriput, dan kematian. Semua itu bukan bug yang harus diperbaiki.
Tubuh bukan versi lama. Tubuh hanya sedang menjadi tubuh.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, tubuh perlu diberi kesempatan untuk mengatakan kepada peradaban: tidak semua yang berubah harus dioptimalkan, dan tidak semua yang tua harus diperbarui.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
